Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

𝐏.𝐄.𝐋.𝐈.𝐓.𝐀

"PERUNDUNGAN BUKANLAH TRADISI"

Perundungan bukanlah tradisi yang harus diteruskan, bukan pula kebiasaan yang pantas untuk dibanggakan. Sesuatu yang menyakiti orang lain tidak seharusnya dianggap sebagai candaan, kebiasaan, ataupun hal yang wajar. Di balik setiap perkataan yang merendahkan, tindakan yang menyakiti, dan perlakuan yang tidak adil, selalu ada perasaan seseorang yang mungkin terluka tanpa kita sadari.

Kami, Team P.E.L.I.T.A, hadir dengan satu tujuan, yaitu menjadi bagian dari perubahan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, aman, nyaman, dan bebas dari perundungan. Kami percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk dihargai, diterima, dan diperlakukan dengan baik tanpa harus merasa takut menjadi dirinya sendiri.

Bagi kami, perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjatuhkan. Setiap orang memiliki kepribadian, kemampuan, kekurangan, serta kelebihan yang berbeda-beda. Tidak ada seorang pun yang pantas direndahkan hanya karena penampilannya, cara berbicaranya, latar belakangnya, ataupun hal-hal yang membuatnya berbeda dari orang lain. Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa saling menghargai.

Melalui P.E.L.I.T.A, kami ingin menyampaikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga perkataan, menghentikan candaan yang berlebihan, tidak ikut menyebarkan hinaan, berani menegur tindakan yang salah, serta memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.

Kami juga ingin mengingatkan bahwa diam bukan selalu menjadi pilihan terbaik ketika melihat ketidakadilan. Jangan menjadikan perundungan sebagai tontonan, jangan menganggap penderitaan orang lain sebagai hiburan, dan jangan ikut tertawa ketika seseorang sedang direndahkan. Sebab, tindakan kecil yang kita anggap biasa bisa meninggalkan dampak yang besar bagi orang lain.

Kami bukan hadir untuk mencari siapa yang paling kuat, paling hebat, ataupun paling berkuasa. Kami hadir untuk mengajak semua orang memahami arti kepedulian, keberanian, persatuan, dan rasa saling menghormati. Kekuatan yang sesungguhnya bukan terletak pada kemampuan untuk membuat orang lain takut, melainkan pada keberanian untuk melindungi, membantu, dan memperlakukan sesama dengan baik.

P.E.L.I.T.A menjadi simbol harapan bahwa setiap langkah kecil dapat membawa cahaya bagi lingkungan sekitar. Sebagaimana cahaya yang mampu menerangi kegelapan, kami ingin menjadi pengingat bahwa kepedulian dapat mengalahkan kebencian dan kebaikan dapat membawa perubahan.

Kami ingin membangun lingkungan tempat setiap orang bisa tersenyum tanpa rasa takut, berbicara tanpa khawatir direndahkan, serta berteman tanpa harus memilih berdasarkan perbedaan. Tidak ada tempat bagi perundungan, karena setiap orang berhak mendapatkan rasa aman dan dihargai.

Mari bersama-sama memutus rantai perundungan. Jangan teruskan kebiasaan yang salah hanya karena sudah sering dilakukan. Jangan biarkan kata "tradisi" menjadi alasan untuk membenarkan tindakan yang menyakiti. Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan buruk menjadi budaya saling menghargai.

Karena perundungan bukanlah tradisi, menyakiti bukanlah kebanggaan, dan menghargai sesama adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya.

π“π„π€πŒ 𝐏.𝐄.𝐋.𝐈.𝐓.𝐀

Satu Cahaya, Satu Suara, Satu Perubahan.

Terangi Kepedulian, Hentikan Perundungan, Bangun Persaudaraan.

Tim redaksi kami terdiri dari

β€’ Guru Pendamping : Ineke Mayliningrum Nst, S. IP.

β€’ Ketua : Rendy Andreas Martua Silaban

β€’ Anggota : Adinda Sri Fadhilah Lubis, Siti Azuhra, Fiqih Adrean Lesmana, Naufal Athallah Resky, Famela Rafda Az-zura

Esai

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Pelita di Tengah Gelap: Perundungan Bukan Tradisi

Sekolah menengah atas (SMA) seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menuntut ilmu, mengembangkan potensi, dan membangun persahabatan. Namun, kenyataannya, lingkungan sekolah belum tentu terbebas dari perundungan. Ejekan, penghinaan, pengucilan, hingga kekerasan fisik masih dapat terjadi di antara siswa. Perilaku tersebut terkadang dianggap sebagai candaan atau kebiasaan yang sudah biasa dilakukan. Padahal, sesuatu yang dianggap lucu oleh pelaku belum tentu menyenangkan bagi korban. Oleh karena itu, perundungan bukanlah tradisi yang patut dipertahankan.

