Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Green Jobs, Profesi Masa Depan yang Semakin Dicari

Mengenal Green Jobs, Profesi Masa Depan yang Semakin Dicari
ilustrasi bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)
Share Article

Istilah green jobs atau pekerjaan hijau semakin sering muncul ketika membicarakan masa depan dunia kerja. Bukan tanpa alasan, perubahan iklim, transisi energi, ekonomi sirkular, dan kebutuhan perusahaan untuk mengurangi dampak lingkungan ikut mengubah jenis pekerjaan yang dibutuhkan. Artinya, pekerjaan yang berkaitan dengan lingkungan tidak lagi terbatas pada aktivis atau pekerja konservasi, tetapi mulai masuk ke berbagai sektor, termasuk energi, teknologi, manufaktur, konstruksi, pertanian, hingga bisnis.

Bagi Gen Z yang sedang memilih jurusan, mencari pekerjaan pertama, atau ingin melakukan career switch, tren ini bisa menjadi peluang baru. Lalu seperti apa itu green jobs?

1. Apa itu green jobs dan mengapa semakin penting?

ilustrasi bekerja (freepik.com/pressfoto)
ilustrasi bekerja (freepik.com/pressfoto)

Secara sederhana, green jobs adalah pekerjaan yang membantu menjaga atau memulihkan lingkungan sekaligus memenuhi prinsip pekerjaan layak. International Labour Organization (ILO) mendefinisikannya sebagai pekerjaan layak yang berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan, baik di sektor tradisional seperti manufaktur dan konstruksi maupun sektor baru seperti energi terbarukan dan efisiensi energi.

"Green jobs adalah pekerjaan layak yang berkontribusi untuk melestarikan atau memulihkan lingkungan. Pekerjaan ini membantu mengurangi konsumsi energi dan bahan baku, membatasi emisi gas rumah kaca, meminimalkan limbah dan polusi, melindungi dan memulihkan ekosistem; dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim," dikutip dari International Labour Organization.

Mengapa profesi ini semakin dibutuhkan? Karena perusahaan dan pemerintah mulai menghadapi tuntutan untuk mengurangi emisi, menggunakan energi lebih bersih, menghemat sumber daya, serta mengelola limbah dengan lebih baik.

World Economic Forum (WEF) memperkirakan transisi hijau dan perubahan iklim akan menciptakan pertumbuhan pekerjaan di bidang seperti energi terbarukan, teknik lingkungan, dan spesialis keberlanjutan. Dengan kata lain, kebutuhan menjaga lingkungan mulai diterjemahkan menjadi kebutuhan tenaga kerja.

"Prioritas-prioritas ini telah memungkinkan lapangan kerja hijau untuk menunjukkan ketahanan dalam beberapa tahun terakhir, dengan tingkat perekrutan di sektor hijau tetap relatif stabil bahkan selama gangguan terkait pandemi pada tahun 2020," dikutip dalam laporan WEF "The Future of Jobs Report 2025".

 

2. Profesi green jobs tidak hanya jadi aktivis lingkungan

Ilustrasi aktivis lingkungan (Unsplash.com/Markus Spiske)
Ilustrasi aktivis lingkungan (Unsplash.com/Markus Spiske)

Ketika mendengar istilah green jobs, mungkin yang terbayang adalah pekerjaan seperti aktivis lingkungan, penjaga hutan, atau peneliti ekologi. Padahal, bidangnya jauh lebih luas. Ada renewable energy engineer, environmental engineer, sustainability specialist, teknisi energi terbarukan, konsultan ESG, analis lingkungan, ahli pengelolaan limbah, hingga profesional yang mengembangkan sistem ekonomi sirkular.

"Para pemberi kerja di Italia memproyeksikan pertumbuhan lapangan kerja bersih di bidang Insinyur Robotika, Insinyur Energi Terbarukan, dan Insinyur Lingkungan, yang mendorong peningkatan permintaan akan keterampilan seperti AI, jaringan, keamanan siber, dan pengelolaan lingkungan. Untuk beradaptasi dengan tren ini, 85% responden bertujuan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja mereka dan 73 persen berencana untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja mereka melalui peningkatan teknologi," masih dikutip dalam laporan yang sama.

WEF menempatkan Environmental Engineers dan Renewable Energy Engineers dalam daftar 15 pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat. Laporan tersebut juga menyebut Sustainability Specialists dan Renewable Energy Technicians sebagai profesi yang terdorong oleh perubahan menuju ekonomi hijau. Artinya, peluang karier hijau dapat ditemukan baik dalam pekerjaan teknis maupun pekerjaan yang berhubungan dengan strategi dan manajemen.

3. Energi terbarukan jadi salah satu ladang karier menjanjikan

ilustrasi bekerja di luar negeri (unsplash.com/wocintechchat)
ilustrasi bekerja di luar negeri (unsplash.com/wocintechchat)

Salah satu sektor yang sangat erat dengan perkembangan green jobs adalah energi terbarukan. Dunia membutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang mampu mengembangkan, memasang, mengoperasikan, dan merawat teknologi seperti panel surya, pembangkit listrik tenaga air, angin, panas bumi, baterai, hingga sistem jaringan listrik yang lebih modern.

Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa lapangan kerja sektor energi global tumbuh 2,2 persen pada 2024, hampir dua kali lipat pertumbuhan pekerjaan di ekonomi secara keseluruhan yang mencapai 1,3 persen. IEA juga memperkirakan kebutuhan tenaga kerja energi akan terus meningkat, dengan sektor kelistrikan menjadi sumber utama pertumbuhan pekerjaan bersih.

"Pada tahun 2024, pertumbuhan lapangan kerja di sektor energi global melampaui pertumbuhan lapangan kerja di perekonomian secara keseluruhan untuk tahun ketiga berturut-turut. Investasi yang kuat dan berkelanjutan dalam infrastruktur energi mendukung perluasan lapangan kerja di sektor energi, meningkat sebesar 2,2 persen, hampir dua kali lipat dari tingkat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan sebesar 1,3 persen, sehingga total lapangan kerja di sektor energi mencapai 76 juta," demikian laporan IEA.

Kementerian PPN/Bappenas dengan dukungan kerja sama pembangunan dari Pemerintah Jerman, Australia, dan Bank Dunia meluncurkan Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia dalam rangka Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2025: Turning Vision Into Action. Pemerintah Indonesia bahkan menjalankan program Renewable Energy Skills Development untuk menyelaraskan pendidikan dan pelatihan vokasi dengan kebutuhan industri energi terbarukan.

"Dukungan Pemerintah Jerman merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendukung Indonesia dalam memajukan transisi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan menuju ekonomi hijau. Memajukan keterampilan tenaga kerja Indonesia menuju hijau menjadi salah satu faktor kunci," jelas Duta Besar Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste Ina Lepel dalam laman resmi Bappenas.

 

4. Skill yang perlu disiapkan Gen Z untuk masuk green jobs

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Antoni Shkraba Studio)

Memiliki ketertarikan pada isu lingkungan saja belum tentu cukup untuk mendapatkan pekerjaan hijau. Gen Z tetap perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. ILO dalam riset terbarunya mengenai green jobs di negara berkembang menemukan bahwa lowongan dengan tingkat tugas hijau yang lebih tinggi membutuhkan kombinasi keterampilan teknis, kognitif, sosial-emosional, manual, dan keterampilan khusus lingkungan.

"Temuan menunjukkan bahwa lowongan kerja hijau, yang memiliki intensitas tugas hijau yang relatif lebih tinggi, membutuhkan beragam kompetensi—baik keterampilan inti maupun teknis, di seluruh domain kognitif, sosial-emosional, dan manual, serta keterampilan khusus hijau," dikutip dari laporan International Labour Organization.

Keterampilan teknis dapat disesuaikan dengan bidang yang ingin dimasuki. Misalnya, calon pekerja energi terbarukan dapat mempelajari dasar kelistrikan dan teknologi energi, sedangkan seseorang yang tertarik pada sustainability perusahaan dapat mempelajari pengelolaan data lingkungan, ESG, carbon accounting, atau pelaporan keberlanjutan. Untuk bidang ekonomi sirkular, pengetahuan tentang pengelolaan material, limbah, desain produk, dan efisiensi sumber daya dapat menjadi nilai tambah.

Namun, jangan mengabaikan soft skill. WEF memperkirakan hampir 40 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2030. Selain keterampilan teknologi, creative thinking, ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi tetap menjadi kemampuan penting.

5. Peluang green jobs di Indonesia makin terbuka

ilustrasi bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Indonesia juga mulai menyiapkan ekosistem tenaga kerja hijau secara lebih terstruktur. Pada April 2025, Bappenas meluncurkan Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Indonesia yang mencakup delapan sektor prioritas, mulai dari energi terbarukan hingga ekonomi sirkular. Peta jalan tersebut dirancang untuk membantu menyiapkan SDM menghadapi transisi menuju ekonomi hijau.

Menurut Bappenas, pada 2025 jumlah tenaga kerja hijau di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 4 juta orang atau 2,7 persen dari total tenaga kerja. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 5,3 juta orang pada 2029 dalam skenario pertumbuhan ekonomi tinggi.

Bahkan, pekerjaan yang berpotensi menjadi hijau diproyeksikan mencapai 56 juta pada 2025 dan 72 juta pada 2029. Angka tersebut menunjukkan bahwa transisi hijau bukan hanya menciptakan profesi baru, tetapi juga dapat mengubah pekerjaan yang sudah ada.

"Sementara itu, jumlah pekerjaan yang berpotensi menjadi hijau diproyeksikan mencapai 56 juta pada 2025 dan meningkat menjadi 72 juta pada 2029. Ini menunjukkan mayoritas tenaga kerja Indonesia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi tenaga kerja hijau, dengan dukungan teknologi, keterampilan, dan kebijakan pemerintah yang tepat," dikutip dari laman resmi Bappenas.

Green jobs bukan sekadar pekerjaan yang “ramah lingkungan”, tetapi bagian dari perubahan besar cara manusia memproduksi, menggunakan energi, membangun kota, mengelola bisnis, dan memanfaatkan sumber daya. Bagi Gen Z, perkembangan ini membuka peluang untuk membangun karier yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan industri, tetapi juga berkontribusi pada persoalan lingkungan yang semakin nyata.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More