Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[MADING] GenZiLity: Remaja Cerdas Finansial di Era Digital

6 min read
[MADING] GenZiLity: Remaja Cerdas Finansial di Era Digital
IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)

Hello, Sobat Gen Z! Kami adalah tim GenZility dari SMA Negeri 1 Plus Matauli Pandan. Kali ini, kami hadir untuk memperkenalkan sebuah karya edukatif yang mengangkat isu penting di kalangan remaja, yaitu literasi keuangan. Melalui karya berjudul Gen Z Financial Mentality: Strategi Peningkatan Literasi Keuangan dalam Mengatasi Perilaku Konsumtif di Kalangan Remaja pada Era Digital, kami ingin mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan dan membangun kebiasaan finansial yang sehat di era digital.

Tim redaksi terdiri dari:

Guru pedamping: Ary Pratama Hutapea, S.Pd

Ketua: Akilah Aish

Anggota: Febifiasalni Adita Harefa, Chelsea Agnessia Zalukhu, Jane Agriphinna Zebua, Eykel Jandrian Tarigan, Pandu Cakraswara Bhadrika.

Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.

  1. Esai

    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)

    Literasi keuangan merupakan pemahaman yang sangat penting di masa sekarang, terutama bagi kalangan remaja agar mampu mengelola keuangan serta menghindari perilaku konsumtif lebih dini. Menurut penelitian mahasiswa Universitas Buddhi Dharma (2026), tingkat literasi keuangan remaja di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini sejalan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) dari Badan Pusat Statistik (2026), di mana rata-rata tingkat literasi keuangan Gen Z berada di angka 64,68%, sedangkan tingkat inklusi keuangannya telah mencapai 92,41%. Kesenjangan sebesar 27,73% ini menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z aktif menggunakan layanan keuangan digital seperti e-wallet dan PayLater, namun belum dibekali pemahaman pengelolaan finansial yang memadai. Hal inilah yang memicu munculnya perilaku konsumtif dan impulsif pada Gen Z, terutama para remaja.

    Realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan di kalangan remaja masih menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan hasil survei mandiri terhadap 50 responden remaja, sebagian besar dari mereka sebenarnya sudah memiliki gambaran dasar mengenai pengelolaan dana. Sebanyak 49% responden mengantongi uang saku bulanan berkisar antara Rp200.000 hingga Rp500.000, sementara 29,4% lainnya menerima Rp500.001 hingga Rp1.000.000 per bulan. Dari alokasi tersebut, mayoritas dana memang terserap untuk kebutuhan pokok seperti makanan atau jajanan (70,6%) dan perlengkapan sekolah (66,7%). 

    Namun, jika dicermati lebih dalam pada pola alokasi dan faktor pemengaruh keputusan mereka, tampak jelas adanya celah dalam kontrol diri. Dalam hal menabung, meski 54,9% responden sudah membiasakan diri menyisihkan uang di awal, masih ada 47,1% remaja yang baru menabung jika ada sisa dana di akhir bulan. Pola menyisakan uang di akhir ini sangat rentan gagal akibat dorongan pengeluaran yang tidak terencana. Terlebih lagi, keputusan belanja remaja sangat dipengaruhi oleh keinginan pribadi (72%), tekanan atau ajakan teman sebaya (32%), serta tergiur promo dan diskon (28%). 

    Dampak dari fenomena ini terlihat gamblang pada evaluasi emosional mereka setelah berbelanja. Sebanyak 41,2% responden mengaku kerap merasa agak menyesal atau merasa boros setelah mengeluarkan uang untuk hiburan dan gaya hidup. Angka penyesalan yang cukup tinggi ini menjadi cermin nyata bahwa pembelian impulsif (impulsive buying) masih sering terjadi akibat minimnya pertimbangan kognitif yang matang sebelum melakukan transaksi.

    Maraknya perilaku konsumtif di kalangan remaja tidak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi, seperti munculnya e-commerce. Diketahui bahwa Gen Z lebih banyak menghabiskan uang miliknya untuk berbelanja online. Menurut Permana dkk. (2024), penawaran diskon, promo harga, dan kemudahan penggunaan plaform belanja online merupakan faktor-faktor yang mendorong remaja dalam berbelanja. Sejalan dengan hal tersebut, Chan (2022) menyatakan bahwa promosi pemasaran secara signifikan memicu peningkatan perilaku belanja impulsif pada konsumen. Fenomena  Fear Of Missing Out (FOMO) juga turut memperparah perilaku tersebut. Ulfa (2024) mendefinisikan FOMO sebagai rasa cemas atau khawatir akan melewatkan pengalaman dan kesempatan penting di era digital. Rasa takut tertinggal ini menciptakan dorongan emosional yang kuat untuk membeli produk yang sebenarnya tidak diperlukan demi kepuasan psikologis dan menjaga keterhubungan sosial di lingkungan pergaulan. Kombinasi faktor-faktor tersebut kemudian membentuk perilaku pembelian impulsif yang kerap merugikan dan memicu penyesalan di akhir akibat pembelian tanpa pertimbangan yang matang. Jika dibiarkan, kebiasaan konsumtif yang memicu pemborosan akan menurunkan daya beli secara berkala di tengah peningkatan kebutuhan hidup.

