"Stonewalling (tindakan menutup diri atau mendiamkan lawan bicara) adalah cara untuk menarik diri dari konflik, baik secara sengaja maupun tidak, baik secara verbal maupun nonverbal. Meskipun ada orang yang sengaja melakukan stonewalling untuk memegang kendali atau menyakiti pihak lain, perilaku ini sering kali terjadi tanpa disengaja," kata Albers.
"Katakan kepada lawan bicara kamu, 'Saat ini aku sedang menutup diri'. Tekankan bahwa apa yang mereka sampaikan itu penting, namun kamu perlu menenangkan diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali percakapan. Jangan biarkan masalah itu menggantung begitu saja," saran Albers.
Gimana Bedakan Pasangan yang Butuh Ruang Vs. yang Hindari Komunikasi?

Dalam sebuah hubungan, ada kalanya seseorang ingin membicarakan masalah secepat mungkin, sementara pasangannya justru membutuhkan waktu untuk menyendiri. Ketika emosi sedang memuncak, sebagian orang merasa lebih nyaman mengungkapkan isi hati melalui percakapan, sedangkan yang lain memilih diam agar tidak mengatakan sesuatu saat masih emosi yang nantinya berujung disesali. Perbedaan cara menghadapi konflik ini sebenarnya wajar.
Namun, bagi pasangan yang sedang menunggu kejelasan, sikap diam bisa terasa seperti penolakan atau tanda bahwa hubungan mulai kehilangan kedekatan. Lantas, bagaimana membedakan pasangan yang memang membutuhkan ruang pribadi dengan pasangan yang terus menghindari komunikasi?
1. Perhatikan cara pasangan menyampaikan keinginannya untuk menyendiri

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/drazenzigic) Pasangan yang membutuhkan ruang biasanya berusaha menjelaskan bahwa dirinya sedang kewalahan, lelah, atau membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran. Ia mungkin menyadari kebutuhan pribadinya sekaligus berusaha memberi kejelasan kepada pasangan. Ia tidak harus menjelaskan semua hal saat itu juga, tetapi tetap memberikan gambaran tentang apa yang sedang terjadi.
Sebaliknya, pasangan yang terus menghindari komunikasi mungkin berulang kali menolak pembicaraan tanpa memberikan penjelasan yang memadai. Setiap kali kamu mengangkat persoalan penting, ia mengalihkan topik, menghilang, atau hanya menjawab singkat tanpa pernah mengajak membahasnya kembali. Meski perilaku tersebut tidak otomatis berarti ia tidak peduli, pola yang terus berulang dapat membuat masalah semakin sulit dan menimbulkan ketidakpastian.
Psikolog klinis Susan Albers menjelaskan bahwa stonewalling atau menutup diri dalam komunikasi dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia menyarankan agar seseorang menjelaskan ketika dirinya mulai menutup diri, sekaligus menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tetap penting. Pesan utamanya adalah kebutuhan untuk berhenti sejenak sebaiknya dikomunikasikan, bukan dibiarkan menjadi keheningan yang membingungkan pasangan.
2. Lihat apakah pasangan bersedia kembali membicarakan masalah

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Budgeron Bach) Salah satu tanda bahwa pasangan benar-benar membutuhkan ruang adalah kesediaannya untuk kembali membicarakan persoalan setelah emosinya lebih stabil. Ia mungkin tidak sanggup melanjutkan perdebatan saat itu juga, tetapi bersedia menentukan waktu lain untuk berbicara.
Misalnya, ia meminta waktu beberapa jam untuk menenangkan diri dan kemudian mengajakmu berdiskusi pada malam hari. Sikap ini menunjukkan bahwa jeda digunakan untuk mengelola emosi, bukan semata-mata untuk menghindari tanggung jawab dalam hubungan.
"*Stonewalling* yang tidak disengaja sering kali menjadi tanda bahwa seseorang sedang kesulitan menghadapi percakapan yang berlangsung. Mereka mungkin tipe orang yang menghindari konflik. Bisa jadi, ini merupakan respons fight-or-flight (melawan atau melarikan diri): mereka merasa perlu untuk segera menghindar,” kata Albers.
“Ini bukan berarti mereka sengaja ingin memutus hubungan atau menjauh. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara melakukan percakapan tersebut dengan cara yang sehat dan produktif,” tambahnya.
Sebaliknya, kamu perlu memperhatikan jika setiap permintaan untuk membicarakan masalah selalu berakhir dengan penundaan tanpa kejelasan. Hari ini pasangan mengatakan belum siap, besok meminta waktu lagi, dan ketika kamu mencoba membahasnya pada kesempatan berikutnya, ia kembali menghindar.
Jika pola tersebut terjadi berulang kali, persoalan yang sebenarnya tidak pernah mendapatkan penyelesaian. Akibatnya, kamu mungkin terus memikirkan masalah yang sama tanpa mengetahui bagaimana pasangan memandangnya.
Sementara psikolog dan peneliti hubungan John Gottman menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami tekanan emosional yang tinggi saat konflik, ia dapat mengalami flooding, yaitu kondisi ketika respons fisiologis terhadap stres membuat percakapan semakin sulit dilakukan secara produktif. Dalam panduian ini dijelaskan bahwa mengambil jeda untuk menenangkan diri dapat membantu seseorang kembali menghadapi percakapan dengan lebih baik. Kuncinya adalah jeda tersebut memiliki tujuan dan tidak berubah menjadi penghindaran tanpa batas waktu.
3. Amati apakah pasangan tetap menunjukkan kepedulian atau tidak

