Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ramai Bahasan Summer School, Kenapa Fenomena Overclaiming Sering Terjadi?

Ramai Bahasan Summer School, Kenapa Fenomena Overclaiming Sering Terjadi?
ilustrasi sekelompok mahasiswa yang belajar di taman (pexels.com/Keira Burton)
Intinya Sih
  • Fenomena overclaiming summer school muncul ketika pengalaman singkat dikemas seolah beasiswa penuh, pertukaran pelajar, atau penerimaan sebagai mahasiswa tetap di kampus ternama.
  • Keinginan terlihat berprestasi, personal branding berlebihan, serta mengejar validasi dan engagement mendorong narasi pencapaian dibuat lebih besar dari kenyataannya.
  • Kesalahpahaman istilah pendidikan dan minimnya verifikasi membuat informasi tidak akurat mudah menyebar; penyampaian jujur serta pemeriksaan sumber diperlukan agar ruang digital lebih informatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Belakangan ini, istilah summer school ramai diperbincangkan di media sosial. Sayangnya, di tengah antusiasme tersebut, muncul pula fenomena overclaiming, yaitu ketika seseorang memberikan kesan yang berlebihan terhadap pencapaian atau pengalaman yang dimilikinya.

Tidak sedikit yang menyamakan summer school dengan beasiswa penuh, pertukaran pelajar, atau bahkan mengesankan seolah diterima sebagai mahasiswa tetap di universitas ternama, padahal ketiganya memiliki konsep yang berbeda. Lalu, mengapa fenomena overclaiming seperti ini sering terjadi di media sosial? Berikut beberapa alasannya.

1. Ingin terlihat lebih berprestasi

kelompok mahasiswa yang belajar bersama
ilustrasi kelompok mahasiswa yang belajar bersama (pexels.com/George Pak)

Media sosial membuat banyak orang ingin menampilkan versi terbaik dari dirinya. Keinginan tersebut sebenarnya wajar, tetapi terkadang mendorong seseorang memilih narasi yang terdengar lebih prestisius daripada kenyataannya.

Hal ini dapat membuat audiens memiliki pemahaman yang keliru mengenai jenis program yang sebenarnya diikuti. Pada akhirnya, pencapaian yang seharusnya tetap membanggakan justru kehilangan makna karena dibumbui klaim yang berlebihan.

2. Istilah yang masih banyak disalahpahami

dokumen pesyaratan summer school
ilustrasi dokumen pesyaratan summer school (pexels.com/cottonbro studio)

Masih banyak orang yang belum memahami perbedaan antara summer school, student exchange, short course, konferensi, maupun program gelar. Karena istilah-istilah tersebut terdengar mirip, tidak sedikit orang yang menganggap semuanya memiliki nilai dan proses seleksi yang sama.

Kondisi ini membuat informasi yang kurang tepat lebih mudah dipercaya oleh publik. Bahkan, sebagian orang mungkin ikut menggunakan istilah yang salah tanpa menyadari perbedaannya. Akibatnya, kesalahpahaman terus berulang dan semakin sulit diluruskan.

3. Budaya personal branding yang berlebihan

mengecek akun media sosial
ilustrasi mengecek akun media sosial (pexels.com/Brian Ramirez)

Personal branding menjadi bagian penting dalam membangun citra diri, terutama di era digital. Namun, keinginan untuk terlihat lebih unggul terkadang membuat seseorang melebih-lebihkan pengalaman yang dimiliki.

Informasi yang seharusnya sederhana akhirnya dikemas dengan cara yang terdengar jauh lebih besar dari kenyataannya. Padahal, personal branding yang efektif tidak harus dibangun dengan klaim yang berlebihan. Kejujuran justru lebih mampu membangun kepercayaan dan reputasi dalam jangka panjang.

4. Mengejar validasi dan engagement

dua mahasiswa yang berjalan berdampingan
ilustrasi dua mahasiswa yang berjalan berdampingan (pexels.com/George Pak)

Unggahan yang terdengar luar biasa biasanya lebih mudah menarik perhatian pengguna media sosial. Semakin banyak komentar, likes, dan shares yang diperoleh, semakin besar pula peluang sebuah unggahan menjadi viral.

Hal ini dapat memicu sebagian orang untuk menggunakan judul atau narasi yang sensasional demi meningkatkan interaksi. Sayangnya, cara tersebut sering kali mengorbankan akurasi informasi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat audiens semakin sulit membedakan fakta dan pencitraan.

5. Kurangnya kebiasaan melakukan verifikasi

mengecek data melalui website
ilustrasi mengecek data melalui website (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak pengguna media sosial cenderung langsung mempercayai informasi yang muncul di linimasa tanpa mencari sumber pembanding. Padahal, tidak semua unggahan memberikan penjelasan yang lengkap mengenai konteks sebuah program atau pencapaian. Kurangnya budaya verifikasi membuat informasi yang kurang akurat cepat menyebar dan terus diulang oleh banyak orang.

Oleh karena itu, penting untuk membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum menarik kesimpulan. Sikap kritis tidak hanya membantu menghindari kesalahpahaman, tetapi juga menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan edukatif.

Mengikuti summer school tetap merupakan pengalaman belajar yang berharga dan patut diapresiasi tanpa perlu dilebih-lebihkan. Menyampaikan pencapaian secara jujur bukan hanya membangun kredibilitas pribadi, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan media sosial yang lebih informatif dan tidak menyesatkan.

Dengan memahami perbedaan setiap program pendidikan dan membiasakan diri memverifikasi informasi, kita dapat lebih bijak dalam mengapresiasi prestasi orang lain tanpa terjebak pada narasi yang berlebihan. Jadi, bagaimana pendapat kalian?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More