[MADING] FOKUS: FOMO, Kultur, dan Identitas - Masih Jadi Dirimu?
![[MADING] FOKUS: FOMO, Kultur, dan Identitas - Masih Jadi Dirimu?](https://image.idntimes.com/post/20261107/cover-mading_e7ab5f4e-f8d3-426a-9a37-bfffda5b5b50.jpeg)
Halo, Trend Chasers! Kenalan dulu, yuk! Kami Tim NusaVerse (Nusantara Universe) dari SMA Mutiara Bangsa 3. Kali ini, kami hadir dengan sebuah mading digital berjudul “FOKUS”. Tapi, sebenarnya apa sih FOKUS itu? Bagi kami, FOKUS adalah sebuah konsep yang merangkum tiga hal penting dalam kehidupan remaja di tengah perkembangan tren dan budaya pop: FOMO, Kultur, dan Identitas. Lewat mading ini, kami akan mengajak Trend Chasers untuk melihat lebih dalam bagaimana FOMO mempengaruhi diri kita, bagaimana kultur berkembang di tengah tren global, dan bagaimana kita tetap bisa menemukan serta memperkenalkan identitas budaya Indonesia di dunia internasional. Jadi, yuk FOKUS sejenak dan lihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di balik tren yang sedang kita ikuti!
Berikut tim redaksi kami yang terdiri dari:
1. Guru Pendamping: Melania Riskia Ghiriani, S.Pd.,Gr.
2. Penulis: Silvy Tanesha, Giovanna Leticia Gui, Grycelda Lucita Phang
3. Desain Visual: Jesslyn Agatha, Shania Fidel Aurelia, Naomi Joanna Kho
4. Videografer: Naomi Joanna Kho
5. Editor: Silvy Tanesha, Grycelda Lucita Phang
Karya ini dibuat untuk keperluan Kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.

