Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Toddler Tidak Mau Buang Air di Toilet, Ini Cara Membantunya
ilustrasi anak kecil berkumur (pexels.com/mikhailnilov)
  • Penolakan toddler untuk BAB di toilet umum terjadi karena belum siap secara fisik-emosional, pernah merasa sakit, takut pada toilet, atau ingin memiliki kendali.
  • Orangtua perlu memperhatikan sembelit, tinja keras, dan keluhan nyeri; konsultasi ke dokter anak disarankan sebelum kembali berfokus pada potty training.
  • Pendekatan bertahap tanpa paksaan dapat dilakukan lewat pilihan sederhana, pengenalan toilet perlahan, pijakan kaki, serta jadwal duduk di toilet setelah makan dan sebelum tidur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Potty training menjadi salah satu tahap perkembangan yang cukup menantang bagi orangtua dan toddler. Si kecil mungkin sudah berhasil pipis di toilet, tetapi ketika waktunya BAB, ia justru menolak dan memilih tetap menggunakan popok.

Kondisi ini sebenarnya cukup umum dan tidak selalu berarti anak sedang keras kepala. Ada beberapa alasan yang bisa membuat toddler belum mau BAB di toilet, mulai dari belum siap, pernah mengalami BAB yang menyakitkan, hingga merasa takut atau ingin memiliki kendali atas dirinya sendiri. Ketahui lebih lengkap alasan toddler menolak buang air ke toilet serta cara mengatasinya!

1. Toddler sebenarnya belum siap menjalani potty training

ilustrasi orang tua bermain bersama anak (pexels.com/keiraburton)

Setiap anak memiliki waktu kesiapan yang berbeda untuk menggunakan toilet. Meski sudah mencapai usia tertentu, toddler belum tentu siap, terutama untuk BAB, sehingga kesiapan fisik dan emosional perlu diperhatikan agar proses potty training tidak terasa menekan.

Tanda kesiapan antara lain mampu menahan pipis lebih lama, memberi tahu saat popok basah atau kotor, mengikuti instruksi sederhana, dan mulai tertarik menggunakan toilet. Jika tanda tersebut belum terlihat, beri anak waktu karena memulai potty training terlalu dini justru dapat membuatnya takut menggunakan toilet.

“Kamu tidak bisa memaksa toddler menggunakan toilet hanya karena kamu ingin memulai potty training,” ujar Deborah Goldman, M.D., dokter spesialis gastroenterologi anak, dilansir Cleveland Clinic.

2. Pernah mengalami BAB yang menyakitkan

ilustrasi anak menangis (pexels.com/keiraburton)

Pengalaman BAB yang menyakitkan dapat membuat toddler takut mengalaminya lagi. Tinja yang keras atau berukuran besar bisa membuat anak memilih menahan BAB atau kembali menggunakan popok karena terasa lebih aman.

Menurut Deborah Goldman, satu kali BAB yang menyakitkan dapat membuat anak mengaitkan BAB dengan rasa sakit dan mulai menahannya. Kebiasaan ini justru membuat tinja semakin keras sehingga BAB berikutnya terasa lebih sulit dan menyakitkan.

“Satu kali buang air besar yang menyakitkan mungkin sudah cukup untuk membuat anak mengasosiasikan rasa sakit dengan BAB, sehingga mereka mulai menahannya,” ujar Deborah Goldman.

Jika anak tampak sering menahan BAB, mengalami tinja keras, atau mengeluh sakit ketika BAB, masalah sembelit sebaiknya diperhatikan terlebih dahulu. Konsultasikan dengan dokter anak untuk mengetahui cara yang tepat mengatasi sembelit sebelum kembali fokus pada potty training.

3. Toilet membuat toddler merasa takut

ilustrasi anak berbaring di pangkuan ibu (pexels.com/kseniachernaya)

Bagi toddler, toilet bisa terlihat besar, tinggi, dan menakutkan. Suara siraman yang keras, air yang bergerak, atau lubang toilet yang besar dapat membuat anak khawatir akan terjatuh atau bahkan tersedot ke dalamnya. Perasaan takut tersebut bisa membuat anak lebih memilih BAB di popok yang sudah terasa familier baginya.

