Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cuma Modal Pikir Positif Bisa Sukses? Ini 4 Sisi Gelap LoA

4 min read
Cuma Modal Pikir Positif Bisa Sukses? Ini 4 Sisi Gelap LoA
Ilustrasi seseorang sedang menulis catatan rencana dan impian di buku harian (Unplash)
  • Law of Attraction dapat memicu toxic positivity ketika seseorang merasa harus selalu optimistis dan menekan emosi seperti sedih, kecewa, atau cemas.
  • Menganggap kegagalan semata akibat pikiran negatif berisiko membuat seseorang menyalahkan diri sendiri, padahal ada faktor ekonomi, persaingan, kondisi keluarga, dan strategi.
  • Pikiran positif perlu dibarengi tindakan nyata; dalam perspektif Islam, harapan, doa, usaha, dan tawakal diperlukan karena hasil tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak sih kamu lagi scroll TikTok, terus muncul video yang bilang gini: "Mau kaya? Cukup bayangin aja tiap hari. Tulis di jurnal, afirmasi sebelum tidur." Ya, namanya Law of Attraction atau sekarang lebih hits disebut manifesting.

Kedengerannya enak banget. Tinggal mikir positif, wishlist auto kecentang. Tapi bentar dulu. Kalau semua hidup kita ditentukan sama pikiran, terus gimana kalau kita udah positif banget trus tetap gagal?

Apakah vibrasinya kurang? Afirmasinya kurang kenceng? Atau malah kita yang "menarik" gagalnya? Nah, di sini sisi gelapnya mulai keliatan.

  1. 1. Harus positif terus sampai capek sendiri

    Ilustrasi seseorang menulis jurnal afirmasi positif
    Ilustrasi seseorang menulis jurnal afirmasi positif (pixabay.com/Pexels)

    "Jangan negatif, nanti energimu jelek."

    Kalimat ini kedengeran sepele, tapi kalau kebablasan bikin capek. Sedih gak boleh, kecewa gak boleh, dan cemas langsung dibilang energi negatif. Padahal kita manusia, bukan WiFi yang harus sinyalnya full terus.

    Ada kalanya sedih, marah, takut, merasa hidup berantakan, itu wajar. Justru kalau semua emosi gak enak dipaksa positif terus, kita malah gak sempat ngertiin diri sendiri lagi kenapa.

    Misal abis kena PHK. Bukannya ngakuin "aku lagi takut dan kecewa", malah maksa senyum bilang "aku harus positif". Padahal sedih bukan berarti nyerah. Kita bisa sedih sambil tetep usaha, kan?

    Kalau gak boleh ngerasa negatif sama sekali, itu bukan optimis lagi. Itu toxic positivity.

  2. 2. Gagal dikit, langsung nyalahin diri sendiri

    Bahaya toksic positivity karena harus positif terus
    Ilustrasi seorang perempuan yang terlihat kelelahan karena harus selalu terlihat bahagia (pixabay.com/kaboompics)

    Ini yang paling bahaya. Udah melamar kerja ke sana-kemari belum keterima, terus mikirnya: "Jangan-jangan aku kurang percaya. Jangan-jangan pikiranku negatif".

    Kok, jadi menyalahkan diri sendiri terus? Hidup gak sesimpel itu. Ada ekonomi, persaingan, keputusan perusahaan, kondisi keluarga, yang emang gak bisa kita kontrol.

    Kalau semua kegagalan dianggap karena pikiran kita yang negatif, ujungnya kita sibuk nyari "energi negatif" di dalam diri, bukan benerin strateginya. Padahal, gagal gak selalu berarti kamu salah. Kadang emang waktunya aja belum pas dan kadang strateginya yang perlu diganti.

  3. 3. Kebanyakan gebayangin, lupa gerak

    Ilustrasi vision board berisi rumah dan mobil yang hanya ditempel di dinding
    Ilustrasi vision board berisi rumah dan mobil yang hanya ditempel di dinding (pixabay.com/daha3131053)

    Ini jebakan manifesting yang paling sering kejadian. Rumah impian udah ada di Pinterest. Mobil impian udah jadi wallpaper. Tiap malem rajin nulis "aku akan sukses".

    Ujungnya, CV belum dikirim. Riset usaha belum mulai. Olahraga masih menunggu Senin dan Seninnya pindah terus ke minggu depan.

    Kamu merasa sudah melakukan sesuatu cuma karena udah membayangkannya terus. Padahal, membayangkan doang gak bakal ngapa-ngapain kalau gak dibarengin gerak. Pikiran positif itu starter-nya, tapi yang bikin jalan tetep usahanya.

  4. 4. Lupa kalau ada yang ngatur hasil akhirnya

    Ilustrasi seorang yang sedang berdoa dan tawakal setelah berusaha
    Ilustrasi seorang yang sedang berdoa dan tawakal setelah berusaha (pixabay.com/Konevi)

    Abis sibuk membayangkan, ada satu hal yang sering kelupaan: siapa sih yang beneran menentukan hasil hidup kita? Kalau kita percaya semuanya kejadian cuma karena pikiran kita yang kuat, lama-lama posisi Tuhan bisa tergeser tanpa sadar.

    Di Islam, kita diajarin lengkap kok: punya harapan baik itu boleh, berdoa boleh, usaha wajib, abis itu tawakal. Kita boleh banget punya target ingin kaya, ingin kerja bagus, ingin nikah sama orang yang kita suka. Silakan. Tapi, jangan sampai mikir semuanya pasti kejadian cuma karena kita mikirinnya cukup kuat.

    Kita punya batas. Kita gak bisa mengatur ekonomi, gak bisa mengatur keputusan orang lain, bahkan besok bakal kejadian apa pun kita gak tahu. Jadi kalau keinginan belum kejadian, gak usah langsung mikir "aku kurang positif". Bisa jadi emang strateginya perlu dibenerin, waktunya belum tepat, atau bisa jadi yang menurut kita baik, ternyata bukan yang terbaik menurut Allah.

    Tawakal itu bukan pasrah tanpa usaha, tapi usaha semaksimal mungkin tanpa harus merasa bisa mengontrol semua hasil. Jadi, masih boleh gak sih mikir positif? Jawabannya jelas boleh banget.

    Punya mimpi silakan. Bikin target silakan. Afirmasi biar lebih pede juga gak apa-apa. Yang perlu diwaspadai itu kalau kita mulai percaya pikiran kita punya kekuatan mutlak buat mengatur semua kejadian hidup.

    Hidup bukan mesin yang jalanin apa yang kita ketik di kepala. Ada usaha, kejadian gak terduga, ada orang lain, dan buat kita yang beriman, ada kehendak Allah. Gak perlu takut sedih cuma karena takut vibrasi turun. Gak perlu menyalahkan diri sendiri tiap gagal. Jangan sampai sibuk membayangkan hidup impian sampai lupa menjalani prosesnya. Kalau menurut kamu, berpikir positif selama ini lebih banyak membantu atau malah bikin kamu makin terbebani?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More