Esai

IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) Pernah tidak kalian merasa ketinggalan cuma karena belum ikut tren yang sedang viral? Kalau jawaban kalian ‘iya’, selamat datang di dunia Pop Culture, Trend Chasers!! Tapi, sebenarnya kalian tahu tidak, apa itu pop culture? Singkatnya, pop culture adalah budaya yang lagi berkembang dan banyak diminati masyarakat di waktu tertentu. Pasti kalian sudah tidak asing lagi kan dengan trend velocity atau Brazilian dance? Nah, itu adalah contoh nyata pop culture yang sering banget muncul di For Your Page (FYP) TikTok kita.
Di tengah banjirnya pengaruh pop culture di media sosial, muncul tantangan yang semakin dekat dengan kehidupan kita: FOMO. Keinginan untuk mencoba tren yang lagi rame sering muncul bukan karena kita beneran suka, tapi karena takut dianggap kudet (kurang update). Kita sering terjebak dalam perlombaan menjadi sama dengan orang lain, hingga lupa bahwa menjadi berbeda adalah satu-satunya cara kita tetap relevan di dunia yang seragam ini. Jika ketertarikan kita pada budaya luar tidak diimbangi dengan upaya mengenal budaya sendiri, maka warisan tradisional kita bisa-bisa makin tenggelam. Sayangnya, banyak remaja kita yang terbuai mengejar tren global sampai lupa bahwa Indonesia punya keberagaman budaya dan tradisi yang jauh lebih kaya.
Apa Itu FOMO?
Trend Chasers, pernah tidak, merasa cemas kalau tidak tahu info tren terbaru? Nah, itulah FOMO (Fear of Missing Out). Konsep ini kemudian disajikan secara ilmiah oleh Przybylski dkk. (2013) untuk memahami rasa takut tertinggal dari pengalaman orang lain. Di era media sosial, FOMO dekat dengan kehidupan remaja karena tren menyebar dalam waktu yang sangat singkat. Ketika tren budaya asing terus muncul dan mendapat perhatian besar, FOMO dapat membuat remaja lebih mudah mengikuti budaya yang sedang populer.
Selain faktor tren global, lingkungan sosial juga ternyata berperan besar dalam memicu FOMO pada remaja. Sejalan dengan penelitian Viona dkk. (2026) terhadap 210 siswa SMA di Purwokerto yang menemukan hubungan positif antara interaksi teman sebaya dan FOMO, dengan koefisien korelasi sebesar 0,41. Penelitian yang sama juga menemukan hubungan positif yang lebih lemah antara akses media sosial dan FOMO, dengan koefisien korelasi sebesar 0,28. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk terus “nyambung” dengan teman sering kali memaksa kita mengikuti gaya hidup kita tertentu (seperti tarian/barang viral), bukan karena kita suka, tapi hanya karena takut dianggap “ketinggalan zaman” di mata teman-teman. Wah, parah kan?
Pop Culture Tidak Selalu Buruk
Trend Chasers, meskipun begitu, mengikuti tren tidak selalu buruk. Justru budaya populer bisa menjadi “taman bermain” bagi kita untuk berekspresi, menemukan komunitas yang satu frekuensi, hingga mengasah kreativitas. Coba bayangkan, lewat musik, film, fashion, dan tren media sosial kita jadi bisa keliling berbagai belahan dunia, mendapatkan inspirasi baru, bahkan menemukan cara berkomunikasi yang lebih seru. Jadi, mengikuti tren itu sah-sah saja, selama kita tetap jadi pengendali atas apa yang sesuai dengan diri kita. Tantangan sebenarnya bukan memilih antara mengikut atau anti-tren, melainkan bagaimana kita bisa tetap asyik menikmati budaya global tanpa harus kehilangan akar budaya. Kita bahkan bisa mempromosikan budaya lokal di dunia global. Melalui apa? Ya, tentu lewat media sosial.
Tantangan Eksistensi Budaya Lokal di Era Modern
Di tengah arus globalisasi yang masif, budaya lokal kita sedang menghadapi tantangan serius yang terlihat dalam tiga fenomena utama. Pertama, bahasa daerah kita perlahan mulai memudar. Indonesia punya ratusan bahasa daerah, tapi banyak di antaranya sedang terancam. Data Badan Bahasa menunjukkan bahwa dari sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia, hanya sebagian kecil yang masih aman. Sisanya mengalami kemunduran, kritis, bahkan ada yang sudah punah. Kedua, permainan tradisional kini mulai terlupakan. Permainan seru seperti congklak, gobak sodor, engklek, dan egrang perlahan tergantikan oleh game digital di ponsel. Penelitian Rustan dan Munawir (2020) bahkan mengungkap fakta bahwa lebih dari separuh anak-anak (56,57%) sudah jarang memainkan permainan tradisional. Alasannya beragam, dimulai dari tidak adanya alat, hingga rasa tertarik yang lebih besar pada dunia digital.
Ketiga, kesenian tradisional juga menghadapi kesulitan dalam menarik perhatian generasi muda di tengah populernya budaya luar, seperti K-POP ataupun tarian viral. Budaya Korea contohnya, yang mendapatkan perhatian besar karena disebarkan secara masif melalui media sosial, sehingga sangat mudah bagi kita untuk mengikutinya.
Sementara itu, menurut penelitian Amalia, Shifa, dan Fadilah (2025), globalisasi mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap kesenian tradisional. Sebagian dari mereka menganggap kesenian tradisional sebagai hal yang kuno, sehingga minat mereka untuk mempelajari dan melestarikan kesenian tradisional semakin berkurang. Hal ini menunjukkan pentingnya cara yang lebih kreatif dalam memperkenalkan kesenian tradisional agar tetap relevan dan menarik bagi remaja.
Kondisi ini diperkuat oleh temuan Setyawan dkk. (2026) menunjukkan bahwa di tengah dominasi musik populer global, minat generasi muda terhadap musik dan tradisi lokal cenderung rendah. Hal ini membuktikan bahwa paparan budaya digital yang masif tanpa diimbangi dengan pewarisan budaya yang kuat dapat membuat warisan tradisional semakin asing bagi generasi muda. Melihat berbagai tantangan tersebut, timbul dilema di kalangan remaja antara keinginan untuk tetap ikutan tren kekinian dan kewajiban menjaga warisan budaya sendiri. Lantas, apakah kita harus meninggalkan tren global? Tentu tidak. Kita bisa belajar dari kesuksesan budaya Korea yang konsisten memadukan tradisi dengan sentuhan modern, seperti memadukan tarian daerah dengan tren media sosial, musik daerah dengan musik modern, atau mengangkat cerita rakyat ke layar lebar. Dengan kreativitas digital, budaya Indonesia bisa tetap relevan dan dicintai generasi muda tanpa kehilangan identitas aslinya.
Trend Chasers, menjadi pengejar tren bukan berarti kita harus mengikuti setiap arus yang viral secara membabi buta. Sebagai generasi muda yang aktif di media sosial, kita memiliki kekuatan besar untuk memberikan dampak positif bagi Indonesia dengan memperkenalkan budaya lokal dan identitas bangsa ke kancah global. Oleh karena itu, mari kita lebih bijak dalam menyaring setiap tren, berhentilah sejenak untuk menimbang apakah sesuatu benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan nilai diri kita. Dengan begitu, keterbukaan kita terhadap pop culture dapat berjalan berdampingan dengan upaya mengenal dan melestarikan warisan Indonesia. Sebagai langkah nyata, mari kita FOKUS:
· Filter tren sebelum mengikutinya
· Orientasikan pilihan pada kebutuhan diri
· Kenali budaya lokal sebagai identitas
· Usung karya Indonesia di media sosial
· Seimbangkan budaya global dengan kebanggaan tradisi sendiri
Menjadi Trend Chasers bukan berarti kita harus menjadi bayang-bayang budaya orang lain, melainkan menjadi pembawa obor bagi budaya kita sendiri di panggung dunia.
Ruang Kreasi 1 : Tokoh Inspiratif

IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) Ruang Kreasi 2 : Komik Pendek

IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) 
IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) Ruang Kreasi 3 : Program Sekolah

IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) Rubrik Diskusi 1 : Infografik Biofarma

IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) Rubrik Diskusi 2 : Poster Bukit Asam

IDN TIMES XPLORE (Tim NusaVerse_SMAS MUTIARA BANGSA 3) Mading digital FOKUS hadir dalam Kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026 untuk berkontribusi meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menyaring tren dan mengenali budaya lokal di tengah derasnya arus pop culture dan FOMO. Lewat mading ini, kami mengajak para Trend Chasers untuk berhenti sejenak sebelum ikut arus, memilih tren yang benar-benar sesuai dengan diri sendiri, lalu menyuarakan budaya Indonesia lewat layar yang sama. Sebab, tren datang dan pergi, tetapi identitas yang kita rawat akan selalu relevan.

![[MADING] GERAK SOLID - Gerakan Remaja Empatik dan Solidaritas](https://image.idntimes.com/post/20261104/1000405256_02fb74df-d978-4f66-89e5-d206e5379b70.jpg)



















![[MADING] Uangmu, Masa Depanmu: Bekal Anak Muda untuk Masa Depan](https://image.idntimes.com/post/20261106/cover-mading_c56ca11c-8eed-46a2-a32c-9d1ebe2e5136.png)
![[MADING] Suara Eksistensi Tangan Kiri, Antara Refleksi dan Aksi](https://image.idntimes.com/post/20261106/suara-eksistensi-tangan-kiri-antara-reaksi-dan-aksi_20261106_165026_0000_c782a942-f650-43e6-a11c-422c767497c5.png)
![[MADING] D.O.M.P.E.T: Dana Optimal Pengelolaan Terpadu](https://image.idntimes.com/post/20261106/dompet_db0078cc-e86f-4aff-a71f-d03f6f093125.png)