Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kebiasaan Anak yang Sering Dianggap Menyebalkan, Tanda Pola Asuh Tepat

Kebiasaan Anak yang Sering Dianggap Menyebalkan, Tanda Pola Asuh Tepat
ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)
  • Kebiasaan seperti berbicara sendiri saat bermain, sering bertanya, dan berani mengoreksi orangtua dapat mencerminkan imajinasi, rasa ingin tahu, serta kenyamanan anak menyampaikan diri.
  • Rengekan, tantrum di rumah, dan keinginan terus menempel dapat menjadi cara anak mencari koneksi atau meluapkan emosi karena merasa aman dan percaya pada orangtuanya.
  • Anak yang berani mengakui kesalahan menunjukkan rasa aman untuk jujur; orangtua tetap perlu mengajarkan komunikasi, pengelolaan emosi, dan mencari bantuan profesional bila perilaku membahayakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Punya anak memang bikin hidup lebih berwarna, tetapi tingkah mereka juga kerap menguji kesabaran. Mulai dari merengek, bertanya “kenapa?” berulang kali, hingga tiba-tiba tantrum, perilaku ini bisa membuat orangtua bertanya-tanya apakah ada yang salah. Padahal, beberapa kebiasaan yang dianggap menyebalkan justru bisa menandakan anak merasa aman, nyaman, dan percaya kepada orangtuanya.

Menurut para ahli, merengek, clingy, menunjukkan emosi besar, banyak bertanya, hingga berani mengoreksi orangtua dapat berkaitan dengan rasa aman dan hubungan yang kuat. Penasaran kebiasaan apa saja yang ternyata menjadi tanda pola asuh sudah tepat? Yuk, simak artikel berikut ini!

  1. 1. Anak sering berbicara sendiri saat bermain

    ilustrasi anak menyusun pensil warna
    ilustrasi anak menyusun pensil warna (pexels.com/mikhailnilov)

    Pernah melihat anak asyik berbicara sendiri ketika bermain seolah sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak terlihat? Mereka mungkin sedang menciptakan teman khayalan, membuat cerita sendiri, atau memainkan berbagai peran meskipun tidak ada orang lain yang mengikuti permainannya. Kebiasaan ini sebenarnya bisa menjadi bagian dari perkembangan sosial dan imajinasi anak yang normal.

    Saat anak merasa nyaman, mereka tidak terlalu sibuk memikirkan apakah perilakunya akan dinilai aneh oleh orang lain. Mereka bisa bebas berimajinasi, berbicara, dan mengeksplorasi dunianya tanpa merasa harus terus menjaga sikap. Artinya, lingkungan yang kamu ciptakan mungkin sudah cukup aman sehingga anak berani menjadi dirinya sendiri.

  2. 2. Anak sering merengek untuk hal-hal kecil

    ilustrasi seorang anak menangis
    ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/yankrukov)

    Suara rengekan yang muncul berkali-kali dalam sehari memang bisa bikin kepala pening, terutama saat perjalanan jauh, waktu makan, atau ketika anak diminta melakukan sesuatu. Namun, kebiasaan ini tidak selalu berarti anak sengaja ingin membuat orangtua kesal. Dalam kondisi tertentu, rengekan justru menjadi cara anak menunjukkan bahwa dirinya sedang kewalahan dan membutuhkan perhatian.

    Alisha Simpson-Watt, spesialis perilaku, yang dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa merengek dapat menjadi tanda anak merasa aman secara emosional untuk mengekspresikan diri. Anak yang merasa aman bisa menggunakan rengekan untuk mencari koneksi dengan orang yang dipercaya ketika belum mampu menyampaikan perasaannya dengan cara yang lebih matang. Jadi, meski tetap perlu diajarkan cara berkomunikasi yang baik, rengekan tidak selalu berarti pola asuhmu keliru.

    “Ini merupakan tanda bahwa anak merasa aman secara emosional untuk mengekspresikan dirinya,” ujar Alisha Simpson-Watt.

  3. 3. Anak bertanya “kenapa?” sampai bikin kewalahan

    ilustrasi anak dan ibu memegang ponsel
    ilustrasi anak dan ibu memegang ponsel (pexels.com/Kampus Production)

    Kalau setiap jawaban yang kamu berikan langsung disusul pertanyaan baru, rasanya seperti mengikuti sesi wawancara tanpa akhir. Meski melelahkan, kebiasaan anak yang terus bertanya sebenarnya bisa menunjukkan rasa ingin tahu sekaligus kepercayaan kepada orangtuanya.

    Will Leever, PsyD, psikolog anak di Nationwide Children’s Hospital dan kontributor The Kids Mental Health Foundation, yang dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa banyak bertanya dapat menjadi tanda anak merasa aman, dicintai, dan yakin bahwa rasa ingin tahunya diterima. Jadi, kamu tidak harus selalu memberikan jawaban panjang karena yang terpenting adalah menunjukkan bahwa pertanyaan mereka dihargai.

