Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Jadinya jika Anakmu Jadi Satu-satunya Siswa Baru di Sekolah?

Apa Jadinya jika Anakmu Jadi Satu-satunya Siswa Baru di Sekolah?
ilustrasi siswa baru (pexels.com/Ron Lach)
Intinya Sih
  • Anak yang menjadi satu-satunya murid baru menghadapi tantangan adaptasi besar, terutama jika pindah dari lingkungan berbeda, sehingga butuh dukungan ekstra dari orangtua dan guru.
  • Orangtua juga perlu menyesuaikan diri dengan komunitas wali murid lama yang sudah terbentuk agar anak tidak merasa terisolasi di lingkungan sekolah baru.
  • Meski pembelajaran bisa lebih fokus seperti les privat, anak berisiko kesepian dan perlu dorongan untuk bersosialisasi di luar sekolah agar keseimbangan emosionalnya terjaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tahun ajaran baru terasa spesial baik bagi orangtua, murid, maupun guru. Persiapannya banyak, khususnya buat siswa yang baru masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, ketika banyak sekolah dipadati oleh murid baru ada pula sekolah yang sepi.

Misalnya, sekolah yang kekurangan pendaftar. Bahkan saking sepinya peminat atau anak di daerah tersebut, anakmu menjadi satu-satunya siswa baru. Selain karena pendaftar yang nyaris gak ada, anakmu juga bisa menjadi murid baru satu-satunya karena pindahan.

Contohnya, kamu sekeluarga pindah dari sebuah kota. Anakmu yang kelas 3 SD menjadi harus pindah sekolah. Murid pindahan begini umumnya gak selalu ada tiap tahunnya. Nah, sebagai siswa baru satu-satunya baik akibat tak ada murid lain atau pindahan, ini yang akan terjadi pada anakmu. Orangtua juga ikut terdampak.

1. Satu-satunya murid baru karena pindahan, adaptasi lebih menantang

suasana kelas
ilustrasi suasana kelas (pexels.com/Muhaimin Abdul Aziz)

Mungkin sejak rencana pindah tempat tinggal dan sekolan pun sudah terjadi drama di rumah. Anak biasanya paling sulit menerima keputusan tersebut. Hidupnya bakal amat terpengaruh.

Pindah sekolah berarti juga ganti teman-teman. Kian jauh perpindahannya kian keras juga usaha anak buat bisa beradaptasi. Contohnya, anak pindah dari sekolah di kota besar ke sekolah di desa.

Bukannya anak sombong dan tak mau bergaul dengan teman-teman barunya. Akan tetapi, mungkin ia berusaha mengobrol dengan mereka pun merasa susah nyambung. Kebiasaan-kebiasaan dan dunia mereka cukup berbeda dengan anakmu.

2. Sebagai orangtua, kamu kudu menyesuaikan dengan para wali murid

suasana kelas
ilustrasi suasana kelas (pexels.com/Haidar Azmi)

Gak cuma anak yang kudu effort ekstra di sekolah. Kamu dan pasangan juga tak kalah repot. Sebagai orangtua dari siswa pindahan, dirimu seperti masuk ke circle lawas para wali murid di sana.

Tambah berat apabila banyak di antara mereka sudah membentuk kelompok-kelompok. Mereka tidak membaur. Dirimu menjadi bingung hendak mendekati kelompok mana terlebih dahulu.

Boleh jadi tidak semua orangtua siswa bersikap cukup welcome padamu. Kamu mencoba sok kenal sok dekat ke mereka terasa aneh. Malah mungkin mereka gak segampang itu untuk didekati. Sementara andai dirimu bersikap cuek pasti dinilai negatif. Kamu bakal dicap sombong dan anakmu kurang lebih sama.

3. Mental anak perlu dikuatkan karena akan menjadi sorotan

suasana kelas
ilustrasi suasana kelas (pexels.com/Nasirun Khan)

Di mana-mana murid baru selalu menjadi sorotan. Bagaimana tidak? Anakmu seperti satu lawan banyak ketika memasuki sekolah tersebut. Saat anakmu masih berjuang menghafalkan nama serta wajah kawan-kawan barunya, seisi kelas langsung mengenalinya.