Bukti nyata bahwa perundungan masih terjadi di lingkungan SMA dapat dilihat dari kasus yang diberitakan di Pekanbaru, Riau, pada September 2025. Seorang siswa SMA Negeri 9 Pekanbaru berinisial FL diduga menjadi korban perundungan oleh sejumlah siswa hingga mengalami patah tulang hidung. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada 15 September 2025. Kasus ini menjadi pengingat bahwa lingkungan sekolah tidak secara otomatis menjamin setiap siswa terbebas dari kekerasan. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, tetapi keamanan tersebut membutuhkan kepedulian dan tindakan nyata dari seluruh warga sekolah.

Selain kasus tersebut, penelitian Amrun Dzauqy dari Universitas Hasanuddin pada 2024 turut menunjukkan adanya perundungan di tingkat SMA negeri dan swasta di Kota Makassar. Penelitian yang melibatkan 185 responden itu menemukan adanya korban perundungan fisik, verbal, relasional, dan siber. Perundungan verbal menjadi bentuk yang paling banyak ditemukan di antara jenis perundungan yang diteliti. Temuan ini memperlihatkan bahwa perundungan tidak selalu berupa tindakan fisik. Kata-kata yang merendahkan, pengucilan dari pergaulan, dan tindakan melalui media digital juga dapat menjadi bagian dari perundungan.

Di balik peristiwa tersebut, terdapat pelajaran bahwa luka akibat perundungan tidak boleh dianggap sepele. Korban mungkin merasa takut, kehilangan kepercayaan diri, atau enggan berangkat ke sekolah. Dalam keadaan seperti itu, kepedulian seseorang dapat menjadi pelita di tengah kegelapan. Pelita tersebut tidak harus berupa tindakan besar. Mendengarkan cerita teman, menolak ikut mengejek, menemani korban, serta melaporkan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya merupakan bentuk kepedulian yang berarti.

Menghentikan perundungan bukan hanya tanggung jawab guru, melainkan tanggung jawab seluruh warga sekolah. Siswa harus berani membangun pertemanan yang sehat, sedangkan pihak sekolah perlu menanggapi laporan perundungan dengan serius dan memberikan perlindungan kepada korban. Jika setiap orang memilih untuk peduli daripada menghakimi, lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman bagi semua.

Pada akhirnya, tradisi seharusnya mewariskan nilai-nilai kebaikan, bukan rasa takut dan penderitaan. Perundungan tidak boleh dinormalisasi hanya karena telah terjadi berulang kali. Kisah nyata dan hasil penelitian tersebut menjadi pengingat bahwa setiap siswa berhak memperoleh rasa aman dan dihargai. Mari menjadi pelita bagi teman yang sedang terluka, bukan menjadi alasan bertambahnya luka. Sebab, perundungan bukan tradisi, dan keberanian untuk peduli adalah cahaya yang dapat membawa perubahan.

Ruang Kreasi - Puisi

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Ruang Kreasi - Komik

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Ruang Kreasi - Foto Bercerita

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Berikut foto kegiatan kami saat berdiskusi dan mengerjakan mading bersama. Pada momen ini, kami saling bertukar pikiran, menyampaikan berbagai ide dan gagasan, serta memberikan masukan satu sama lain untuk menyusun konsep mading yang menarik dan kreatif. Selain bekerja secara berkelompok, kami juga melakukan pengerjaan secara mandiri sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Setiap anggota berusaha menyelesaikan bagiannya dengan penuh tanggung jawab agar semua bagian dapat tersusun dengan baik. Melalui kegiatan ini, kami belajar tentang pentingnya kerja sama, kemandirian, kekompakan, tanggung jawab, dan saling menghargai demi mencapai satu tujuan bersama, yaitu menciptakan karya mading yang indah, bermakna, dan membanggakan.

Ruang Kreasi - Resensi Novel

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Rubrik Diskusi 1 - Bio Farma

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Rubrik Diskusi 2 - Bukit Asam

IDN Times Xplore (TIM P.E.L.I.T.A_SMAN 2 TANJUNG MORAWA)

Pada akhirnya, setiap luka dan penderitaan bukanlah akhir dari segala sesuatu yang kita alami, melainkan awal dari sebuah kekuatan baru untuk bangkit kembali. Kami dari TIM PELITA percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan cahaya harapan yang tidak boleh padam oleh rasa sakit dan kegagalan. Melalu pelita ditengah luka, kami ingin menyampaikan bahwa sekecil apapun kebaikan kita, tetap mampu memberikan arti kehidupan bagi orang lain. Mari jadikan setiap luka sebagai pelajaran, setiap rintangan sebagai kekuatan,dan setiap harapan sebagai alasan untuk trus maju. Jangan biarkan kegelapan dan kegagalan menguasai langkah kita , karna selalu ada cahaya bagi mereka yang mau berjuang. Ingatlah, pelita mungkin kecil, tetapi cahayanya mampu menerangi kegelapan yang luas.

Jadikan Empati sebagai Tradisi. Bukan Tempat Perundungan

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article