Kuliah Beneran Jadi Scam kalau Kamu Termasuk 5 Tipe Mahasiswa Ini

- Mahasiswa yang hadir fisik tapi pikiran melayang
- Mahasiswa yang hanya fokus pada IPK tanpa membangun skill lain
- Mahasiswa yang pasif dan hanya menunggu dosen serta kurikulum
Akhir-akhir ini, narasi “kuliah itu scam” makin sering berseliweran di media sosial. Narasi tersebut awal mulanya timbul karena video Tiktok milik akun @Yuka_san__ yang diuggah pada 1 Juni 2025. Video tersebut menampilkan perbincangan dua orang yang sedang membahas dunia perkuliahan yang bertepatan dengan momen pengumuman kelulusan perguruan tinggi negeri. Namun, kontroversial muncul ketika kuliah disebut sebagai “scam”.
Tapi, benarkah kuliah memang penipuan? Ada yang bilang gelar gak menjamin kerja, ada pula yang merasa empat tahun kuliah cuma habis buat tugas dan absen.
Jawabannya gak sesederhana itu. Kuliah bisa terasa seperti scam bukan karena pendidikannya salah, tapi karena cara kita menjalaninya keliru. Tanpa disadari, ada tipe-tipe mahasiswa yang justru “menipu dirinya sendiri” selama di bangku kuliah.
Berikut ini lima tipe mahasiswa yang bikin kuliah terasa seperti scam. Kalau kamu termasuk salah satunya, wajar kalau kuliah terasa sia-sia.
1. Mahasiswa yang datang ke Kelas, tapi gak pernah benar-benar hadir

Secara fisik mahasiswa ini duduk rapi di bangku kelas, tapi pikirannya entah melayang ke mana. Slide presentasi dosen berganti, suara penjelasan terus mengalir, tapi yang benar-benar tertangkap cuma potongan-potongan kecil. Materi masuk telinga kiri, keluar telinga kanan, lalu hilang tanpa bekas.
Catatan memang ada. Buku tulis terisi, file PDF tersimpan rapi di laptop. Tapi setelah kelas selesai, semuanya berhenti di situ. Catatan gak pernah dibuka lagi, materi cuma jadi arsip. Tugas pun dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, yang penting dikumpulkan sebelum deadline, tanpa benar-benar paham materinya.
Tipe mahasiswa seperti ini pada akhirnya mudah sekali menyimpulkan kalau kuliah gak ngasih apa-apa. Ilmunya terasa abstrak, gak relevan, dan jauh dari realitas hidup. Padahal, yang sebenarnya terjadi bukan kampus yang kosong, melainkan keterlibatan yang minim.
Realitanya, dalam sistem pendidikan tinggi, kampus sudah menyediakan banyak hal mulai dari ruang diskusi, akses jurnal, dosen sebagai sumber ilmu, hingga kesempatan bertanya dan berdebat. Namun semua itu kehilangan makna ketika mahasiswa memilih pasif dan menjalani kuliah dengan setengah hati.
Kuliah akhirnya terasa seperti formalitas belaka. Datang, absen, pulang. Dari rutinitas kosong inilah narasi “kuliah itu scam” tumbuh pelan-pelan. Bukan karena ilmunya tidak ada, melainkan karena proses belajarnya tak pernah benar-benar dijalani.
2. Mahasiswa yang menganggap IPK segalanya, tapi gak bangun skill apa-apa

Tipe mahasiswa yang ini biasanya menganggap kuliah cuma soal ruang kelas, tugas, dan ujian. Fokus utamanya cuma satu, nilai harus bagus, IPK sempurna. Di luar itu, dianggap sebagai gangguan. Organisasi dinilai buang waktu dan kegiatan kampus lain cuma dilihat sebagai pelengkap yang gak penting.
Padahal, kampus bukan cuma tempat mengumpulkan angka. Tetapi juga menyediakan ruang untuk bertumbuh melalui berbagai aktivitas nonakademik seperti organisasi mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa (UKM), kepanitiaan, lomba, exchange program, sampai magang. Semua itu bukan sekadar kegiatan tambahan, tapi bagian dari proses belajar yang sering kali gak didapat di ruang kelas.
Ketika mahasiswa hanya mengejar nilai sempurna, ada banyak hal yang terlewat. Kemampuan komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, manajemen waktu, hingga keberanian mengambil keputusan justru tumbuh dari pengalaman berorganisasi dan terjun langsung ke lapangan. Skill seperti ini jarang diajarkan lewat slide presentasi atau ujian tertulis.
Masalahnya, realitas dunia kerja gak cuma menilai transkrip nilai. Pengalaman, portofolio, dan kemampuan beradaptasi sering kali jauh lebih menentukan. IPK tinggi memang penting, tapi tanpa skill yang dibangun selama kuliah, angka itu mudah kehilangan maknanya. Mata kuliah dijalani sebagai rintangan yang harus dilewati, bukan ruang untuk memahami dan bertumbuh. Setelah ujian selesai, materi ikut dilupakan, seolah gak pernah ada.
Pola ini bikin kuliah terasa transaksional. Datang ke kelas demi nilai, mengerjakan tugas demi angka, lulus demi ijazah. Ketika lulus nanti, banyak yang kaget karena merasa “kosong”, bingung harus berbuat apa, dan akhirnya menyalahkan kampus.
3. Mahasiswa yang cuma nunggu dosen dan kurikulum