Bahkan berita adanya siswa baru lekas tersebar ke seluruh kelas. Guru-guru juga demikian. Anakmu niscaya akan sering ditunjuk selama pelajaran buat menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal. Ini bukan buat mengerjainya.

Akan tetapi, cara guru untuk mengetahui kemampuan siswa baru. Juga buat mendorong anak supaya tidak takut-takut atau canggung. Kalau anakmu tipe yang percaya diri dan senang mendapat perhatian pasti mudah melalui masa-masa ini. Bila tidak, dia bisa cukup tertekan.

4. Satu-satunya siswa baru karena sekolah kekurangan murid, seperti les privat

guru dan murid
ilustrasi guru dan murid (pexels.com/Gustavo Fring)

Sekarang bagaimana apabila anakmu menjadi satu-satunya murid baru di sekolah lantaran pendaftarnya memang cuma dirinya? Tidak ada orangtua lain yang mendaftarkan anaknya ke sana. Mungkin lantaran lokasi sekolah terpencil, jarang ada anak sepantar anakmu, atau sudah ada terlalu banyak sekolah.

Suasana belajar mengajarnya menjadi sangat lain dengan sekolah umumnya. Di sekolah lain, satu guru mengajar puluhan siswa di kelas. Di sekolah anakmu, ia setiap hari seperti mengikuti les privat.

Dia dan guru bahkan duduk berhadap-hadapan dari jam masuk hingga waktu pulang. Keuntungannya, fokus belajar anak amat terjaga. Anak juga tidak malu bertanya. Guru pun dapat memberikan perhatian serta bimbingan penuh untuknya.

5. Gak punya teman di sekolah, PR untuk sosialisasi anak di lingkungan rumah

anak-anak
ilustrasi anak-anak (pexels.com/Yazid N)

Memang menjadi siswa baru satu-satunya karena tidak ada pendaftar lain memberikan keuntungan seperti dalam poin sebelumnya. Perkembangan kemampuan akademik anak bisa amat cepat. Penguasaannya akan materi melampaui anak-anak yang diajar secara klasikal.

Namun, sisi minusnya juga ada. Anakmu menjadi tak punya satu pun kawan. Memang di sekolah itu ada murid lain di kelas yang lebih tinggi. Hanya saja belum tentu anakmu dapat bersosialisasi dengan mereka.

Di sekolah mereka punya kelas masing-masing. Pun saat anak baru sekolah dasar biasanya kakak kelas dengan adik kelas tak bermain bersama. Artinya, kemampuan anak dalam bersosialisasi bisa terhambat. Orangtua perlu lebih mendorong anak buat memiliki kawan di lingkungan tempat tinggal supaya hidupnya seimbang.

6. Siap-siap pindah bila anak gak betah atau sekolah kurang profesional

guru dan murid
ilustrasi guru dan murid (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Walaupun dari segi proses belajar anak mungkin cukup menyukainya, belum tentu dia betah terus begini. Bagaimanapun juga anak butuh teman. Apalagi kalau ia bukan tipe introver. Malah bermain dan berinteraksi dengan kawan terasa lebih penting ketimbang belajar bersama guru.

Orangtua harus peka dan peduli dengan keluhan yang dirasakan anak. Hindari selalu memintanya bertahan sampai lulus di sekolah yang tidak memungkinkannya memiliki teman sekelas. Begitu pun bila pelayanan sekolah menjadi kurang baik karena minimnya murid.

Memang pindah sekolah bukan perkara sederhana. Sekolah lain barangkali tidak hanya lebih jauh, tetapi juga berbiaya lebih tinggi. Namun, demi anak lebih enjoy dalam belajar ini pantas diusahakan. Daripada semangat serta capaian belajarnya terus menurun bahkan ia menolak berangkat.

Anak menjadi murid baru satu-satunya di sekolah berbeda dengan sejak awal ia memang homeschooling. Secara psikis, anak tidak dipersiapkan buat menghadapi situasi begini. Pendampingan orangtua serta guru penting sekali supaya anak merasa nyaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More