ilustrasi belajar virtual (pexels.com/juliamcameron)
Selain membantu menjaga fokus, microlearning juga membuat materi yang rumit terasa lebih sederhana dengan membaginya menjadi beberapa bagian. Anak bisa memahami satu konsep terlebih dahulu sebelum beralih ke konsep berikutnya sehingga materi gak terasa terlalu berat.
Yolanda Carlos, profesor pendidikan anak usia dini di Pacific Oaks College, dikutip dari Parents, mengatakan pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan cara guru mengemas aktivitas agar lebih menarik dan mampu menjaga perhatian siswa. Saat mengajar SMA, ia menggunakan aktivitas pembuka selama lima hingga tujuh menit untuk memancing rasa ingin tahu sebelum masuk ke materi utama.
Carlos juga memanfaatkan permainan, musik, dan bermain peran untuk membantu siswa memahami sekaligus mengingat konsep yang dipelajari. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa materi singkat tetap bisa dibuat interaktif sehingga anak gak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses belajar.
“Di luar bidang akademik, microlearning juga memperkuat keterampilan sosial-emosional dan membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang tangguh serta memiliki kemampuan yang lebih seimbang,” ujar Amanda Ohannessian, guru pendidikan khusus di Mount Vernon City School District, dikutip dari Parents.