Buku filsafat, teori politik, hingga karya sastra klasik sering dianggap sebagai bacaan orang berwawasan luas. Di media sosial, membaca buku-buku semacam ini bahkan bisa membuat seseorang mendapat kesan cerdas dan intelektual. Akibatnya, ada orang yang merasa perlu membaca buku berat agar tidak dianggap kurang pintar, meskipun topiknya belum tentu menarik bagi mereka.
Kenapa Ada Orang yang Merasa Harus Membaca Buku-buku Berat?

- Sebagian orang membaca buku berat demi membangun citra cerdas, mendapat pengakuan, atau mengikuti diskusi lingkungan yang menganggap bacaan tersebut sebagai tanda wawasan.
- Tekanan agar tidak tertinggal, anggapan buku sulit lebih berkualitas, serta tuntutan pengembangan diri dapat membuat membaca terasa sebagai kewajiban, bukan kegiatan yang dinikmati.
- Pilihan bacaan juga dipakai untuk tampil berbeda atau unggul, padahal jenis buku tidak menentukan kecerdasan; bacaan sebaiknya disesuaikan dengan rasa ingin tahu dan kesiapan.
Kebiasaan ini bisa muncul karena berbagai alasan, mulai dari keinginan mendapat pengakuan hingga tekanan untuk terus mengembangkan diri. Namun, kenapa seseorang bisa merasa bacaan tertentu lebih pantas dibaca daripada buku yang lebih ringan? Berikut lima hal yang bisa menjelaskannya.
1. Ingin dianggap pintar oleh orang lain

ilustrasi membaca buku (unsplash.com/iAm Evolving) Bagi sebagian orang, pilihan bacaan ikut membentuk kesan yang ingin mereka tampilkan. Membawa buku filsafat atau membicarakan pemikiran tokoh terkenal, misalnya, bisa membuat seseorang terlihat berwawasan luas di mata orang lain. Tanpa disadari, buku yang dibaca pun menjadi bagian dari citra diri yang ingin dibangun.
Keinginan ini makin terasa ketika lingkungan pertemanannya menganggap buku-buku berat sebagai tanda kecerdasan. Seseorang mungkin merasa perlu mengikuti bacaan yang sama agar bisa ikut berdiskusi dan tidak dianggap kurang berpengetahuan. Akibatnya, ia memilih buku berdasarkan kesan yang akan didapat, bukan karena benar-benar ingin memahami isinya.
2. Takut dianggap kurang berwawasan

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Cats Coming) Di lingkungan yang gemar membahas buku, seseorang bisa merasa tertinggal ketika tidak mengenal karya atau pemikiran tertentu. Apalagi, jika percakapan sering dipenuhi istilah akademis, teori sosial, atau nama penulis yang belum pernah ia baca. Situasi ini dapat membuatnya merasa harus mengejar bacaan yang dianggap penting agar tidak kesulitan mengikuti pembicaraan.
Perasaan tersebut bisa mendorong seseorang memaksakan diri membaca buku yang sebenarnya belum sesuai dengan minat atau kemampuannya saat itu. Ia mungkin terus membuka halaman demi halaman tanpa benar-benar memahami pembahasannya karena malu mengakui bahwa buku itu sulit dipahami. Padahal, belum membaca karya tertentu bukan berarti seseorang tidak punya wawasan. Setiap orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, sehingga tidak mungkin semua orang menguasai topik yang sama.
3. Menganggap buku sulit lebih berkualitas

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Đan) Ada anggapan bahwa semakin sulit sebuah buku dipahami, semakin tinggi pula kualitasnya. Buku dengan istilah rumit, pembahasan abstrak, atau argumen panjang kerap dianggap lebih berbobot daripada bacaan yang menggunakan bahasa sederhana. Cara pandang ini bisa membuat seseorang mengukur kualitas buku dari tingkat kesulitannya, bukan dari isi dan manfaat yang diperoleh.
Padahal, buku yang bagus tidak harus membuat pembacanya kesulitan. Buku populer tentang sains, sejarah, atau ekonomi bisa menjelaskan persoalan rumit dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman materi. Sebaliknya, membaca buku yang sulit belum tentu membuat seseorang lebih paham jika ia hanya menghafal istilah tanpa mengerti gagasan di baliknya. Tingkat kesulitan bacaan bukan ukuran mutlak kualitas maupun kecerdasan pembacanya.
4. Terjebak dalam tuntutan untuk terus mengembangkan diri

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Sam Lion) Saat ini, membaca sering dikaitkan dengan produktivitas dan pengembangan diri. Seseorang bisa merasa harus terus mempelajari sesuatu, menambah wawasan, dan meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal dari orang lain. Dalam pola pikir seperti ini, membaca buku ringan untuk hiburan terkadang dianggap kurang bermanfaat dibandingkan membaca buku yang membahas teori atau persoalan serius.
Akibatnya, membaca yang seharusnya bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan justru terasa seperti kewajiban. Seseorang mungkin memilih buku yang dianggap berguna meskipun tidak menikmatinya, lalu merasa bersalah ketika ingin membaca novel populer atau komik. Padahal, membaca untuk bersantai juga punya tempat tersendiri. Tidak setiap kegiatan harus menghasilkan keterampilan baru atau membuat seseorang lebih produktif agar layak dilakukan.
5. Ingin merasa lebih unggul dari orang lain

ilustrasi membaca buku (pexels.com/RDNE Stock project) Pilihan bacaan juga bisa menjadi cara seseorang membedakan dirinya dari orang lain. Ketika banyak orang membaca novel populer, misalnya, ia mungkin sengaja memilih karya yang lebih sulit dikenal agar merasa memiliki selera dan pengetahuan yang berbeda. Buku berat kemudian menjadi semacam penanda bahwa dirinya tidak mengikuti arus atau memiliki pemikiran yang lebih mendalam.
Keinginan untuk tampil berbeda sebenarnya tidak selalu bermasalah. Namun, hal ini bisa menjadi persoalan jika seseorang mulai meremehkan orang yang membaca buku ringan atau menganggap seleranya sendiri paling baik. Padahal, orang yang membaca novel populer bisa saja memiliki pemahaman mendalam tentang karakter dan kehidupan, sementara pembaca buku filsafat belum tentu mampu menerapkan gagasan yang dipelajarinya. Jenis buku yang disukai tidak otomatis menentukan kualitas pemikiran seseorang.
Kamu tidak perlu memaksakan diri membaca buku tertentu hanya agar dianggap cerdas. Pilihlah bacaan yang sesuai dengan rasa ingin tahu, lalu tantang diri untuk mempelajari topik yang lebih rumit ketika sudah siap. Sebab, tujuan membaca bukan membuktikan bahwa kamu mampu menamatkan buku yang sulit, melainkan memahami sesuatu yang sebelumnya belum kamu ketahui.























