Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tekanan Sosial Calon Maba dan Cara Mengatasinya dengan Sehat

Tekanan Sosial Calon Maba dan Cara Mengatasinya dengan Sehat
ilustrasi perempuan sedang stres (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
  • Banyak calon mahasiswa baru menghadapi tekanan sosial dari keluarga, teman, dan media sosial yang membuat mereka cemas serta kehilangan kepercayaan diri menjelang masuk perguruan tinggi.
  • Tekanan umum meliputi tuntutan masuk kampus ternama, perbandingan diri di media sosial, dan ekspektasi keluarga yang tinggi terhadap jurusan atau universitas pilihan.
  • Artikel menekankan pentingnya fokus pada pengembangan diri, komunikasi terbuka dengan keluarga, serta menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental untuk menghadapi tekanan secara sehat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Menjadi calon mahasiswa baru atau maba sering kali dibayangkan sebagai masa yang menyenangkan. Setelah bertahun-tahun belajar di sekolah, akhirnya kesempatan untuk masuk perguruan tinggi semakin dekat. Namun, di balik semangat tersebut, banyak calon maba justru menghadapi tekanan sosial yang cukup besar.

Tekanan ini bisa datang dari mana saja. Mulai dari keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, hingga media sosial yang setiap hari menampilkan berbagai pencapaian orang lain. Tidak sedikit calon mahasiswa yang merasa cemas, minder, bahkan kehilangan kepercayaan diri karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Padahal, perjalanan menuju bangku kuliah setiap orang tidak pernah benar-benar sama. Ada yang berhasil masuk kampus impian dalam satu kali ujian, ada yang harus mencoba beberapa kali, bahkan ada yang memilih jalur pendidikan atau karier yang berbeda. Semua pilihan tersebut tetap memiliki nilai dan peluang masing-masing. Lantas, apa saja bentuk tekanan sosial yang sering dialami calon maba dan bagaimana cara menghadapinya dengan sehat?

1. Tekanan untuk masuk kampus terkenal

ilustrasi kampus
ilustrasi kampus (unsplash.com/Erika Fletcher)

Salah satu tekanan yang paling umum adalah anggapan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih jika berhasil masuk kampus ternama. Akibatnya, banyak calon mahasiswa merasa gagal ketika tidak diterima di universitas yang dianggap bergengsi. Padahal, dunia kerja dan kehidupan setelah kuliah tidak hanya ditentukan oleh nama kampus. Kemampuan, pengalaman, keterampilan, serta kemauan untuk terus belajar sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam jangka panjang.

Jika kamu sedang menghadapi tekanan ini, cobalah mengalihkan fokus pada kualitas pendidikan, lingkungan belajar, dan kesempatan berkembang yang akan kamu dapatkan, bukan hanya pada reputasi kampus semata. Nama besar sebuah universitas memang bisa menjadi nilai tambah, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan seseorang di masa depan. Faktanya, banyak lulusan dari kampus yang tidak terlalu populer berhasil membangun karier yang luar biasa karena mereka aktif mengikuti organisasi, memperluas jaringan, mengasah keterampilan, dan terus mengembangkan diri selama masa kuliah.

2. Membandingkan diri dengan teman

ilustrasi belajar bersama (unsplash.com/Keisha Kim)
ilustrasi belajar bersama (unsplash.com/Keisha Kim)

Media sosial membuat proses membandingkan diri menjadi semakin mudah. Ketika teman mengunggah hasil seleksi, foto kampus impian, atau berbagai prestasi akademik, sebagian calon maba mulai merasa tertinggal. Masalahnya, yang terlihat di media sosial biasanya hanya bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita jarang melihat perjuangan, kegagalan, atau rasa cemas yang mereka alami di balik layar.

Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, cobalah melihat pencapaian mereka sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk terus berkembang. Setiap orang memiliki latar belakang, kemampuan, kesempatan, serta tantangan yang berbeda, sehingga perjalanan menuju kesuksesan pun tidak akan pernah benar-benar sama. Kamu tidak perlu meniru langkah orang lain secara persis, karena kamu tetap bisa mencapai tujuan yang baik melalui jalan dan proses yang sesuai dengan kondisi dirimu sendiri.

3. Ekspektasi keluarga yang terlalu tinggi

ilustrasi orangtua sedang memarahi anak (pexels.com/Monstera)
ilustrasi orangtua sedang memarahi anak (pexels.com/Monstera)

Banyak calon mahasiswa juga menghadapi tekanan dari keluarga. Ada orangtua yang berharap anaknya masuk jurusan tertentu atau diterima di universitas tertentu karena dianggap lebih prestisius. Niat keluarga biasanya baik, tetapi ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membuat calon mahasiswa merasa terbebani. Bahkan, ada yang mulai merasa takut mengecewakan orangtua jika hasil seleksi tidak sesuai harapan.

Dalam situasi seperti ini, komunikasi menjadi sangat penting. Cobalah menjelaskan kondisi dan kemampuanmu secara jujur. Orangtua umumnya lebih mudah memahami ketika melihat bahwa anaknya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh.

4. Takut dianggap gagal

ilustrasi mendapatkan hasil tes yang mengecewakan
ilustrasi mendapatkan hasil tes yang mengecewakan (pexels.com/BOOM 💥 Photography)

Bagi sebagian orang, tidak lolos seleksi perguruan tinggi terasa seperti akhir dari segalanya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Gagal dalam satu jalur seleksi bukan berarti gagal dalam hidup. Masih ada berbagai pilihan lain yang bisa diambil, mulai dari jalur masuk yang berbeda, gap year, pendidikan vokasi, hingga berbagai program pelatihan yang relevan dengan dunia kerja. Cara pandang yang terlalu sempit terhadap kegagalan sering kali menjadi sumber tekanan yang sebenarnya tidak perlu.

5. Merasa harus selalu produktif

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (unsplash.com/Annie Spratt)

Menjelang masa seleksi, banyak calon mahasiswa merasa harus belajar tanpa henti. Ketika sedang beristirahat, mereka justru merasa bersalah karena menganggap waktu tersebut terbuang. Padahal tubuh dan pikiran juga membutuhkan waktu untuk memulihkan energi. 

Produktif bukan berarti bekerja atau belajar selama 24 jam. Produktif berarti mampu menggunakan waktu secara efektif sambil tetap menjaga kesehatan fisik dan mental. Sebaliknya, belajar secara berlebihan justru dapat meningkatkan stres dan menurunkan konsentrasi. 

Pada akhirnya, tekanan sosial akan selalu ada dalam berbagai fase kehidupan. Namun, ketika kamu mampu mengenali sumber tekanan tersebut dan menghadapinya dengan cara yang sehat, proses menuju dunia perkuliahan akan terasa lebih ringan. Fokuslah pada perkembangan dirimu sendiri karena perjalanan yang paling penting bukanlah menjadi lebih baik dari orang lain, melainkan menjadi lebih baik dari dirimu yang kemarin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira

Related Articles

See More