Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Novel Feminis tentang Pencarian Jati Diri, Menyentuh dan Mendalam

ilustrasi membaca buku
ilustrasi membaca buku (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • The Sand Child (1985) karya Tahar Ben Jelloun: - Kisah seorang perempuan yang dibesarkan sebagai laki-laki dalam masyarakat muslim tradisional dan patriarki. - Menjawab pertanyaan tentang arti menjadi perempuan dalam konstruksi gender.
  • Perempuan di Titik Nol (1977) karya Nawal El Saadawi: - Kisah Firdaus, terpidana mati yang menolak sistem secara total. - Memaparkan tubuh perempuan sebagai komoditas dalam pernikahan dan pelacuran.
  • The Bell Jar karya (1963) Sylvia Plath: - Potret perempuan depresi yang berjuang menemukan identitas tanpa harus memilih menjadi ibu atau karir. - Kritik terhadap ruang gerak perempuan di tahun 195
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam masyarakat, identitas perempuan dibangun melalui relasi yang kompleks, yaitu dengan tubuhnya, bahasa, cinta, budaya, bahkan kelas sosial. Pengalaman pribadi perempuan adalah bagian dari identitas dan pencarian jati diri. Semua pengalaman perempuan dituangkan ke dalam novel sebagai ruang untuk berbagi.

Novel-novel dengan tema pencarian jati diri gak hanya menghadirkan perempuan sebagai subyek cerita, tetapi juga sebagai subyek pemikiran yang mempertanyakan siapa dirinya. Oleh sebab itu, nobel-novel feminis dengan tema pencarian jati diri punya kekuatan reflektif yang mendalam, yang gak menawarkan jawaban instan tentang perempuan seharusnya menjadi siapa, tetapi membuka tafsir kemungkinan perempuan menjadi diri sendiri. Berikut rekomendasi novel-novel feminis tentang pencarian jati diri yang sangat menyentuh.

1. The Sand Child (1985) karya Tahar Ben Jelloun

sampul The Sand Child
sampul The Sand Child (amazon.co.uk)

The Sand Child berkisah tentang seorang ayah yang sudah memiliki tujuh anak perempuan, tetapi menginginkan anak laki-laki. Akhirnya anak ke delapan yang aslinya perempuan didandani dan dibuat seolah menjadi laki-laki yang bernama Ahmed.

Ahmed yang aslinya perempuan tumbuh dengan semua hak istimewa sebagai laki-laki di masyarakat muslim tradisional dan patriarki. Saat tumbuh remaja ia mulai mempertanyakan tentang perubahan biologis yang terjadi pada tubuhnya. Akhirnya, ia kabur dari rumah dan memulai perjalanan untuk mencari tahu siapa dirinya.

The Sand Child gak hanya berbicara tentang perempuan dan beban-beban tradisionalnya secara umum, tetapi juga berbicara tentang konstruksi gender itu sendiri. Novel ini menjawab dan mengeksplorasi pertanyaann apa artinya menjadi peremuan jika dunia hanya mengakuimu saat kamu harus dituntut berpura-pura menjadi laki-laki?

2. Perempuan di Titik Nol (1977) karya Nawal El Saadawi

buku Perempuan di Titik Nol (gramedia.com)
buku Perempuan di Titik Nol (gramedia.com)

Novel ini mengisahkan tentang Firdaus, perempuan terpidana mati karena membunuh seseorang. Ia menolak menandatangi pertisi grasi dan menolak semua tamu. Namun, malam terakhir sebelum eksekusi, ia bertemu dengan jurnalis dan menceritakan kisah hidupnya yang menyayat hati.

Sejak kecil, Firdaus tumbuh di desa yang miskin dan selalu mengalami penindasan. Ia sendiri mengalami pelecehan dan pernikahan paksa. Tak tahan dengan kehidupan menindas, Firdaus melarikan diri dan berakhir menjadi pelacur kelas atas. Ia menemukan sebuah paradoks bahwa saat menjadi pelacur dirinya merasa lebih bebas. Namun, hidupnya malah berakhir tragis saat terpaksa membunuh mucikari bernama Marzouk.