Di era informasi terbuka, kampus bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Jurnal ilmiah bisa diakses bebas, kelas daring tersedia di berbagai platform, dan diskusi intelektual hidup di ruang digital. Namun, masih banyak mahasiswa yang memilih menjadi pasif. Menunggu dosen menjelaskan, menunggu tugas dibagikan, dan menunggu arahan tanpa pernah berinisiatif.
Padahal, mahasiswa justru dituntut untuk proaktif. Banyak hal penting yang gak selalu diajarkan di ruang kelas seperti kemampuan riset mandiri, berpikir kritis, menulis argumentatif, hingga membaca fenomena sosial. Semua itu bisa diasah lewat membaca di luar silabus, mengikuti diskusi publik, seminar, lomba, atau bahkan belajar otodidak dari pengalaman sehari-hari.
Ketika kurikulum terasa ketinggalan zaman, kampus sering jadi kambing hitam. Tapi jarang yang bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh apa usaha mencari pengetahuan di luar kelas? Kuliah sejatinya bukan proses disuapi, melainkan latihan membangun rasa ingin tahu dan tanggung jawab intelektual.
Dosen memberi kerangka, kampus menyediakan ruang, tapi mahasiswa yang menentukan arah. Kalau kamu menunggu sistem sempurna baru mau bergerak, kuliah memang akan terasa menipu. Bukan karena ilmunya palsu, melainkan karena potensimu dibiarkan menganggur.
4. Kuliah tanpa tujuan, cuma ikut arus

Banyak mahasiswa masuk kuliah tanpa benar-benar tahu ingin jadi apa. Jurusan dipilih karena ikut teman, dorongan orang tua, atau sekadar yang penting kuliah dulu. Akhirnya, hari-hari di kampus dijalani seadanya, tanpa arah yang jelas.
Ketika gak punya tujuan, semua terasa melelahkan. Mata kuliah dianggap beban, tugas dipandang sebagai gangguan, dan proses belajar terasa hambar. Bukan karena kuliahnya gak penting, tapi karena gak ada makna personal di baliknya.
Padahal, tujuan kuliah gak selalu harus besar atau final. Cukup tahu apa yang ingin dipelajari, skill apa yang mau diasah, atau pengalaman apa yang ingin dikumpulkan selama di kampus. Dari situ, kuliah bisa jadi ruang eksplorasi, bukan sekadar rutinitas.
Kuliah terasa scam ketika kamu menjalaninya tanpa arah. Saat hanya ikut arus, wajar kalau bertahun-tahun berlalu tapi gak ada rasa berkembang.
5. Mahasiswa yang mengira kuliah adalah jalan pintas kesuksesan

Masih banyak mahasiswa yang masuk kampus dengan ekspektasi lulus, dapat gelar, lalu otomatis dapat pekerjaan layak dan hidup mapan. Ketika realitas berkata lain, susah cari kerja, gaji tak sesuai bayangan, atau harus mulai dari posisi bawah, rasa kecewa pun muncul. Dari sinilah narasi “kuliah itu scam” sering bermula.
Padahal, kuliah sejak awal memang bukan mesin instan pencetak kesuksesan. Kuliah lebih tepat disebut ruang latihan, bagaimana melatih cara berpikir kritis, membangun jaringan pertemanan dan profesional, serta menempa disiplin dan daya juang. Gelar hanyalah alat, bukan tujuan akhir.
Hasil kuliah sangat ditentukan oleh cara mahasiswa menjalani prosesnya. Aktif atau pasif, berkembang atau stagnan, semua kembali pada pilihan pribadi. Kalau sejak awal kuliah diposisikan sebagai jaminan, bukan perjalanan, rasa tertipu hampir pasti datang.
Kuliah memang bukan jaminan kesuksesan. Tapi tidak kuliah pun bukan jaminan kegagalan. Menjadi mahasiswa adalah privilese, terutama di Indonesia, di mana akses pendidikan tinggi masih terbatas bagi banyak orang.
Kuliah berubah menjadi scam ketika ia dijalani tanpa kesadaran, tanpa strategi, dan tanpa keberanian bertumbuh di luar ruang kelas. Bukan soal kampus negeri atau swasta, bukan soal akreditasi semata. Pada akhirnya, nilai kuliah ditentukan oleh seberapa aktif kamu membentuk dirimu sendiri selama proses itu.


















