Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[MADING] SANDI: Sandwich Generation dan Dilema Pendidikan

5 min read
[MADING] SANDI: Sandwich Generation dan Dilema Pendidikan
IDN Times Xplore (Tim Trivibe creatim's_SMKN7MEDAN)

Hai, Sobat SANDI!

Kami dari tim TriVibe Creatim's SMKN 7 Medan mempersembahkan mading digital berjudul "S.A.N.D.I – Sandwich Generation dan Dilema Pendidikan." Karya ini mengangkat isu generasi sandwich yang menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan pendidikan demi masa depan yang lebih baik.

Tim redaksi kami terdiri dari:

Guru Pendamping: Fajar Efendi Daulay, S.Pd.,M.pd

Ketua: Inayah Muji'zah Nur

Anggota: Flora Putri Ayu br Simanjuntak dan Ajrina Putri Andika.

Melalui mading ini, kami ingin mengajak pembaca untuk lebih memahami perjuangan generasi sandwich dan menyadari bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah impian.

"Terbebani bukan berarti harus berhenti bermimpi."

Karya ini dibuat untuk keperluan Kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.

  1. Esai

    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 MEDAN)
    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 MEDAN)

    Sobat SANDI! Pernah nggak sih, kita membayangkan bagaimana rasanya harus memikirkan masa depan sendiri, tetapi di saat yang sama juga bertanggung jawab terhadap keluarga? Bagi sebagian orang, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi tantangan, apalagi jika harus membantu orang tua, membiayai pendidikan saudara, dan mempersiapkan masa depan sendiri.

    ‎‎Situasi ini berkaitan dengan generasi sandwich, yaitu orang yang harus memenuhi kebutuhan dirinya sekaligus membantu membiayai keluarga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Sensus Penduduk 2020, terdapat sekira 71,6 juta penduduk Indonesia berusia 20–54 tahun yang termasuk dalam kelompok yang merepresentasikan generasi sandwich. Data ini menunjukkan bahwa tanggung jawab finansial antargenerasi merupakan persoalan yang perlu diperhatikan.

    ‎‎Karena itu, literasi keuangan penting dipahami sejak dini. Anak muda perlu belajar mengatur uang, menentukan prioritas, dan merencanakan masa depan agar tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita.

    ‎Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46%. Selain itu, penelitian terhadap 24 rumah tangga di Indonesia menunjukkan bahwa pelatihan literasi keuangan membantu meningkatkan tabungan darurat, mengurangi utang, dan mempersiapkan keluarga menghadapi masalah keuangan.

    ‎‎STUDI KASUS: DARA THE VIRGIN DAN PERJUANGAN GENERASI SANDWICH

    ‎‎Sobat SANDI, salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah pengalaman Dara The Virgin. Dalam pemberitaan pada Oktober 2024, Dara menceritakan bahwa dirinya harus membantu memenuhi kebutuhan kedua orang tua dan adik-adiknya setelah keluarganya mengalami perubahan. Ia juga mengungkapkan pernah menghadapi kesulitan ketika aset keluarga yang sebelumnya dimiliki tidak lagi tersedia.

    ‎‎Kisah Dara menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki penghasilan pun bisa menghadapi tekanan keuangan ketika banyak anggota keluarga bergantung kepadanya. Penghasilan yang diperoleh harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, sementara kebutuhan pribadi dan rencana masa depan juga tetap perlu dipikirkan.

    ‎‎Dari pengalaman tersebut, kita bisa memahami pentingnya perencanaan keuangan dan komunikasi dalam keluarga. Membantu keluarga merupakan hal yang baik, tetapi pengelolaan keuangan juga perlu mempertimbangkan kemampuan diri sendiri. Dengan begitu, kebutuhan keluarga dapat diperhatikan tanpa mengabaikan masa depan pribadi.

