5 Novel Romantis Klasik Eileen Chang, Spesialis Bitter Ending

- Love in a Fallen City: Kumpulan cerpen berlatar Shanghai dan Hong Kong pada dekade 1930—1940-an, dengan sudut pandang perempuan dan referensi kultur Asia Timur yang kental.
- Half a Lifelong Romance: Novel berlatar Shanghai 1930-an, mengisahkan cinta antara Shijun dan Manzhen yang dihalangi oleh restu keluarga dan perbedaan sosial ekonomi.
- Naked Earth: Novel dengan latar politik kuat, mengikuti koneksi antarmanusia dalam program revolusi lahan Mao Zedong, menampilkan sudut pandang dua mahasiswa bernama Liu Ch'üan dan Su Nan.
Sedang mencari novel romantis klasik yang antimainstream? Coba jelajahi karya penulis China bernama Eileen Chang. Sempat dikritik karena kecenderungan apatisnya pada puncak kariernya (medio 1940—1950-an ketika politik China bergejolak hebat), sirkulasi novel romance Chang kembali bergeliat beberapa waktu sebelum ia tutup usia, terutama di Hong Kong. Tak sedikit, bahkan yang sudah pernah diadaptasi jadi film pada 90-an.
Beberapa dekade kemudian, tepatnya pada 2020-an, novel-novel Eileen Chang terbit ulang. Meski tak bisa dikategorikan sebagai feminis dan progresif, cerita cinta Chang disukai karena kepiawaiannya meramu dilema moral. Tak ada karakter yang benar-benar bersih atau bengis di novelnya. Ia juga tak segan membuat bitter ending yang mungkin dihindari pembaca.
Bisa jadi bacaanmu di kala senggang, ini beberapa rekomendasi novel romantis klasik karya Eileen Chang yang bisa kamu pilih. Masing-masing punya kisah yang menarik, lho!
1. Love in a Fallen City

Love in a Fallen City adalah kumpulan cerpen Eileen Chang berlatar Shanghai dan Hong Kong pada dekade 1930—1940-an. Mayoritas ceritanya ditulis dari sudut pandang perempuan dengan referensi kultur dan politik Asia Timur yang kental.
Latarnya yang paling mencolok adalah invasi Jepang atas China pada awal 1940-an. Salah satu cerita dalam buku ini difilmkan dengan judul yang sama pada 1984 oleh sutradara Hong Kong, Ann Hui, dibintangi Chow Yun-fat dan Cora Miao.
2. Half a Lifelong Romance

Kamu bisa juga memulai perkenalanmu dengan Eileen Chang lewat novel Half a Lifelong Romance. Chang mengambil latar Shanghai 1930-an dengan lakon utamanya, Shijun dan Manzhen. Mereka adalah sesama pekerja pabrik yang jatuh cinta satu sama lain.
Namun, ternyata restu keluarga, perbedaan kasta sosial ekonomi, sampai sebuah skema jahat menghalangi keduanya untuk bersatu. Buku ini juga sudah diadaptasi jadi film oleh Ann Hui pada 1997 dengan judul Eighteen Springs. Disusul dua serial lain asal Taiwan dan China yang tayang pada 2003 dan 2020.
3. Naked Earth

Meski mengambil latar politik yang kuat, Eileen Chang kembali mengajakmu fokus pada koneksi antarmanusia yang terjalin dalam novel Naked Earth. Seperti biasa, Chang akan mengajakmu mengikuti sudut pandang dua mahasiswa bernama Liu Ch'üan dan Su Nan. Mereka dipertemukan saat jadi relawan program revolusi lahan Mao Zedong. Selain menemukan ikatan, keduanya juga ditampar kenyataan soal program yang ternyata tak sesuai dengan ekspektasi dan idealisme awal mereka.
4. Red Rose, White Rose

Red Rose, White Rose adalah novel yang menggunakan perspektif kelas menengah China tahun 1920-an. Zhenbao, lakonnya, adalah pria yang punya segalanya. Karier mapan dan istri sempurna, tetapi pertemuannya dengan seorang perempuan nonkonformis mengguncang imannya.
Zhenbao jelas bukan protagonis yang bisa membuatmu bersimpati, tetapi narasi dan monolognya benar-benar mengalir dan seru diikuti. Buku ini sudah diadaptasi jadi film berjudul sama dan rilis pada 1994.
5. Lust, Caution

Disebut salah satu novel terakhir Chang sebelum ia tutup usia, Lust, Caution juga sudah diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Taiwan, Ang Lee, dengan Tony Leung Chiu Wai serta Tang Wei sebagai pemeran utamanya. Lust, Caution bergenre spy drama dengan subplot romance.
Protagonis utama Lust, Caution adalah Wang Chia-chih, aktris yang jadi direkrut kelompok pemberontak untuk menjebak salah satu tokoh penting dalam rezim Wang Jingwei yang pro-Jepang. Namun, dalam prosesnya, Wang Chia Cih justru jatuh cinta pada targetnya itu. Banyak kritikus yang percaya ini adalah dramatisasi kehidupan Eileen Chang sendiri yang pernah jadi istri seorang kolaborator Jepang.
Terlepas dari keputusan politik yang kontroversial, gaya kepenulisan Eileen Chang memang superior. Caranya meramu kalimat dan mendeskripsikan sebuah kejadian serta perasaan layak dianalisis dan dipelajari. Gak semua hal dalam bukunya harus kamu setujui; justru, dengan membaca, kamu bisa mengasah daya pikir kritis.


















