Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Menegur Anak Tanpa Harus Bilang "Jangan", Ketahui!
ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

“Jangan dilempar!” seru seorang ibu ketika melihat anaknya menjatuhkan makanan ke lantai. Bukannya berhenti, si kecil malah mengambil potongan makanan lain dan kembali melemparkannya sambil tertawa. Pernah menghadapi situasi serupa dan bertanya-tanya kenapa anak justru semakin sulit diarahkan setelah berkali-kali dilarang?

Kata “jangan” memang sering menjadi respons spontan saat anak melakukan sesuatu yang dianggap salah. Namun, terlalu sering mendengarnya bisa membuat anak kurang peka terhadap kata tersebut. Alih-alih terus melarang, ada cara lain untuk membantu si kecil memahami perilaku yang diharapkan darinya. Berikut beberapa cara menegur anak tanpa harus selalu mengatakan “jangan”.

1. Saat anak terus meminta makanan manis, coba tawarkan pilihan lain

ilustrasi ibu dan anak-anak sedang memasak bersama (pexels.com/elly-fairytale)

“Boleh minta es krim?” pinta si kecil, lalu kembali mengulang permintaannya meski sudah beberapa kali ditolak. Daripada terus menjawab “jangan” atau “gak boleh”, kamu bisa menawarkan pilihan lain yang tetap menyenangkan, seperti yoghurt atau buah. Sampaikan dengan tenang meski anak masih merengek atau menunjukkan rasa kecewa.

Mengutip dari Parents, David Walsh, PhD, psikolog, menjelaskan bahwa anak balita belum memahami konsep waktu dengan baik. Karena itu, menjanjikan bahwa mereka bisa mendapatkan makanan yang diinginkan “besok” belum tentu membuat mereka mengerti alasan penolakan hari ini. Menurutnya, batasan tetap perlu disampaikan dengan tegas sekaligus hangat.

“Orangtua perlu menawarkan camilan sehat dengan tenang, tegas, dan penuh kehangatan, meskipun anak balita mereka memprotes,” ujar David Walsh, PhD, dikutip dari Parents.

2. Ketika anak melakukan sesuatu yang salah, beri tahu apa yang harus dilakukan

ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Makanan baru saja tersaji di meja, tetapi dalam hitungan detik sudah berada di lantai karena dilempar si kecil. Respons pertama yang mungkin keluar tentu saja, “Jangan dilempar!” Setelah mengambil makanannya, coba jelaskan bahwa makanan digunakan untuk dimakan, bukan dilempar.

Hal serupa bisa dilakukan ketika anak melompat-lompat di tempat tidur atau berdiri di atas kursi. Daripada hanya mengatakan “jangan lompat”, sampaikan arahan yang lebih spesifik, seperti “Tempat tidur untuk tidur dan istirahat, bukan untuk melompat”. Dengan begitu, anak gak hanya mendengar larangan, tetapi juga memahami tindakan yang seharusnya dilakukan.

3. Saat anak mengganggu permainan orang lain, tunjukkan cara bermain yang tepat

ilustrasi dua anak berebut mainan (pexels.com/100files)

Kakaknya baru saja selesai menyusun menara LEGO ketika si kecil datang dan merobohkannya. Bagi orang dewasa, tindakan itu mungkin terlihat jahil atau tanda cemburu, padahal anak bisa saja sekadar penasaran dan menganggapnya menyenangkan. Daripada langsung memarahi, coba ikut bermain sambil menunjukkan cara memperlakukan mainan orang lain.

Fran Walfish, PsyD, psikoterapis, dikutip dari Parents, menjelaskan bahwa kebanyakan anak gak suka diberi tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu, memberikan contoh secara langsung bisa lebih mudah diterima anak, sekaligus mengajarkannya untuk meminta izin sebelum menyentuh mainan milik orang lain.

4. Saat anak mulai memukul, bantu ia memahami emosinya

ilustrasi seorang anak menangis (pexels.com/jepgambardella)

“Jangan pukul!” mungkin menjadi kalimat pertama yang keluar ketika anak mulai memukul saudaranya. Namun, anak balita belum tentu memahami mengapa memukul gak boleh dilakukan. Setelah menghentikan tindakannya, orangtua bisa membantu anak mengenali apakah ia sedang marah, kecewa, atau frustrasi.

Linda Shook Sorkin, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, dikutip dari Parents, menyarankan agar tindakan agresif segera dihentikan, lalu anak diberi tahu perilaku yang seharusnya dilakukan dengan tenang. Setelah emosinya mereda, orangtua bisa membantunya mencari cara lain untuk menyampaikan keinginan atau rasa kesal.

“Penting untuk segera menghentikan anak yang melakukan tindakan agresif, lalu dengan tenang menyampaikan perilaku yang kamu harapkan dengan mengatakan, ‘Kita tidak memukul saat sedang marah,’” ujar Linda Shook Sorkin, dikutip dari Parents.

5. Kalau anak merengek, bantu ia menyampaikan keinginannya

ilustrasi ayah menggendong anak menangis (pexels.com/baphi)

“Aku mau itu...” rengek si kecil sambil menunjuk sesuatu yang diinginkannya. Mendengar rengekan yang sama berulang kali memang bisa membuat orangtua kehilangan kesabaran, tetapi mengatakan “jangan merengek” belum tentu membuat anak tahu apa yang harus dilakukan. Cobalah meminta mereka mengulangi perkataannya dengan suara yang lebih jelas dan sederhana.

Mengutip dari Parents, Richard Bromfield, PhD, penulis buku How to Unspoil Your Child Fast, menyarankan agar orangtua menjelaskan bahwa suara rengekan membuat perkataan anak sulit dipahami. Ketika anak mulai berbicara dengan nada yang lebih jelas, dengarkan permintaannya dan berikan respons yang sesuai. Cara ini membantu anak memahami bahwa cara menyampaikan sesuatu juga berpengaruh pada respons orang lain.

“Motivator yang paling kuat dan alami adalah ketika perkataan, perasaan, atau permintaan mereka didengar dan ditanggapi,” ujar Richard Bromfield, PhD, dikutip dari Parents.

6. Saat anak sulit diarahkan, humor bisa jadi pengalih perhatian

ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/ekaterina-bolovtsova)

Ada momen ketika anak justru semakin sulit diarahkan setelah terus ditegur. Jika perilakunya gak membahayakan, kamu bisa mencoba mengalihkan perhatiannya dengan humor atau permainan kecil. Misalnya, ketika si kecil melempar bola di dalam rumah, ajak ia bermain ke tempat yang memang diperbolehkan untuk berlari dan bermain bola.

Eileen Kennedy-Moore, PhD, psikolog klinis, dikutip dari Parents, mengatakan bahwa humor dan pengalihan perhatian dapat membantu anak yang sedang keras kepala atau mudah tersinggung. Gak perlu melakukan sesuatu yang rumit, orangtua bisa memberikan peringatan lucu seperti, “Awas, jari-jari penggelitik datang!” Namun, cara ini gak tepat digunakan ketika anak sedang berada dalam situasi yang membahayakan dirinya atau orang lain.

Menegur anak gak selalu harus dimulai dengan kata “jangan”. Dengan arahan yang jelas dan sesuai situasi, si kecil bisa belajar bukan cuma berhenti melakukan sesuatu, tetapi juga memahami alasan di balik batasan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article