    ‎FILM 1 KAKAK 7 PONAKAN

    ‎‎Gambaran lain tentang generasi sandwich dapat ditemukan dalam film 1 Kakak 7 Ponakan yang disutradarai oleh Yandy Laurens. Film ini menceritakan Moko, seorang mahasiswa arsitektur yang harus mengasuh tujuh keponakannya setelah kakak dan kakak iparnya meninggal dunia. Di tengah tanggung jawab tersebut, Moko juga harus memikirkan karier dan masa depannya sendiri.

    ‎Kehidupan Moko memperlihatkan bagaimana tanggung jawab keluarga dapat mengubah rencana seseorang. Jika dikaitkan dengan literasi keuangan, ceritanya mengajarkan pentingnya menentukan prioritas dan menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan. Namun, persoalan generasi sandwich bukan hanya soal uang, tetapi juga waktu, pendidikan, kesempatan bekerja, dan dukungan dari orang-orang terdekat.

    ‎Sobat SANDI, kisah Moko dan pengalaman Dara menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tantangan yang berbeda. Ada yang harus membantu orang tua, mengurus adik, atau merawat keponakan sambil membangun masa depan. Karena itu, mengatur keuangan memang penting, tetapi dukungan keluarga, akses pendidikan, dan kesempatan memperoleh pekerjaan yang layak juga dibutuhkan agar anak muda tidak harus menghadapi seluruh beban tersebut sendirian.

    ‎Namun, muncullah satu pertanyaan nyata yang sering terjadi.

    ‎Sobat SANDI, bagaimana jika seseorang harus menghadapi beban keluarga tanpa dukungan, akses pendidikan yang memadai, dan kesempatan kerja?

    ‎Seseorang dalam kondisi tersebut berisiko terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena harus memprioritaskan kebutuhan keluarga dibandingkan pendidikan dan pengembangan dirinya. Menurut pemberitaan IDN Times Sumut pada 17 Agustus 2026, Rizky sempat berhenti sekolah untuk membantu neneknya mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan adik-adiknya. Ia kemudian kembali bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, tempat ia kembali belajar dan mengejar cita-citanya menjadi tentara

    ‎Kasus Rizky memperlihatkan bahwa kemiskinan dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Ketika penghasilan keluarga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, anak terpaksa ikut mencari nafkah meskipun pendidikannya belum selesai. Akibatnya, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik pada masa depan menjadi terbatas. Dalam kasus ini, Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan menjadi salah satu solusi nyata karena memberikan Rizky kesempatan untuk kembali belajar tanpa harus menanggung beban biaya pendidikan yang sama seperti sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan kemiskinan tidak cukup hanya dengan mengajarkan pengelolaan keuangan, tetapi juga memerlukan akses pendidikan yang terjangkau, bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, serta pendampingan bagi keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Dengan demikian, anak tidak harus mengorbankan pendidikannya demi memenuhi kebutuhan keluarga.

    ‎KESIMPULAN

    ‎Jadi, Sobat SANDI, terbebani bukan berarti berhenti bermimpi. Mari terus mengembangkan diri, memanfaatkan kesempatan yang ada, dan saling mendukung agar masa depan yang lebih baik dapat terwujud.

    ‎Selain itu, penting bagi kita untuk belajar mengelola keuangan sejak dini dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Dengan dukungan keluarga, pendidikan, dan kemauan untuk terus belajar, kita bisa membangun masa depan yang lebih cerah tanpa melupakan orang-orang yang kita sayangi.

    “Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.”

  2. Ruang Kreasi - Profil inspiratif

    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 Medan)
    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 Medan)
  3. Ruang Kreasi - Wawancara

    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 Medan)
    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 Medan)
  4. Ruang Kreasi - Foto Bercerita

    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 Medan)
    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s_SMKN7 Medan)
  5. Rubrik Diskusi 1

    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s _SMKN7 Medan)
    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s _SMKN7 Medan)
  6. Rubrik Diskusi 2

    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s _SMKN7 Medan)
    IDN Times Xplore (Tim TriVibe Creatim’s _SMKN7 Medan)

    TriVibe Creatim’s percaya, anak muda yang cerdas finansial bukan hanya pandai bermimpi, tetapi juga tahu bagaimana mewujudkannya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More