Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Tips Menjaga Kesehatan Anak di Tengah Kualitas Udara yang Buruk
ilustrasi menggunakan masker (magnific.com/prostooleh)
  • Anak rentan terhadap polusi karena organ dan sistem kekebalan masih berkembang, serta bernapas lebih cepat dan menghirup lebih banyak udara dibanding orang dewasa.
  • Orang tua perlu memantau AQI, membatasi aktivitas luar saat udara buruk, menjaga rumah tertutup dari polutan, dan menghindari asap rokok, pembakaran, serta aktivitas memasak berasap.
  • Jika anak harus bepergian, pilih rute minim polusi dan batasi waktu di luar; perhatikan batuk, sesak, atau iritasi, lalu cari bantuan medis bila gejala memburuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kualitas udara yang buruk dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari asap kendaraan hingga asap kebakaran hutan dan lahan. Paparan partikel halus yang terkandung dalam udara kotor dapat mengganggu sistem pernapasan dan memicu masalah kesehatan, terutama pada anak-anak. Karena itu, orang tua perlu mengambil langkah perlindungan agar anak tetap sehat ketika kualitas udara di lingkungan sekitar menurun.

Anak-anak termasuk kelompok rentan karena paru-paru, sistem kekebalan tubuh, dan organ lainnya masih berkembang. Mereka juga cenderung lebih aktif, bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa, serta menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat tubuhnya. Berikut empat tips yang dapat diterapkan orang tua untuk mengurangi risiko kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.

1. Pantau kualitas udara sebelum mengajak anak beraktivitas di luar

ilustrasi memantau aplikasi cuaca (unsplash.com/Joe Chau)

Orang tua sebaiknya memeriksa indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) melalui aplikasi pemantau udara atau informasi dari instansi resmi sebelum mengajak anak bermain di luar rumah. Ketika kualitas udara memburuk akibat polusi atau asap kebakaran, batasi kegiatan di luar ruangan, terutama aktivitas fisik yang membuat anak bernapas lebih cepat. Langkah ini dapat membantu mengurangi jumlah polutan yang masuk ke saluran pernapasan anak.

Jika kondisi udara tidak sehat, kegiatan seperti bersepeda, bermain bola, atau berlari di luar rumah sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Orang tua dapat menggantinya dengan permainan di dalam ruangan yang tetap membuat anak aktif tanpa meningkatkan paparan udara kotor dari luar. Perhatikan juga informasi dari sekolah mengenai penyesuaian kegiatan luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk.

2. Jaga udara di dalam rumah tetap bersih

ilustrasi menutup jendela (magnific.com/magnific)

Berada di dalam rumah dapat mengurangi paparan asap dari luar, tetapi perlindungan ini tidak selalu efektif jika polutan masih masuk melalui pintu, jendela, atau ventilasi. Saat asap kebakaran atau polusi meningkat, tutup pintu dan jendela jika memungkinkan, lalu gunakan pendingin udara dengan pengaturan sirkulasi ulang atau recirculate. Pembersih udara dengan filter partikulat berefisiensi tinggi atau HEPA juga dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.

Selain mengurangi polutan dari luar, orang tua perlu menghindari sumber pencemaran udara di dalam rumah. Jangan merokok di dekat anak, membakar sampah, atau menyalakan dupa dan lilin ketika kualitas udara sedang buruk. Aktivitas memasak yang menghasilkan banyak asap juga sebaiknya dikurangi karena dapat menambah partikel di udara yang dihirup anak.

3. Kurangi paparan saat anak harus bepergian

ilustrasi anak memakai masker (magnific.com/jcomp)

Terkadang, anak tetap harus keluar rumah untuk bersekolah, menjalani pemeriksaan kesehatan, atau memenuhi kebutuhan lainnya. Jika perjalanan tidak dapat ditunda, pilih rute yang sebisa mungkin menjauhi jalan padat kendaraan dan area yang terdampak asap kebakaran. Saat menggunakan mobil, tutup jendela dan aktifkan sirkulasi udara dalam kendaraan untuk membantu mengurangi masuknya polutan dari luar.

Masker yang sesuai dan terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus dalam kondisi tertentu, tetapi tidak semua masker memberikan perlindungan yang sama. Untuk anak, pemilihan masker harus mempertimbangkan usia, ukuran, hingga kemampuan bernapas. Jangan memaksakan penggunaan masker pada bayi atau anak yang kesulitan bernapas, dan tetap utamakan mengurangi waktu berada di luar ruangan.

4. Kenali gejala gangguan kesehatan dan segera ke dokter

ilustrasi anak dan dokter (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Paparan udara kotor dapat menyebabkan mata terasa perih, hidung atau tenggorokan teriritasi, batuk, dan sesak napas. Anak yang memiliki asma atau penyakit pernapasan lainnya juga berisiko mengalami gejala yang lebih berat ketika terpapar polusi maupun asap kebakaran. Karena anak belum tentu mampu menjelaskan keluhannya dengan jelas, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku, pola tidur, dan aktivitas sehari-harinya.

Jika anak mengalami batuk yang memburuk atau keluhan pernapasan yang menetap, hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang sesuai. Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya. Orang tua juga perlu mengikuti anjuran dokter, terutama jika anak memiliki kondisi kesehatan yang membutuhkan pengobatan rutin.

Kualitas udara yang buruk bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan. Orang tua dapat membantu mengurangi risikonya dengan memantau kondisi udara, menjaga kebersihan udara di rumah, membatasi paparan saat bepergian, dan mengenali gejala sejak dini. Meski tidak semua sumber polusi dapat dikendalikan, langkah perlindungan tersebut dapat membantu anak menghirup udara yang lebih bersih dan tetap aman beraktivitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article