Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bagaimana Budaya Glow Up Diam-diam Merusak Kesehatan Mental Remaja?

Bagaimana Budaya Glow Up Diam-diam Merusak Kesehatan Mental Remaja?
ilustrasi remaja memotret minuman (pexels.com/pixabay)
Share Article

Kalau kamu sering scroll TikTok atau Instagram, kamu pasti sudah nggak asing lagi dengan istilah “glow up”. Mulai dari skincare routine, makeover sebelum sekolah, sampai aesthetic transformation yang bikin hidup terlihat lebih sempurna, semuanya memang kelihatan menarik dan relatable banget.

Tapi di balik konten yang seru itu, ada dampak yang mulai dikhawatirkan banyak ahli, yaitu terganggunya kesehatan mental remaja, terutama anak perempuan secara diam-diam. Nah, artikel ini akan membahas bagaimana budaya glow up bisa punya sisi lain yang jarang disadari. Yuk, langsung simak!

1. Glow up yang terlihat positif, tapi diam-diam jadi tekanan baru

ilustrasi menggunakan handphone (pexels.com/georgedolgikh)
ilustrasi menggunakan handphone (pexels.com/georgedolgikh)

Budaya glow up awalnya dipahami sebagai cara untuk jadi versi terbaik dari diri sendiri. Tapi di media sosial, maknanya makin bergeser ke arah yang lebih fokus ke penampilan fisik. Akibatnya, banyak remaja merasa kalau jadi lebih baik itu harus selalu terlihat secara visual.

“Banyak anak perempuan yang menghabiskan waktu berjam-jam di Instagram dan TikTok mengikuti konten kecantikan akhirnya mulai merasa tidak percaya diri,” ujar Dr. Kim Anderson, seorang Profesor di Departemen Hubungan Keluarga dan Nutrisi Terapan di Universitas Guelph, dikutip dari Parents.

Konten glow up di TikTok dan Instagram sering menampilkan rutinitas skincare panjang, belanja produk kecantikan, hingga transformasi penampilan yang ekstrem. Sekilas terlihat seru dan menginspirasi, tapi di sisi lain bisa memunculkan tekanan untuk ikut standar yang sama. Lama-kelamaan, self-improvement berubah menjadi tuntutan sosial yang melelahkan.

2. Remaja mudah terjebak karena fase paling rentan

ilustrasi tiga perempuan berpose
ilustrasi tiga perempuan berpose (pexels.com/ВалерійВолинський)

Remaja memang ada di fase yang cukup rentan karena sangat sensitif terhadap penilaian orang lain. Ditambah lagi, media sosial menampilkan kehidupan yang sudah dikurasi, bikin semuanya terlihat sempurna. Akhirnya, banyak yang jadi merasa dirinya selalu kurang.

Dikutip dari Parents, Whitney Casares, MD, MPH, seorang dokter anak, menjelaskan bahwa tren seperti glow up kini semakin sering ia temui dalam praktiknya. Ia melihat bahwa tekanan ini memengaruhi cara anak memandang tubuh dan diri mereka sendiri.

“Saya benar-benar melihat ini sebagai fokus utama pada pasien di kelompok usia ini. Dan ini semakin buruk seiring waktu,” jelas Whitney Casares.

3. Standar kecantikan tidak realistis dari media sosial

ilustrasi remaja memotret minuman (pexels.com/pixabay)
ilustrasi remaja memotret minuman (pexels.com/pixabay)

Media sosial penuh dengan konten yang menampilkan standar kecantikan yang sulit dicapai. Kulit mulus, tubuh ideal, dan rutinitas skincare berlapis-lapis sering ditampilkan sebagai sesuatu yang normal. Padahal, semua itu tidak selalu mencerminkan realitas.

Dikutip dari Parents, Grace Lautman, LMHC, CN, seorang terapis gangguan makan remaja, menilai bahwa internet menjadi ruang yang terus mempertahankan standar kecantikan yang tidak realistis. Hal ini membuat remaja semakin sulit menerima tubuh mereka apa adanya.

