Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDN Times Explore (Tim Buin Batu_Amman Academy)

Halo Generasi Peduli! Kami tim Buin Batu dari Amman Academy mempersembahkan sebuah karya visualisasi dari mading digiyal kami yang berjudul "Uangmu, Masa Depanmu"

Pernahkan kita berpikir, berapa banyak uang yang telah kita habiskan hanya untuk mengikuti tren? Dari parfum viral hingga koleksi boneka yang sedang populer, media sosial sering kali membuat kta merasa harus memiliki sesuatu agar tidak tertinggal. Namun ditenggah banyaknya keinginan, sudahkah kita mampu membedakan kebetuhuan dari keingingan? memlalui tema "Uangmu, Masa Depanmu". Mari kita memmahami bahwa melek finansial bikan berarti berhenti menikmati hidup, melainkan berlajar mengelola uang dengan bijak demi membangin masa depan yang lebih baik.

Tim redaksi kami terdiri dari:

  • Guru pendamping : Diny Khaerol M, Hendra Kadarma

  • Penulis : Muhammad Faisal G., Arafat Abdullah H. Muhammad Hafiizh N.

  • Desainer : Nailah Shafa A.

  • Video Editor : Janeeta Danra R.

  • Videografer : Aisira Zahra M.

Karya ini dibuat untuk keperluan Kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyutingan dari redaksi IDN Times.

Esai

IDN Times Explore (Tim Buin Batu_Amman Academy)

Kita Pandai Mengikuti Tren, tetapi Sudahkah Kita Pandai Mengelola Uang?

Oleh Tim Buin Batu

Di layar, keinginan tumbuh tanpa suara. Di dompet, uang perlahan kehilangan arah.*

kami pernah menyaksikan sesuatu yang sederhana, tetapi terus teringat hingga sekarang. Di dekat minimarket di lingkungan tempat tinggal kami, beberapa anak sedang melakukan transaksi cash on delivery (COD) parfum Mykonos. Awalnya, kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa. Namun, ketika mengetahui bahwa mereka ternyata sudah memiliki banyak parfum yang sebagian besar dikumpulkan untuk koleksi, bukan digunakan sehari-hari, kami mulai mempertanyakan sesuatu: “mengapa anak-anak rela menghabiskan ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah, hanya untuk memiliki barang yang sedang populer?”

Pemandangan itu membuat kami sadar bahwa persoalannya mungkin bukan sekadar tentang parfum. Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di sekitar kita: keinginan yang tumbuh begitu cepat, sementara kemampuan untuk mengelolanya belum tentu ikut berkembang. Kita hidup pada masa ketika sebuah produk dapat berubah dari barang biasa menjadi sesuatu yang terasa wajib dimiliki hanya karena berulang kali muncul di layar ponsel. Mykonos, Labubu, dan berbagai figure Pop Mart bukan lagi sekadar produk. Bagi sebagian anak muda, barang-barang tersebut juga menjadi simbol tren, kebanggaan, dan keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang sedang ramai dibicarakan.

Fenomena ini semakin menarik perhatian kami karena media sosial membuat batas antara kebutuhan dan keinginan terasa semakin kabur. Kita membuka TikTok untuk mencari hiburan, tetapi pulang dengan daftar barang yang ingin dibeli. Kita menonton video unboxing hanya selama beberapa menit, tetapi bisa menghabiskan waktu berhari-hari memikirkan produk yang sama. Ketika influencer memamerkan koleksi terbaru atau sebuah produk disebut langka, muncul perasaan urgensi bahwa kita harus segera memilikinya sebelum terlambat. Tanpa disadari, keputusan membeli tidak lagi sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi, melainkan juga dari tekanan tren dan rasa takut tertinggal atau yang disebut dengan fear of missing out (FOMO).

Masalahnya, tidak semua anak muda memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi arus tersebut. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun hanya mencapai 51,70%, terendah dibandingkan kelompok usia lainnya (Otoritas Jasa Keuangan dkk, par. 1). Angka ini menjadi pengingat bahwa sebagian besar tantangan generasi muda bukan hanya bagaimana memperoleh uang, tetapi juga bagaimana memahami dan mengambil keputusan yang tepat tentang uang. Ketika kemampuan mengelola keuangan belum cukup kuat, sementara paparan terhadap tren konsumsi semakin besar, anak muda dapat lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat daripada pertimbangan yang matang.

Kebiasaan tersebut juga tumbuh dalam lingkungan digital yang memudahkan kita berbelanja kapan saja. Dalam survei pasar nasional terhadap 2.283 responden lintas generasi, sebanyak 95% responden dilaporkan aktif melakukan transaksi online, dan 88% bertransaksi melalui platform e-commerce utama. Rata-rata pengeluaran belanja e-commerce mencapai Rp470.516 per bulan. Meskipun angka tersebut mencakup Gen Z, Milenial, dan Gen X sehingga tidak dapat dianggap sebagai pengeluaran khusus anak-anak, data ini menunjukkan betapa dekatnya aktivitas belanja dengan kehidupan sehari-hari masyarakat (Advertorial, ch. 1). Ketika membeli sesuatu hanya membutuhkan beberapa sentuhan pada layar, jarak antara menginginkan dan mengeluarkan uang menjadi semakin pendek.

