Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Microlearning, Metode Belajar Singkat Bisa Bantu Anak Fokus
ilustrasi belajar depan laptop (pexels.com/roxanneminnish)

Di tengah kebiasaan anak yang akrab dengan video singkat, scrolling, dan berbagai notifikasi, menjaga fokus saat belajar bukan perkara mudah. Materi yang disampaikan terlalu panjang juga bisa terasa melelahkan, sehingga microlearning hadir dengan pendekatan belajar yang lebih singkat dan mudah diikuti.

Microlearning membagi materi menjadi bagian-bagian kecil dengan bantuan video, animasi, kuis, hingga simulasi. Meski bisa membuat belajar terasa lebih ringan, metode ini tetap punya keterbatasan dan gak bisa menggantikan semua cara belajar. Yuk, kenali lebih jauh penerapan microlearning!

1. Apa itu microlearning?

ilustrasi belajar virtual (pexels.com/juliamcameron)

Microlearning merupakan metode belajar yang membagi informasi menjadi bagian-bagian pendek agar lebih mudah dipahami. Materinya bisa disajikan lewat video, animasi, kuis interaktif, podcast, audiobook, hingga simulasi menggunakan ponsel, tablet, atau komputer. Dengan begitu, anak gak hanya bergantung pada buku atau penjelasan panjang dari guru.

Misalnya, saat mempelajari sejarah Perang Dunia II, guru bisa memberikan video lima menit yang merangkum peristiwa penting, lalu dilanjutkan kuis singkat untuk mengingat kembali materi. Cara ini membuat proses belajar terasa lebih ringan karena anak cukup berfokus pada satu materi dalam satu waktu.

2. Kenapa belajar singkat bisa bantu anak lebih fokus?

ilustrasi belajar (pexels.com/georgedolgikh)

Cara belajar yang singkat dan interaktif ini dinilai sesuai dengan kebiasaan anak di era digital yang terbiasa menerima informasi secara cepat. Jessica Werner, PhD, founder sekaligus CEO Northshore Learning, dikutip dari Parents, mengatakan cara belajar juga perlu menyesuaikan perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi.

“Masa depan pembelajaran akan terlihat berbeda, dan kita sebagai pendidik perlu beradaptasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang telah terjadi pada otak,” ujar Jessica Werner, dikutip dari Parents.

Menurut Werner, pola belajar yang mengharuskan siswa duduk berjam-jam, mencatat, dan menghafalkan materi gak selalu efektif karena anak membutuhkan lebih banyak interaksi dan stimulasi. Ia juga melihat siswa cenderung mencari hal baru selama belajar karena otak mereka sudah terbiasa dengan teknologi.

3. Materi yang dipecah jadi kecil terasa lebih mudah

ilustrasi belajar virtual (pexels.com/juliamcameron)

Selain membantu menjaga fokus, microlearning juga membuat materi yang rumit terasa lebih sederhana dengan membaginya menjadi beberapa bagian. Anak bisa memahami satu konsep terlebih dahulu sebelum beralih ke konsep berikutnya sehingga materi gak terasa terlalu berat.

Yolanda Carlos, profesor pendidikan anak usia dini di Pacific Oaks College, dikutip dari Parents, mengatakan pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan cara guru mengemas aktivitas agar lebih menarik dan mampu menjaga perhatian siswa. Saat mengajar SMA, ia menggunakan aktivitas pembuka selama lima hingga tujuh menit untuk memancing rasa ingin tahu sebelum masuk ke materi utama.

Carlos juga memanfaatkan permainan, musik, dan bermain peran untuk membantu siswa memahami sekaligus mengingat konsep yang dipelajari. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa materi singkat tetap bisa dibuat interaktif sehingga anak gak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses belajar.

“Di luar bidang akademik, microlearning juga memperkuat keterampilan sosial-emosional dan membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang tangguh serta memiliki kemampuan yang lebih seimbang,” ujar Amanda Ohannessian, guru pendidikan khusus di Mount Vernon City School District, dikutip dari Parents.

4. Microlearning tidak cocok untuk semua materi

ilustrasi mahasiswi sedang belajar dengan laptop (pexels.com/timamiroshnichenko)

Meski membuat materi terasa lebih ringan, bukan berarti semua pelajaran bisa disampaikan dalam potongan singkat. Amanda Ohannessian, mengatakan konsep besar memang bisa dipecah menjadi langkah-langkah kecil, tetapi jika terlalu terfragmentasi, materi justru bisa terasa terpisah-pisah.

Microlearning juga gak selalu cocok untuk materi yang membutuhkan proyek, diskusi panjang, atau pembahasan mendalam. Penerapannya perlu mempertimbangkan akses teknologi karena gak semua siswa memiliki perangkat dan internet yang memadai, sementara guru juga perlu mengawasi penggunaan perangkat agar anak gak terdistraksi.

5. Tetap butuh metode belajar lain agar lebih seimbang

ilustrasi belajar virtual (pexels.com/juliamcameron)

Keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa microlearning sebaiknya gak dijadikan satu-satunya metode belajar. Carlos menilai guru tetap perlu menggabungkannya dengan berbagai pendekatan lain agar kebutuhan belajar siswa bisa terpenuhi secara lebih seimbang.

Lucy Kirkham, mantan guru yang kini menjadi Head of Content Creation di Save My Exams, dikutip dari Parents, mengingatkan bahwa microlearning yang terlalu cepat dapat membuat siswa kehilangan kesempatan memahami topik secara mendalam. Pembelajaran yang terlalu dipadatkan juga bisa mengurangi ruang untuk berdiskusi, berdebat, serta mengembangkan kemampuan analisis dan berpikir kritis.

Jadi, microlearning bisa menjadi cara untuk membuat belajar terasa lebih ringan dan membantu anak fokus pada satu materi. Namun, tetap diperlukan diskusi, proyek, dan metode belajar lain agar anak gak hanya cepat memahami informasi, tetapi juga punya ruang untuk berpikir kritis dan kreatif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article