Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Bukan Bahan Konten: Ada Batas Privasi yang Perlu Dipahami Orangtua
ilustrasi memotret anak (pexels.com/PNW Production)

Orangtua baru saja selesai membuat video anaknya yang sedang menangis. Menurut mereka, ekspresi si kecil begitu lucu hingga ia merasa sayang jika momen tersebut hanya tersimpan di galeri ponsel. Video itu pun diunggah ke media sosial, diberi keterangan jenaka, lalu dibagikan kepada teman-temannya. Beberapa menit kemudian, komentar dan tanda suka mulai berdatangan. Ada yang tertawa, ada yang menganggap anak itu menggemaskan, dan ada pula yang membagikan ulang videonya.

Bagi orangtua, semuanya mungkin terasa seperti hiburan biasa. Namun, bagaimana jika beberapa tahun kemudian anak tersebut menemukan videonya sendiri dan merasa malu? Bagaimana jika rekaman yang awalnya hanya ditujukan untuk teman-teman berubah menjadi bahan olok-olok di sekolah? Berikut batas privasi anak yang perlu dipahami orangtua di era media sosial.

1. Anak bukan sekadar tokoh dalam cerita orangtua

ilustrasi memotret anak kecil (freepik.com/freepik)

Ada orangtua yang senang membagikan hampir semua aktivitas anaknya, mulai dari bangun tidur, makan, bermain, sampai ketika sedang rewel. Sebagian melakukannya karena ingin menyimpan kenangan, sementara yang lain merasa senang ketika unggahannya mendapat banyak respons.

Tidak sedikit pula yang menjadikan pengalaman mengasuh anak sebagai konten rutin karena dianggap dekat dengan kehidupan banyak orang. Psikolog klinis berlisensi Keneisha Sinclair-McBride, PhD, dari Boston Children's Hospital, membahas persoalan ini dalam wawancara bersama American Psychological Association (APA).

"Menurut saya, risikonya jelas meningkat dibandingkan sebelumnya. Saat Anda mengunggah sesuatu ke internet, konten tersebut pada dasarnya bukan lagi milik Anda sepenuhnya. Siapa saja bisa mengunduh dan mengaksesnya, lalu menggunakannya sesuka hati," jelas Keneisha.

Ia menjelaskan bahwa orangtua biasanya membagikan kehidupan anak dengan niat positif, seperti membangun koneksi dan mendapatkan dukungan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa konten yang sudah diunggah ke internet dapat diunduh, diakses, dan digunakan orang lain di luar kendali pemiliknya.

Di sinilah orangtua perlu membedakan antara membagikan pengalaman sebagai orangtua dan menjadikan seluruh kehidupan anak sebagai tontonan. Bercerita tentang rasa lelah mengasuh anak, misalnya, tidak harus disertai video anak yang sedang mengamuk atau foto yang memperlihatkan kondisi pribadinya.

2. Jangan sampai rasa lucu orangtua berubah menjadi rasa malu anak di kemudian hari

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Orione Conceicao)

Pernahkah kamu melihat video anak yang sedang menangis, mengompol, mengucapkan sesuatu dengan polos, atau melakukan kesalahan kecil, lalu video tersebut diberi musik lucu agar menarik perhatian? Bagi orangtua, momen itu mungkin menghibur.

Namun, anak yang menjadi tokoh utama dalam video belum tentu memahami mengapa pengalaman pri badinya ditertawakan banyak orang. Stacey Steinberg, profesor hukum di University of Florida dan pakar sharenting, menekankan pentingnya mempertimbangkan sudut pandang anak sebelum membagikan foto atau cerita tentang mereka.

Ia menyarankan orangtua menghindari cerita dan foto yang terlalu pribadi atau memalukan, meskipun terlihat lucu bagi orang dewasa. Pesan ini mengingatkan bahwa ukuran kepantasan konten tidak cukup ditentukan oleh seberapa banyak orang tertawa atau memberikan tanda suka.

"Anak-anak kecil belum bisa memberikan persetujuan yang didasari pemahaman penuh (informed consent) terkait aktivitas berbagi ini. Kita perlu mempertimbangkan perasaan mereka seandainya kita bisa melakukan percakapan yang lebih mendalam dan mereka mampu mengutarakan pendapat mereka," kata Stacey Steinberg kepada UNICEF.

"Hal yang bisa dilakukan orangtua adalah menghindari penyebaran informasi yang terlalu pribadi mengenai anak-anak mereka, seperti cerita atau foto yang memalukan, meskipun orangtua mungkin menganggapnya lucu," tambahnya.

3. Wajah, lokasi, dan rutinitas anak bukan informasi sepele

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/sofatutor)

Sebuah foto hari pertama sekolah mungkin terlihat sederhana. Anak berdiri dengan seragam baru, tersenyum di depan gerbang, lalu orangtua menambahkan keterangan berisi nama sekolah dan kelasnya. Tanpa disadari, unggahan itu bisa memuat beberapa informasi sekaligus yang membantu orang lain mengenali identitas anak dan tempat ia beraktivitas.

American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat, menjelaskan dalam panduan Sharing Photos and Videos of Children on Social Media (“Sharenting”), menjelaskan bahwa membagikan konten anak kepada publik dapat menimbulkan risiko, termasuk kontak yang tidak diinginkan, terbukanya informasi lokasi, dan penyalahgunaan identitas. AAP juga menyoroti kemungkinan foto atau video dimanipulasi menggunakan teknologi AI.