    Perilaku konsumtif yang tidak terkontrol dapat berdampak serius, baik pada stabilitas keuangan maupun kesejahteraan psikologis remaja dalam jangka panjang. Kebiasaan mendahulukan keinginan dari pada kebutuhan dapat menimbulkan kesulitan keuangan yang menghambat kemampuan remaja untuk menabung. Remaja saat ini kebanyakan tidak memiliki tabungan darurat atau rencana investasi untuk masa depan. Keadaan ini makin parah karena adanya layanan pembayaran instan seperti PayLater. Tanpa pemahaman keuangan yang baik, penggunaan kredit digital yang sembarangan bisa membuat remaja terjebak dalam utang dan merusak catatan keuangan mereka sejak usia muda. Keputusan pembelian impulsif yang didorong oleh rasa takut ketinggalan (FOMO) juga hampir selalu mengarah pada penyesalan. Ketidakmampuan untuk mengelola uang saku, bercampur dengan tekanan untuk menyesuaikan diri mengikuti gaya hidup orang lain dapat menyebabkan stres.

    Untuk mengatasi maraknya budaya konsumtif dan mendorong pergeseran menuju smart financial management, diperlukan strategi yang memadukan pendekatan internal dan eksternal. Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, peningkatan literasi keuangan sejak dini merupakan fondasi paling mendasar. Menurut Amadi dkk. (2023), pendidikan mengenai pengelolaan keuangan pribadi, pemahaman tentang perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta pentingnya menabung dan berinvestasi perlu diterapkan secara luas di lingkungan keluarga dan sekolah. Penguatan literasi ini berperan penting dalam memetakan prioritas pengeluaran sehingga remaja tidak mudah tergoda oleh keputusan konsumsi yang impulsif.

    Secara internal, perbaikan pola pikir dapat diperkuat melalui penerapan teknik restrukturisasi kognitif. Perilaku konsumtif bermula dari persepsi yang keliru saat menghadapi godaan seperti promo atau tekanan gaya hidup. Dengan mengasah teknik ini secara konsisten, remaja mampu mengendalikan dorongan emosional tersebut dan membuat keputusan finansial yang lebih bijak.

    Selain itu, kita juga dapat menggunakan metode 50-30-20. Metode ini mengalokasikan dana menjadi tiga bagian, yaitu 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan. Misalnya, 50% digunakan untuk makan, transportasi, dan kebutuhan sekolah. 30% untuk jajan, hiburan, atau membeli sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan 20% disisihkan untuk tabungan atau kebutuhan di masa depan. Dengan ini, kita dapat menikmati uang yang kita miliki, tetapi tetap memberikan batasan dalam menggunakannya.

    Gen Z terbiasa berbelanja secara impulsif karena kemudahan teknologi seperti e-commerce dan PayLater, serta dorongan rasa takut ketinggalan tren (FOMO). Kebiasaan ini berdampak buruk, mulai dari masalah keuangan, risiko kredit macet, hingga stres. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan yang cerdas sangat diperlukan. Dengan meningkatkan literasi keuangan, melatih pengendalian diri, serta mendapat dukungan dari keluarga dan sekolah, Gen Z dapat beralih dari perilaku konsumtif menuju pengelolaan keuangan yang bijak, mandiri, dan berkelanjutan.

  2. Ruang Kreasi-Resensi

    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
  3. Ruang Kreasi-Wawancara

    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
  4. Ruang Kreasi-Foto Bercerita

    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
  5. Rubrik Diskusi 1

    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
  6. Rubrik Diskusi 2

    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)
    IDN Times Xplore (Gen Z Lens_SMA Negeri 1 Matauli Pandan)

    Demikian karya yang kami hadirkan sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. Kami berharap melalui karya ini, semakin banyak remaja yang sadar bahwa mengelola uang bukan hanya tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana menggunakannya dengan bijak. Mari bersama-sama membangun pola pikir finansial yang cerdas, mengendalikan perilaku konsumtif, dan mulai mengambil keputusan keuangan yang lebih baik demi masa depan. Be smart with your money, be wise with your future!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More