Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Halo, para generasi pencinta budaya pop! Kami dari Tim Six Culture - SMKN 1 Kabupaten Tangerang hadir untuk mengajak kalian menyelami fenomena Y2K, tren yang mempertemukan inspirasi masa lalu dengan kreativitas generasi masa kini. Dengan ini kami mempersembahkan melalui karya mading K.E.T.U.A (Kekinian Merangkai Trend Membentuk Identitas) yang mengangkat bagaimana fashion, musik, desain, dan perkembangan teknologi dari akhir 1990-an hingga awal 2000-an kembali mendapatkan tempat di tengah kehidupan remaja era digital.

Y2K bukan sekadar tentang gaya berpakaian yang kembali populer. Di baliknya, terdapat nostalgia, pengaruh media sosial, dan cara generasi muda mengekspresikan identitas diri. Tren ini menunjukkan bahwa anak muda tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga mampu menghidupkan kembali inspirasi lama dengan sentuhan yang baru.

Yuk, jelajahi kisah di balik tren Y2K bersama kami! Sebab, terkadang sesuatu yang terlihat baru hari ini ternyata menyimpan cerita dari masa lalu.

Tim redaksi kami terdiri dari:

Guru pendamping: Endang Rohayati, M.Pd

Ketua : Muh Seven Pamungkas

Anggota : Zaskia Ainun Nisa, Naomi Rahmawati, Bayu Adam Maulana, Muhamad Dafa Alviansyah, Daffa Altaf Widiyono.

Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.

Esai

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Teman-teman, pernahkah kalian melihat seseorang memakai celana low-rise, atasan baby tee, jepit rambut kupu-kupu, dan tas bahu kecil di TikTok atau Instagram? Sekilas, gaya itu mungkin terlihat seperti tren baru. Padahal, jika diperhatikan, penampilan tersebut mengingatkan kita pada awal tahun 2000-an. Menariknya, gaya yang pernah populer puluhan tahun lalu kini kembali digemari anak muda, termasuk mereka yang tidak mengalami langsung masa kejayaannya. Fenomena ini dikenal sebagai tren Y2K. Lantas, mengapa gaya dari masa lalu bisa kembali populer di tengah kehidupan yang semakin modern?

Y2K merupakan singkatan dari the year 2000 atau tahun 2000. Istilah ini awalnya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap sistem komputer saat tahun berganti dari 1999 menjadi 2000. Seiring waktu, Y2K juga digunakan untuk menggambarkan gaya fesyen, musik, teknologi, dan desain pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Gaya tersebut identik dengan warna cerah, bahan mengilap, bentuk futuristik, dan aksesori mencolok. Penampilannya menggambarkan ketertarikan masyarakat pada masa itu terhadap teknologi serta harapan mereka akan kehidupan di masa depan.

Dalam dunia fesyen, Y2K mudah dikenali melalui celana low-rise, baby tee, crop top, motif animal print, velour tracksuit, sepatu platform, denim, dan tas bahu kecil. Kini, berbagai unsur tersebut kembali terlihat di media sosial. Meski begitu, anak muda tidak selalu meniru gaya lama secara utuh. Mereka bisa memadukannya dengan jaket oversized, sepatu modern, atau aksesori sederhana. Hasilnya, gaya Y2K tetap memiliki ciri khas, tetapi terasa lebih sesuai dengan selera generasi sekarang.

Kembalinya Y2K memperlihatkan bahwa tren fesyen tidak selalu menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru. Gaya lama bisa kembali diminati ketika generasi berikutnya menemukan daya tarik yang berbeda di dalamnya. Bagi orang yang mengalami era 2000-an, Y2K mungkin mengingatkan mereka pada musik, film, atau kenangan masa muda. Sementara itu, sebagian Generasi Z mengenal masa tersebut melalui foto, video musik, film, dan unggahan di internet. Mereka bisa tertarik pada suatu zaman meskipun tidak pernah mengalaminya secara langsung. Artinya, ketertarikan terhadap masa lalu tidak harus berasal dari kenangan pribadi. Foto, musik, dan film juga dapat menumbuhkan rasa penasaran terhadap kehidupan pada masa itu.

Gambaran tersebut sejalan dengan penelitian Min, Lee, dan Chun (2023) berjudul Evolution of Y2K Fashion Trends across Generations, yang diterbitkan dalam Journal of Fashion Design. Para peneliti membandingkan foto fesyen dari majalah periode 1999–2004 dengan foto fesyen yang diunggah di Instagram pada 2020–2022. Hasilnya menunjukkan bahwa Y2K modern masih mengambil inspirasi dari gaya masa lalu, tetapi menghadirkan interpretasi yang lebih beragam sesuai dengan perkembangan zaman. Jadi, gaya Y2K yang populer sekarang tidak sepenuhnya sama dengan gaya awal 2000-an. Anak muda memilih unsur yang mereka sukai, lalu memadukannya dengan gaya berpakaian mereka sendiri.

Media sosial turut membuat tren ini semakin mudah ditemukan. Melalui TikTok, Instagram, dan Pinterest, anak muda dapat melihat inspirasi busana, tata rias, gaya rambut, hingga dekorasi bernuansa awal 2000-an. Penampilan selebritas, potongan film, dan foto lama juga menjadi referensi untuk menciptakan gaya baru. Namun, media sosial bukan satu-satunya alasan Y2K kembali populer. Nostalgia, hiburan, kreativitas, dan perubahan selera ikut berperan. Platform digital menjadi tempat tren menyebar sekaligus ruang bagi anak muda untuk menunjukkan hal-hal yang mereka sukai.