"Meskipun sangat wajar jika Anda ingin mengunggah foto anak-anak atau membagikan pencapaian mereka kepada keluarga dan teman di media sosial, penting untuk berhati-hati mengenai informasi apa yang Anda bagikan tentang diri sendiri dan anak-anak secara daring. Namun, ketika foto dibagikan kepada khalayak umum, praktik ini yang oleh sebagian orang disebut sebagai sharenting, dapat menimbulkan risiko seperti kontak yang tidak diinginkan atau paparan terhadap predator daring," jelasnya.

"Meningkatnya popularitas AI generatif juga menghadirkan risiko baru bagi anak-anak di dunia maya. AI dapat menghasilkan konten baru seperti gambar, video, audio, dan teks, berdasarkan instruksi (prompt) dari pengguna, termasuk memodifikasi foto atau video yang sudah ada," tambahnya.

Risiko tersebut bukan berarti setiap unggahan akan berujung pada bahaya. Namun, orangtua perlu menyadari bahwa mereka tidak selalu mengetahui siapa yang melihat atau menyimpan konten tersebut. Hindari menampilkan alamat rumah, logo sekolah, jadwal kegiatan rutin, dokumen identitas, dan lokasi secara langsung.

4. Menghormati privasi anak berarti mengajarkan persetujuan sejak dini

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/cottonbro studio)

Ketika anak mulai tumbuh besar, mereka biasanya mulai menunjukkan pilihan sendiri. Ada yang tidak suka difoto saat sedang makan, ada yang malu ketika orangtuanya mengunggah video saat bermain, dan ada pula yang lebih nyaman jika fotonya hanya dilihat keluarga dekat.

Keinginan tersebut terkadang dianggap sepele oleh orangtua, terutama jika mereka merasa tidak ada hal buruk dalam foto yang dibagikan. Padahal, meminta izin sebelum membagikan foto bisa menjadi pelajaran penting tentang persetujuan atau consent.

"Saat kita membagikan hal-hal mengenai anak-anak kita secara daring tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut, kita melewatkan kesempatan berharga untuk mengajarkan serta memberikan contoh kepada mereka tentang konsep persetujuan (consent)," kata Stacey Steinberg.

Tentu saja, bayi dan balita belum mampu memahami seluruh konsekuensi dari sebuah unggahan. Orangtua tetap perlu mengambil keputusan demi keselamatan mereka. Namun, ketika anak sudah bisa menyampaikan keinginan, libatkan mereka dalam menentukan foto atau cerita yang boleh dibagikan.

Jika anak mengatakan tidak, dengarkan alasannya dan hormati batasannya. Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa tubuh, wajah, pengalaman, dan cerita pribadinya bukan sesuatu yang otomatis boleh dibagikan tanpa pertimbangan.

5. Orangtua tetap bisa berbagi, asalkan tahu batasnya

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Membahas privasi anak bukan berarti orangtua harus berhenti mengunggah seluruh foto keluarga. Ada momen yang memang ingin dibagikan, seperti perayaan ulang tahun, pencapaian anak, atau kebersamaan dengan keluarga besar. Media sosial juga bisa membantu kerabat yang tinggal berjauhan agar tetap merasa dekat.

Yang perlu diubah bukan selalu kebiasaan berbagi, melainkan cara orangtua mempertimbangkan dampak setiap unggahan. American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua mempertimbangkan alasan mengunggah konten, kemungkinan anak merasa malu sekarang atau di masa depan, serta apakah informasi tersebut layak menjadi bagian dari jejak digital anak.

Selain memilah konten, orangtua dapat mengatur akun menjadi privat, membatasi pengikut, menonaktifkan penanda lokasi, dan menyepakati batasan dengan keluarga besar agar foto anak tidak diunggah ulang tanpa izin.

“Para peneliti juga menyarankan strategi praktis saat mengambil foto/video dan mengunggah konten. Ambil foto/video anak dari jarak jauh atau saat mereka sedang tidak menghadap ke kamera. Fokus pada bagian tubuh tertentu. Tutupi wajah mereka dengan emoji atau gunakan efek buram (blur) pada wajah. Hilangkan elemen yang dapat mengungkap identitas dari foto (misalnya, nama atau logo sekolah),” saran AAP.

"Langkah-langkah untuk membatasi paparan informasi ini dapat membantu melindungi privasi anak Anda, namun juga bisa memicu kritik atau pertanyaan dari anggota keluarga maupun kenalan lain yang tidak memahami keputusan Anda," dikutip dalam panduan AAP.

Jika selama ini orangtua sudah sering membagikan foto atau video anak, tidak perlu langsung merasa bersalah. Mulailah dengan meninjau unggahan lama, menghapus konten yang terlalu pribadi, dan mengevaluasi kebiasaan berbagi ke depannya.

Orangtua juga bisa menjelaskan kepada kerabat mengapa ada foto yang tidak ingin disebarluaskan. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun lingkungan digital yang lebih menghargai anak.

Pada akhirnya, anak bukan bahan konten yang harus selalu hadir dalam setiap unggahan untuk membuat akun orangtua terlihat menarik. Mereka adalah individu yang sedang tumbuh, belajar mengenali diri sendiri, dan berhak memiliki ruang pribadi. Orangtua boleh merasa bangga, ingin berbagi kebahagiaan, atau mengabadikan setiap tahap tumbuh kembang anak. Namun, kasih sayang juga berarti tahu kapan sebuah momen cukup disimpan sebagai kenangan keluarga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article