    “Kamu tidak perlu menjawab setiap pertanyaan secara mendalam,” ujar Will Leever, PsyD.

  4. 4. Anak justru paling sering tantrum di depanmu

    ilustrasi seorang anak menangis
    ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

    Ada anak yang terlihat tenang saat di sekolah atau bermain bersama teman, tetapi justru meledak ketika sampai di rumah. Kondisi ini kerap membuat orangtua bingung karena anak seolah hanya menunjukkan perilaku “buruk” di depan mereka. Padahal, ledakan emosi tersebut bisa terjadi karena anak sudah menghabiskan banyak energi untuk mengendalikan diri sepanjang hari.

    Menurut Will Leever, anak dapat menunjukkan emosi yang lebih besar di rumah karena merasa cukup percaya kepada orangtuanya saat sedang kewalahan. Rumah dan orangtua menjadi tempat aman untuk melepaskan emosi yang sebelumnya mereka tahan. Meski begitu, orangtua tetap perlu membantu anak mengenali dan mengelola emosinya secara bertahap.

    “Emosi besar di rumah sering kali berarti mereka mempercayaimu ketika sedang kewalahan,” ujar Will.

  5. 5. Anak terus ingin menempel dan sulit berpisah

    ilustrasi ayah menggendong anak menangis
    ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

    Anak yang selalu ingin digendong, mengikuti orangtua ke mana-mana, atau menangis saat ditinggal memang bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih rumit. Bahkan baru mau ke kamar mandi sebentar saja, si kecil mungkin sudah ikut berdiri di depan pintu. Meski melelahkan, perilaku clingy bisa menjadi tanda anak merasa aman dan memiliki kelekatan yang kuat dengan orangtuanya.

    Ketika merasa nyaman dan aman, anak cenderung ingin lebih sering berada di dekat sosok yang mereka percaya. Seiring bertambahnya usia dan rasa percaya diri, kebutuhan untuk terus menempel biasanya berkurang secara bertahap. Jadi, jangan buru-buru menganggap anak manja atau terlalu bergantung hanya karena mereka sedang membutuhkan kedekatan denganmu.

  6. 6. Anak berani mengoreksi atau mengatakan kamu salah

    Ilustrasi ibu dan anak
    Ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/pixabay)

    “Bukan begitu, Ma!” atau “Ayah salah!” mungkin terdengar bikin orangtua ingin menarik napas panjang. Anak yang baru mempelajari sesuatu terkadang begitu percaya diri mengoreksi orangtuanya, bahkan untuk hal sederhana. Namun, keberanian tersebut bisa menunjukkan bahwa anak merasa pendapatnya dihargai dalam keluarga.

    Anak yang merasa aman bersama orangtuanya cenderung lebih berani menyampaikan pemikiran tanpa takut ditolak atau diremehkan. Mereka belajar bahwa berbeda pendapat dan menyampaikan pengetahuan bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Selama tetap diajarkan cara berbicara yang sopan dan menghargai orang lain, keberanian berpendapat bisa menjadi bekal positif bagi anak.

  7. 7. Anak berani mengakui ketika melakukan kesalahan

    ilustrasi orangtua menasihati anak
    ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

    Anak yang melakukan kesalahan tentu bisa membuat orangtua kecewa. Namun ketika mereka berani mengaku tanpa berusaha menutupinya, hal ini bisa menjadi tanda bahwa anak merasa aman untuk berkata jujur kepada orangtuanya. Jadi selain melihat kesalahannya, hargai juga keberanian anak untuk menceritakan apa yang terjadi.

    Dr. Becky Kennedy, psikolog klinis dan pendiri Good Inside, dikutip dari Good Housekeeping, menyarankan orangtua memisahkan perilaku anak dari keberaniannya mengakui kesalahan. Menurutnya, kesediaan anak untuk berkata jujur justru mencerminkan pola asuh yang baik karena mereka percaya orangtuanya mampu menghadapi kesalahan tersebut.

    “Kita telah diajarkan bahwa ‘pola asuh yang baik’ menghasilkan anak yang selalu jujur, berperilaku baik, dan membuat pilihan yang tepat. Jadi, ketika anak melakukan kesalahan, hal itu bisa terasa seperti bukti bahwa ada sesuatu yang salah. Namun, cara pandang tersebut melewatkan sesuatu yang lebih mendalam,” ujarnya.

    Jangan langsung menganggap perilaku anak yang bikin kewalahan sebagai tanda pola asuh yang salah, karena bisa jadi mereka justru merasa aman untuk mengekspresikan diri. Namun jika perilakunya semakin berat atau membahayakan, jangan ragu mencari bantuan profesional agar anak mendapat dukungan yang tepat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More