7 Tips Menerapkan Sustainable Living selama Ramadan, No Plastik

- Artikel menyoroti pentingnya menerapkan gaya hidup berkelanjutan selama Ramadan, dengan fokus pada pengendalian konsumsi, pengurangan sampah plastik, dan kesadaran terhadap dampak lingkungan dari aktivitas harian.
- Ditekankan berbagai langkah praktis seperti membawa wadah sendiri saat berburu takjil, mengelola sampah organik menjadi kompos, serta memilih bahan makanan lokal dan musiman untuk menekan jejak karbon.
- Ramadan diajak dimaknai sebagai momentum spiritual sekaligus ekologis melalui kebiasaan hemat energi dan sedekah lingkungan yang memberi manfaat jangka panjang bagi bumi.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Melainkan juga momen berefleksi atas cara hidup yang kita Jalani sehari-hari. Mulai dari belanja bahan makanan. Kemasan takjil, hingga perlengkapan ibadah.
Ironisnya, praktik Ramadan di era modern sering diiringi dengan lonjakan sampah makanan dan plastik sekali pakai. Tren war takjil, hampers, serta budaya konsumtif yang meningkat sering kali menjauhkan individu dari gaya hidup berkelanjutan. Berikut beberapa cara supaya kamu tetap bisa mempertahankan gaya hidup sustainable di tengah kebutuhan Ramadan yang meningkat.
1. Tahan lapar mata saat berburu takjil

Secara biologis, saat perut kosong seharian, otak cenderung mengirimkan sinyal lapar yang sangat kuat sehingga semua makanan terlihat sangat menggiurkan. Namun, lambung belum tentu bisa menerima dan memproses banyak makanan.
Selain itu, limbah makanan jadi salah satu masalah yang meningkat drastis selama Ramadan. Karena permintaan pada makanan yang tinggi. Akibatnya, makanan yang terbuang akan membusuk di TPA dan menghasilkan gas metana.
Oleh sebab itu, jangan jadikan berburu takjil sebagai momen balas dendam yang malah berkontribusi pada peningkatan sampah. Latihlah dirimu untuk mengendalikan diri dengan gak memborong makanan secara impulsif ketika berburu takjil.
2. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai

Berburu takjil identik dengan bungkus plastik sekali pakai yang dianggap lebih praktis. Padahal, satu bungkus plastik yang dibeli setiap hari bisa menyumbang sampah. Dengan sedikit persiapan, kamu bisa mengurangi jejak karbon dengan mengurangi bahkan stop menggunakan plastik sekali pakai.
Saat keluar berburu takjil, bawalah wadah, tas, atau botol tumbler untuk tempat makanan. Berikan wadahmu ke penjual sebelum mereka sempat mengambil plastik untuk membungkus makanan. Jika satu orang mengurangi dua kantong plastik setiap hari selama Ramadan, berarti orang tersebut sudah menyelamatkan bumi dari 60 lembar sampah plastik. Bagaimana jika semua orang melakukannya? Tentu dampaknya akan lebih besar.
3. Habiskan makanan di piringmu

Menghabiskan makanan di piring bukan hanya soal menghargai yang memasak. Namun, punya dampak besar terutama di bulan Ramada di mana volume sampah cenderung meningkat. Karena jika kita gak menghabiskan makanan yang ada di piring, makanan tersebut hanya akan menumpuk di TPA dan menyumbang jejak karbon.
Tips untuk menghabiskan makanan di piringmu adalah gunakan piring kecil. Karena secara psikologis, piring yang penuh meskipun porsinya kecil akan terlihat lebih memuaskan mata. Lalu, ambil sedikit dulu, dan nanti kamu bisa menambah bila merasa kurang. Berhentilah makan sebelum merasa sangat kenyang agar gak ada sisa makanan yang dipaksakan.
4. Kelola sampah organik

Mengelola sampah organik bukan hanya tentang mengubah sisa makanan di piring jadi pupuk kompos. Karena selama Ramadan ada sampah makanan yang dihasilkan dari bonggol akar, kulit buah, sisa potongan sayur. Benda-benda itu juga disebut dengan sisa makanan, tetapi gak bisa dimakan.
Oleh karena itu, solusinya adalah dengan mengomposnya dan menjadikannya tanah yang bermanfaat untuk pertanian. Sediakan wadah khusus atau komposter untuk membuang sisa makanan. Lalu, campurkan dengan sampah kering. Dalam 1-2 bulan, kamu akan punya pupuk organik.
5. Hemat energi selama Ramadan

Hemat energi selama Ramadan bukan hanya masalah menekan tagihan listrik, tapi juga menyelaraskan ibadah dengan pelestarian alam. Mengingat aktivitas kita berpindah ke jam-jam yang gak biasa, seperti sahur di waktu dini hari. Saat sahur dan berbuka, jutaan orang menyalakan lampu, pompa air, dan peralatan masak secara bersamaan. Hal ini memberikan beban berat pada jaringan listrik nasional.
Cara untuk menghemat energi bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti mematikan lampu saat berangkat Tarawih. Mengganti lampu konvensional ke lampu LED. Gunakan air dalam aliran sedang saat berwudu, agar gak membuang-buang air. Atau tampung air saat berwudu, dan gunakan air bekas wudu tersebut untuk mencuci motor atau menyiram tanaman.
6. Pilih bahan lokal dan musiman

Memilih bahan lokal dan musiman adalah langkah konkret menerapkan gaya hidup yang berkelanjutan selama Bulan Ramadan. Memilih bahan lokal dan musiman dapat mengurangi jejak karbon dari transportasi yang dihasilkan dari pendistribusian makanan. Karena bahan-bahan impor cenderung melalui rute yang panjang untuk dapat sampai ke tangan konsumen.
Contoh untuk mendapatkan bahan lokal dan musiman adalah pergi ke pasar tradisional. Karena biasanya penjual di pasar tradisional menyetok langsung dari petani-petani lokal. Jangan lupa untuk mengenali kalender buah lokal untuk mencari tahu buah-buahan apa saja yang sedang musimnya panen.
7. Jadikan sedekah sebagai aksi lingkungan

Sedekah gak hanya bisa dilakukan ke sesama manusia saja. Namun, juga bisa dilakukan terhadap alam dan lingkungan hidup. Jadikan Ramadan sebagai momentum sedekah sebagai aksi lingkungan.
Praktiknya bisa beragam, misalnya penanaman pohon, membuat bank sampah, atau membantu pengadaan tempat memilah sampah. Sedekah macam ini bisa bersifat jangka panjang, karena manfaatnya terus mengalir. Dan bisa disebut sebagai sedekah jariyah.
Menerapkan sustainable living selama Ramadan adalah upaya untuk menggabungkan praktik spiritual dengan tanggung jawab ekologis. Puasa mengajarkan pengendalian diri, sedangkan sustainable living mengajarkan untuk gak konsumtif berlebihan. Keduanya punya nilai yang sama, hidup secukupnya, penuh makna, dan gak merigukan lingkungan.


