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/draganastock) Membutuhkan ruang pribadi bukan berarti seseorang harus selalu tersedia untuk pasangannya. Ada kalanya ia ingin menghabiskan waktu sendirian, bertemu teman, melakukan hobi, atau beristirahat tanpa banyak percakapan. Namun, meskipun sedang membutuhkan waktu sendiri, pasangan tetap dapat menunjukkan kepedulian melalui tindakan sederhana, seperti memberi kabar, menghormati perasaanmu, dan menjelaskan kapan ia bisa kembali berkomunikasi.
Bentuk perhatian setiap orang memang berbeda, sehingga penting untuk memahami kebiasaan dan kebutuhan masing-masing. Pada pasangan yang cenderung menghindari komunikasi, kamu mungkin merasakan jarak emosional yang semakin besar. Ia tidak hanya mengurangi intensitas percakapan, tetapi juga terlihat tidak tertarik mengetahui keadaanmu, mengabaikan persoalan yang memengaruhi hubungan, atau menolak upaya untuk membangun kedekatan kembali.
Meski demikian, jangan menyimpulkan bahwa pasangan tidak peduli hanya karena ia sedang pendiam. Perhatikan keseluruhan perilakunya, konteks yang sedang dihadapi, dan apakah jarak tersebut menjadi pola yang terus berulang.
"Seiring berjalannya waktu, keterpisahan tersebut—meskipun tidak diungkapkan dengan kata-kata—menjadi sesuatu yang menyakitkan. Ini merupakan pengalaman batin yang tidak pernah dibagikan kepada pasangan," kata terapis perkawinan dan keluarga Lisa Brookes Kift, MFT dikutip dari Gottman Institute.
"Akibatnya, masing-masing pihak merasa sendirian, bahkan saat mereka sedang bersama. Mereka mungkin sampai pada kesimpulan bahwa perasaan cinta mereka telah hilang, namun kesulitan memahami apa penyebabnya," tambahnya.
Hal ini mengingatkan kita bahwa hubungan yang sehat bukan berarti harus terus berbicara setiap saat. Melainkan juga tetap menyediakan ruang untuk membangun kembali koneksi setelah terjadi jarak dan ini harus dilakukan bersama-sama.
4. Bedakan jeda yang sehat dari sikap mendiamkan sebagai hukuman

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic) Tidak semua sikap diam merupakan bentuk penghindaran. Seseorang mungkin memilih tidak langsung merespons ketika sedang marah karena khawatir percakapan berubah menjadi pertengkaran yang lebih besar. Dalam situasi seperti ini, mengambil jeda dapat menjadi langkah yang sehat selama disertai komunikasi yang jelas.
Hal yang perlu diwaspadai adalah ketika keheningan digunakan berulang kali untuk menghukum, menekan, atau membuat pasangan merasa bersalah. Contohnya, pasangan sengaja tidak merespons setelah kamu menyampaikan ketidaknyamanan, lalu baru kembali bersikap baik ketika kamu meminta maaf atau menuruti keinginannya.
Perilaku semacam ini berbeda dari kebutuhan untuk menyendiri karena dapat membuat satu pihak merasa harus mengalah demi mendapatkan kembali perhatian. Namun, niat seseorang tidak selalu mudah diketahui hanya dari perilakunya, sehingga penting untuk memperhatikan pola dan dampaknya.
5. Sampaikan kebutuhanmu dan buat kesepakatan tentang komunikasi

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timur Weber) Menghormati kebutuhan pasangan untuk menyendiri bukan berarti kamu harus mengabaikan kebutuhanmu sendiri. Jika kamu merasa cemas ketika pasangan tiba-tiba menghilang atau tidak memberikan kejelasan, kamu berhak membicarakan hal tersebut. Cobalah menyampaikan perasaan tanpa langsung menyalahkan.
Cara ini membantu pasangan memahami bahwa yang kamu butuhkan bukan komunikasi tanpa henti, melainkan kejelasan dan kepastian. Kalian juga bisa menyepakati aturan sederhana ketika terjadi konflik. Misalnya, siapa pun yang membutuhkan jeda boleh meminta waktu, tetapi perlu menyampaikan perkiraan kapan pembicaraan dapat dilanjutkan.
Jika waktu tersebut ternyata belum memungkinkan, berikan kabar dan sepakati waktu baru. Kesepakatan ini tidak harus kaku, sebab kondisi setiap orang bisa berbeda. Tujuannya adalah memastikan bahwa kebutuhan untuk menenangkan diri tetap dihormati tanpa membuat persoalan penting terus menggantung.
Kebutuhan untuk menyendiri patut dihormati, tetapi kebutuhan akan kejelasan, rasa aman, dan penyelesaian masalah juga tidak boleh diabaikan. Hubungan yang sehat bukan tentang selalu bersama atau selalu sepakat, melainkan tentang kemampuan dua orang untuk mengambil jeda, menghormati batasan, dan tetap bersedia saling mendengarkan.

















![[MADING] S.A.D.A.R—Saatnya Atur Dompet agar Rasional](https://image.idntimes.com/post/20261105/1_20261105_160407_0000_00171252-7814-4ba0-841d-7623cd25d5ba.jpeg)

![[MADING] U.P.S.T.A.R.T—Upstander Squad: Take Action, Rescue Together](https://image.idntimes.com/post/20261105/cover-mading_e6ee22f7-000f-4076-a7c2-00c220867600.png)
![[MADING] Generasi T-Flex x Mp-Free, Gaya Nongkrong Kece di Kantin Tanpa Menu ‘Mikroplastik’](https://image.idntimes.com/post/20261105/img_1972_7966dbff-b76c-4bbd-b04f-1b90ecb58fb3.jpg)