Novel ini memaparkan bahwa tubuh perempuan dianggap sebagai komoditas, baik dalam pernikahan mau pun pelacuran. Sepanjang hidupnya, Firdaus selalu didefinisikan oleh laki-laki dan berakhir memilih bahwa dia bukan milik siapa-siapa. Novel ini sangat provokatif karena penulis ingin menunjukkan bahwa dalam kondisi tertindas, cara satu-satunya bagi perempuan untuk keluar adalah dengan menolak sistem secara total.

3. The Bell Jar karya (1963) Sylvia Plath

sampul The Bell Jar
sampul The Bell Jar (amazon.in)

The Bell Jar mengisahkan tentang Esther Greenwoon, seorang perempuan cerdas, berbakat, dan ambisius. Ia memiliki segalanya yang dianggap ideal oleh masyarakat, kecerdasan, kecantikan, dan masa depan cerah. Namun, Esther merasa tertekan tatkala ia terjepit pada dua pilihan menjadi ibu dan istri yang patuh ayau mengejar karir sebagai seorang penulis dan penyair.

Kondisi mental Esther kian memburuk saat ia ditolak dari kelas menulis dan magangnya berakhir. Ia menderita insomnia parah dan melakukan serangkaian upaya bunuh diri yang gagal. The Bell Jar adalah potret dari perempuan yang depresi sekaligus berjuang menemukan identitas tanpa harus memilih menjadi ibu atau perempuan karir.

Novel ini adalah kritik terhadap ruang gerak perempuan yang sempit di tahun 1950-an. Bagi kamu yang ingin memahami antara kesehatan mental dan isu feminisme, maka The Bell Jar adalah bacaan yang tepat.

4. The Color Purple (1982) karya Alice Walker

sampul The Color Purple
sampul The Color Purple (amazon.com)

The Color Purple adalah novel yang mengikuti kehidupan Celie, seorang perempuan berkulit hitam yang hidup dalam kemiskinan dan penindasan ekstrem. Ia mengalamai pelecehan seksual dan pernikahan paksa. Namun, gak berhenti di situ, Celie mengalami rasisme karena berkulit hitam.

Karena merasa rendah diri, ia menulis surat pada Tuhan karena gak punya teman untuk berbicara. Ia kemudian mulai menulis surat pada adiknya untuk menunjukkan bahwa ia mulai menghargai hubungan antarmanusia. Celie pun menemukan bakatnya sebagai penjahit dan terbebas dari ketergantungan ekonomi dari laki-laki dan menjadi perempuan yang berdaya.

Berbeda dengan arus utama feminisme yang menyoroti kehidupan perempuan kult putih. Penulis menghadirkan interseksionalitas melalui sosok Celie yang mengalami penindasan ganda yaitu rasisme karena berkulit hitam, dan patriarki di dalam komunitas mereka sendiri.

5. The Golden Notebook (1962) karya Doris Lessing

sampul The Golden Notebook
sampul The Golden Notebook (amazon.in)

Menceritakan tentang Anna Wulf, seorang penulis yang mengalami writer’s block. Ia kemudian membagi pengalamannya dalam empat buku catatan. Buku hitam untuk menuliskan pengalamannya sebagai penulis dari Afrika. Buku merah tentang pengalamannya sebagai anggota partai komunis. Buku kuning berisi draf novel yang tengah ia tulis. Dan buku biru berupa buku harian untuk mencatat kehidupan sehari-hari.

Anna merasa jiwanya terpecah-pecah dan mulai menyatukannya layaknya puzzle lewat buku catatan yang ia tulis. Novel ini juga mengeksplorasi tentang seksualitas perempuan, kritik terhadap laki-laki, dan politik. The Golden Notebook mengajarkan bahwa untuk menemukan jati diri, kamu gak harus memilih menjadi satu hal saja. Melainkan harus berani menerima seluruh kekacauan dan kontradiks yang ada dalam diri.

Novel-novel di atas menegaskan bahwa identitas bukanlah hal yang statis, melainkan dinamis yang dapat berganti dan berubah. Pergulatan emosional dan psikologis bisa saja terjadi dan harus melalui proses yang panjang untuk menemukan jati diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

9 OOTD Seungyeon eks KARA, Versatile!

02 Jan 2026, 08:03 WIBLife