Karena itu, jangan langsung menganggap ketakutan anak sebagai sesuatu yang berlebihan. Cobalah mencari tahu bagian mana dari toilet yang membuatnya tidak nyaman, kemudian bantu secara perlahan tanpa memaksanya.

“BAB di toilet menakutkan bagi banyak anak. Mereka mungkin merasa seolah-olah kehilangan bagian dari tubuh mereka ketika BAB,” ujar Adiaha Spinks-Franklin, M.D., dokter anak di Meyer Center for Developmental Pediatrics, Texas Children’s Hospital, dikutip dari Parents.

Orangtua dapat memperkenalkan toilet secara bertahap, misalnya membiarkan anak BAB menggunakan popok tetapi melakukannya di kamar mandi. Setelah terbiasa, anak bisa diajak duduk di potty sambil tetap memakai popok sebelum akhirnya perlahan beralih tanpa popok.

4. Toddler ingin merasa punya kendali

ilustrasi toddler membuat kerajinan tangan (pexels.com/shkrabaanthony)

Toddler sedang belajar mandiri dan memiliki kendali atas dirinya sendiri. Karena itu, menolak BAB di toilet bisa menjadi cara anak menunjukkan bahwa ia ingin menentukan pilihannya sendiri, terutama ketika sebagian besar aktivitas hariannya masih diatur orangtua.

Alih-alih memaksa, berikan pilihan sederhana seperti memilih celana dalam atau menentukan siapa yang akan menyiram toilet. Cara ini membantu anak merasa memiliki kendali tanpa menghilangkan batasan yang tetap diperlukan selama potty training.

“Penting untuk mengambil langkah mundur dan menghindari pertarungan kekuasaan. Belajar untuk tidak terlibat merupakan keterampilan penting dalam mengasuh anak,” ujar Allison Chase, Ph.D., psikolog yang berspesialisasi pada anak dan keluarga, dikutip dari Parents.

5. Toddler belum nyaman dengan posisi BAB di toilet

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

BAB membutuhkan posisi tubuh yang membuat anak bisa mengejan dengan nyaman. Jika kaki toddler menggantung ketika duduk di toilet, ia mungkin kesulitan mendapatkan tumpuan yang cukup untuk mengeluarkan tinja. Kondisi ini bisa membuat BAB terasa lebih sulit dibandingkan ketika anak berjongkok menggunakan popok.

Untuk membantu, gunakan pijakan kaki yang kokoh sehingga telapak kaki anak dapat bertumpu dengan nyaman. Posisi tubuh yang lebih stabil dapat membuat anak merasa lebih aman sekaligus memudahkannya mengejan ketika BAB.

6. Perhatiannya mudah teralihkan

ilustrasi toddler membuat kerajinan tangan (pexels.com/silverkblack)

Bagi toddler, berhenti bermain untuk pergi ke toilet tentu terasa kurang menarik. Meski sudah ingin BAB, anak bisa saja memilih menahannya karena masih asyik dengan aktivitas yang sedang dilakukan, sehingga kebiasaan ini dapat menghambat proses potty training.

Orangtua bisa membantu dengan membuat jadwal ke toilet secara rutin, misalnya mengajak anak duduk di toilet setelah makan dan sebelum tidur. Dikutip dari Cleveland Clinic, waktu setelah makan juga menjadi momen yang baik karena tubuh secara alami lebih terdorong untuk BAB.

Pada akhirnya, toddler yang belum mau BAB di toilet tidak selalu membutuhkan tekanan lebih besar. Memahami alasan di balik penolakannya, memastikan tidak ada sembelit atau rasa sakit, serta memberikan kesempatan untuk belajar secara bertahap dapat membantu potty training berjalan lebih nyaman bagi anak maupun orangtua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article