“Ini adalah area lain di internet di mana standar kecantikan yang perfeksionis dan tidak realistis terus dipertahankan,” ujar Grace Lautman, LMHC, CN, terapis gangguan makan remaja.

4. Dampak psikologisnya bisa jadi insecure sampai gangguan mental

ilustrasi wanita memakai beanie (pexels.com/karolinagrabowska)
ilustrasi wanita memakai beanie (pexels.com/karolinagrabowska)

Paparan konten glow up secara terus-menerus bisa berdampak pada kesehatan mental remaja. Whitney Casares menjelaskan bahwa semakin remaja terobsesi dengan penampilan mereka di media sosial, semakin buruk pula perasaan mereka dalam kehidupan nyata. Banyak dari mereka mulai merasa gak puas dengan tubuh sendiri dan sering membandingkan diri dengan orang lain.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan hingga depresi. Selain itu, tekanan untuk terlihat sempurna juga dapat memicu gangguan makan dan body image disorder. Remaja menjadi terlalu fokus pada penampilan fisik dan mengabaikan aspek lain dari diri mereka. Akhirnya, terbentuk siklus gak sehat yang sulit diputus.

5. Media sosial memperkuat tekanan lewat algoritma

ilustrasi perempuan sedang memadukan outfit
ilustrasi perempuan sedang memadukan outfit (pexels.com/liza-summer)

Gak cuma glow up routine, media sosial juga dipenuhi tren lain seperti fitspo sampai unboxing produk kecantikan. Semua ini secara gak langsung memberi pesan bahwa seseorang harus memperbaiki diri supaya bisa diterima. Lama-lama, remaja jadi merasa gak cukup hanya jadi dirinya sendiri.

Algoritma platform juga memperparah kondisi ini karena terus menampilkan konten serupa tanpa henti. Semakin sering dilihat, semakin kuat pengaruhnya terhadap cara remaja memandang diri mereka. Pada akhirnya, standar kecantikan menjadi semakin sulit dihindari.

“Ketika standar kecantikan hanya mewakili sebagian kecil manusia, hal itu membuat siapa pun di luar standar tersebut mempertanyakan refleksi dirinya sendiri,” jelas Dr. Finkelstein, seorang Psikolog, dikutip dari Parents.

6. Peran orangtua dan lingkungan sekitar

ilustrasi ibu dan anak berbincang
ilustrasi ibu dan anak berbincang (pexels.com/shkrabaanthony)

Orangtua punya peran penting dalam membantu remaja menghadapi tekanan dari media sosial. Salah satunya dengan membangun komunikasi yang terbuka, bukan sekadar melarang, tapi benar-benar ngobrol soal konten apa yang mereka lihat setiap hari. Selain itu, literasi digital juga perlu dikenalkan sejak dini supaya anak tak gampang percaya dengan standar cantik di media sosial.

“Cara yang paling efektif yang saya temukan untuk menghadapi tekanan ini adalah dengan terus-menerus melakukan percakapan terbuka, mendorong anak untuk berpikir kritis terhadap pesan budaya, serta meningkatkan literasi media mereka,” ujar Dr. Finkelstein.

Remaja juga perlu dibantu untuk memahami bahwa media sosial bukan realita sepenuhnya. Banyak konten yang sudah diedit, dikurasi, dan tidak menggambarkan kehidupan sebenarnya. Dengan cara ini, mereka bisa lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh.

Budaya glow up memang terlihat seru dan inspiratif di permukaan. Tapi kalau gak disikapi dengan bijak, ada tekanan halus yang bisa pelan-pelan mengubah cara remaja menilai diri mereka sendiri. Dan kalau dibiarkan terus, ini bisa berdampak ke kesehatan mental mereka dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

6 Tips Mengajari Anak Membela Diri saat Dibully, Tanamkan Sifat Tegas!

11 Jun 2026, 15:15 WIBLife