Lalu, apakah sering melihat tren fesyen di media sosial otomatis membuat anak muda konsumtif? Fahmia dan Luqman (2024), dalam artikel yang diterbitkan di Interaksi Online, meneliti hubungan antara intensitas mengakses konten tren fesyen di TikTok dan perilaku konsumsi Generasi Z. Penelitian terhadap 60 responden tersebut tidak menemukan pengaruh yang signifikan antara intensitas mengakses konten dan perilaku konsumsi. Artinya, sering melihat tren fesyen di TikTok belum tentu membuat seseorang ingin terus membeli pakaian. Keputusan berbelanja juga berkaitan dengan kebutuhan, kondisi ekonomi, dan selera pribadi. Karena jumlah respondennya terbatas, hasil tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk menggambarkan seluruh anak muda Indonesia. Meski begitu, temuan ini mengingatkan kita agar tidak langsung menganggap media sosial sebagai penyebab utama perilaku konsumtif.

Selain mengikuti tren, sebagian anak muda juga mulai mempertimbangkan dampak lingkungan dan keinginan untuk memiliki pakaian yang berbeda dari orang lain. Julia, Zunaedi, dan Putra (2024) meneliti niat membeli pakaian bekas melalui media sosial dengan melibatkan 200 responden Generasi Z di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan, keinginan memiliki barang yang unik, dan kesadaran merek berkaitan dengan niat membeli pakaian bekas. Walaupun penelitian tersebut tidak secara khusus membahas Y2K, hasilnya dapat membantu menjelaskan mengapa pakaian bekas menarik bagi sebagian anak muda. Dalam tren Y2K, pakaian bekas bisa menjadi pilihan untuk menemukan model yang khas dan berbeda. Namun, keputusan membeli tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan, kondisi barang, dan kemampuan keuangan.

Pembahasan pakaian bekas juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 47 Tahun 2025 tentang Barang yang Dilarang untuk Diimpor mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Peraturan ini mencantumkan pakaian bekas sebagai barang yang dilarang diimpor. Kebijakan tersebut perlu dipahami sesuai konteksnya, yaitu pengaturan impor, bukan larangan terhadap tren fesyen Y2K itu sendiri. Kebangkitan gaya Y2K juga tidak bisa dijadikan bukti bahwa tren ini menyebabkan perdagangan pakaian bekas ilegal. Di sisi lain, popularitasnya dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menawarkan aksesori buatan sendiri, pakaian hasil desain ulang, atau produk yang terinspirasi gaya awal 2000-an.

Meski menarik untuk diikuti, tren fesyen yang terus berganti tetap perlu disikapi dengan bijak. Ketika gaya tertentu sering muncul di media sosial, sebagian orang mungkin merasa perlu membeli barang baru agar tidak ketinggalan. Jika tidak mempertimbangkan kebutuhan, kebiasaan tersebut dapat mendorong konsumsi berlebihan. Padahal, mengikuti Y2K tidak harus berarti membeli banyak pakaian. Kita bisa memadukan baju yang sudah dimiliki, memperbaiki pakaian lama, atau memilih produk lokal sesuai kebutuhan. Memanfaatkan barang yang ada juga memberi kesempatan untuk bereksperimen dan menciptakan gaya yang berbeda tanpa harus selalu mengikuti setiap tren.

Pada akhirnya, kebangkitan Y2K memperlihatkan bagaimana budaya masa lalu bisa hadir kembali dengan makna baru. Bagi sebagian orang, gaya ini membawa kenangan, sedangkan bagi yang lain, Y2K menjadi kesempatan untuk bereksperimen dan menunjukkan kepribadian. Fenomena tersebut juga mengingatkan kita bahwa budaya populer bukan hanya tentang sesuatu yang sedang viral. Budaya berkembang ketika masyarakat menerima tren, mengubahnya sesuai selera, dan memberikan makna baru. Jadi, saat melihat gaya lama kembali digemari, kita tidak perlu hanya bertanya apakah harus ikut tren. Kita juga bisa bertanya: bagaimana cara menikmatinya dengan kreatif, kritis, dan bertanggung jawab?

Ruang Kreasi - Puisi

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Ruang Kreasi - Foto Bercerita

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Ruang Kreasi - Foto Bercerita

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Ruang Kreasi - Review Film

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Rubrik Diskusi 1 - Infografik Bio Farma

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Rubrik Diskusi 2 - Poster Bukit Asam

IDN Times Xplore (Six Culture_SMKN 1 KABUPATEN TANGERANG)

Melalui karya mading ini, kami ingin menunjukkan bahwa tren dan budaya populer bukan sekadar sesuatu yang viral atau mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menjadi bagian dari kreativitas dan identitas generasi muda. Kebangkitan tren Y2K membuktikan bahwa budaya masa lalu dapat kembali hadir dengan sentuhan dan makna baru sesuai perkembangan zaman. Media sosial turut menjadi ruang bagi anak muda untuk mengenal, mengeksplorasi, dan mengekspresikan kreativitas mereka.

Kami berharap karya ini dapat mengajak pembaca untuk lebih mengenal perkembangan budaya populer, menghargai kreativitas, serta menyikapi tren secara bijak dan bertanggung jawab. Sebab, menjadi bagian dari sebuah tren bukan berarti harus selalu mengikutinya, melainkan mampu mengambil inspirasi dan menciptakan sesuatu yang memiliki ciri khas tersendiri.

Karena tren boleh berulang, tetapi kreativitas selalu punya cara baru untuk berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article