Bagi kami, bagian yang paling mengkhawatirkan bukanlah ketika seorang anak membeli parfum atau mengoleksi boneka. kami pun memahami bahwa setiap orang memiliki kesenangan masing-masing. Mengoleksi barang bukanlah sesuatu yang salah selama dilakukan secara sadar dan sesuai kemampuan. Namun, kami mulai mempertanyakan prioritas kita ketika barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan justru mendapatkan tempat utama dalam pengeluaran. Apakah kita membeli karena benar-benar menyukai produknya, atau karena ingin merasakan kepuasan ketika memilikinya, sama seperti orang-orang yang kita lihat di media sosial?

Pertanyaan tersebut penting karena setiap rupiah yang kita keluarkan sebenarnya membawa sebuah pilihan. Uang yang digunakan untuk membeli koleksi tambahan bisa saja dialokasikan untuk mengikuti kelas bahasa asing, membayar les, membeli buku, atau mendaftar membership gym. Kegiatan-kegiatan tersebut mungkin tidak selalu memberikan kepuasan secepat membuka kemasan produk baru. Namun, manfaatnya berpotensi bertahan lebih lama. Sebuah parfum mungkin menambah koleksi di rak, sedangkan kemampuan bahasa dapat membuka kesempatan belajar dan bekerja. Sebuah boneka mungkin menjadi sumber kebahagiaan hari ini, sedangkan keterampilan baru dapat membantu kita menghadapi tantangan bertahun-tahun kemudian.

Kami tidak ingin mengatakan bahwa anak muda harus berhenti menikmati tren dan mulai menganggap setiap kesenangan sebagai pemborosan. Menurut kami, inti dari melek finansial justru terletak pada kemampuan menikmati hidup tanpa kehilangan kendali atas uang sendiri. Kita perlu belajar membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial. Sebelum membeli barang yang sedang viral, kita bisa berhenti sejenak, menunda keputusan selama 24-48 jam, menetapkan anggaran untuk hobi, dan mempertimbangkan manfaat pembelian tersebut. Langkah-langkah kecil ini dapat membantu kita memastikan bahwa keputusan membeli benar-benar berasal dari diri sendiri, bukan semata-mata dari apa yang terus-menerus ditampilkan oleh algoritma di sosial media.

Pada akhirnya, kami teringat pada pemandangan di dekat minimarket itu. Beberapa anak, beberapa botol parfum, dan uang yang berpindah tangan. Tidak ada yang salah dengan transaksi tersebut secara langsung. Namun, pengalaman itu membuat kami melihat pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan generasi muda Indonesia. Kita sedang tumbuh di dunia yang sangat pandai membuat kita menginginkan sesuatu, tetapi apakah kita juga sedang belajar untuk menentukan apa yang benar-benar layak kita inginkan?

Bagi kami, uang saku ibarat benih. Kita bisa menghabiskan untuk sesuatu yang memberikan kesenangan sesaat, atau menanamnya pada hal-hal yang membantu kita bertumbuh, Keduanya merupakan pilihan, tetapi tidak semuanya memberikan hasil yang sama di masa depan.

Sebab, pada akhirnya, masa muda bukan hanya tentang barang apa yang berhasil kita miliki, melainkan juga tentang kemampuan apa yang berhasil kita bangun. Tren akan berganti, produk akan kehilangan popularitas, dan barang yang dahulu terasa begitu penting mungkin suatu hari hanya menjadi benda biasa di rak. Akan tetapi, kebiasaan mengelola uang dengan bijak dapat menjadi bekal yang kita bawa jauh melampaui tren apa pun. Jangan sampai kita tumbuh menjadi generasi yang selalu tahu apa yang sedang viral, tetapi tidak tahu ke mana uangnya pergi.

Ruang Kreasi - Infografik finansial

IDN Times Explore (Tim Buin Batu_Amman Academy)

Ruang Kreasi 2 - Game cari kata

IDN Times Explore (Tim Buin Batu_Amman Academy)

Rubrik Diskusi 1

IDN Times Explore (Tim Buin Batu_Amman Academy)

Rubrik Diskusi 2

IDN Times Explore (Tim Buin Batu_Amman Academy)

Pada akhirnya, masa depan kita tidak ditentukan oleh seberapa banyak barang yang berhasil kita miliki, tetapi oleh seberapa bijak kita menggunakan apa yang kita punya. Tren boleh berganti, keinginan boleh bertambah, tetapu jangan biarkan uang kehilangan arahnya. Mulailah dari sekarang, kelola uangmu dengan bijakm karena masa depanmu adalah pilihanmu hari ini!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article