"Yang harus diperhatikan adalah usianya dan apakah anak sudah siap menerima itu. Kualitasnya juga perlu diperhatikan oleh orangtua supaya bermanfaat," tuturnya.
Apa yang Terjadi pada Otak Anak dengan Screen Time Berlebih?

- Screen time dapat menjadi stimulasi positif bila disesuaikan dengan usia, kesiapan anak, dan kualitas konten; otak memproses rangsangan terutama melalui penglihatan serta pendengaran.
- Paparan berlebihan dengan warna, bentuk, kecepatan, dan suara intens dapat memicu overstimulasi karena otak memerlukan waktu untuk memproses serta menyesuaikan diri.
- Anak, terutama di bawah dua tahun, lebih rentan karena otaknya masih berkembang; penggunaan berlebih dapat memicu ketergantungan, kecemasan, emosi sulit teratur, dan fokus mudah berpindah.
Hidup di era teknologi serba canggih ini memungkinkan anak sering dihadapkan dengan gadget. Nyatanya, hal ini menjadi tantangan yang cukup serius buat orangtua supaya mereka tidak memberikan akses screen time yang berlebihan kepada anak. Di balik hiburan yang ditawarkan oleh teknologi, tersembunyi ancaman serius yang bisa mengganggu kondisi psikologis anak.
Psikolog Ghianina Armand dalam talkshow yang digelar oleh Popmama.com pada acara Pesta Anak Bahagia 2026 di Gandaria City, Jakarta Selatan (25/7/2026) lalu, mengatakan bahwa screen time yang selalu berkonotasi negatif. Padahal, screen time bisa jadi suatu hal yang positif asalkan orangtua bisa lebih bijak dalam memberikannya kepada anak. Apa yang terjadi pada otak anak kalau mereka mengonsumsi screen time berlebihan?
1. Screen time adalah bentuk stimulasi untuk otak

Seringkali, screen time dianggap sebagai suatu hal yang membawa potensi ancaman pada anak dan remaja. Padahal, screen time juga memiliki manfaat dan gak selamanya bersifat buruk. Ghianina mengatakan bahwa screen time sebenarnya merupakan stimulasi untuk remaja dan dewasa juga.
Yang kerap kali ditakutkan itu ketika anak mengonsumsi screen time yang berlebihan. Ketika stimulasi itu ditangkap oleh otak, maka otak akan memprosesnya dengan sensori organ-organ atau yang biasa disebut panca indera.
"Dari penglihatan, pendengaran, paling utamanya kedua itu. Di situ, otak butuh waktu untuk memproses stimulasi yang kita dapatkan dari tontonan," ungkap Ghianina.
2. Screen time berlebihan dapat menyebabkan overstimulasi

Nah, sayangnya, screen time yang berlebihan bisa menyebabkan dampak yang buruk bagi anak, remaja, maupun dewasa. Stimulasi yang diterima oleh otak itu harus diproses. Permasalahannya, otak tidak bisa memproses stimulus (screen time) dengan baik apabila kapasitasnya terlalu penuh. Kalau dipaksakan, maka individu bisa menjadi overstimulating.
"Kapan jadi overstimulating? Ketika stimulasinya menjadi sangat berlebihan untuk kita dari warna, bentuk, kecepatan, dan suaranya yang sangat kencang. Otak butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru," ujar Ghianina.
Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk melakukan pendampingan kepada anak maupun remaja soal screen timei ini. Justru screen time bisa menjadi kesempatan bagi anak dan orangtua untuk saling berdiskusi tentang hasil tontonan tersebut. Screen time akan membawa kebermanfaatan apabila tidak bersifat satu arah saja.
3. Anak lebih rentan karena otaknya masih berkembang

Konsumsi screen time berlebihan cenderung tidak baik untuk anak-anak, khususnya anak-anak di bawah dua tahun. Ghianina menyebut bahwa otak anak kecil masih berkembang dibandingkan remaja atau dewasa. Kapasitasnya juga jauh lebih kecil untuk menampung stimulus dari screen time tersebut.
"Tentunya, lebih lama untuk memprosesnya. Kita aja kalau di suatu tempat yang sangat ramai atau berisik, sangat berwarna-warni, kita bisa capek atau overstimulated. Bayangin kalau itu di anak. Makanya kenapa kita pun sebagai orangtua atau pendamping, harus memperhatikan isi dari konten yang kita sampaikan ke anak-anak," katanya.
Apa dampaknya kalau terlalu banyak screen time? Selain overstimulated, screen time bisa jadi suatu hal yang membuat anak keterantungan. Lalu, muncullah perasaan anxious, uneasy, cranky, dan mudah emosian.
"Anak jadi terpaku sekali, takutnya jadi sesuatu yang bikin anak dependen. Dampaknya bisa ke emosional, jadi cranky. Kalau nonton video kan everything is instant, jadi mereka tidak diajarkan untuk meregulasi dirinya dengan baik. Jadi secara emosi, kurang bisa teregulasi. Fokus pun pindah-pindah terus," lanjutnya.
Hati-hati dalam memberikan screen time kepada anak, ya. Orangtua juga perlu lebih bijaksana supaya screen time bisa menjadi suatu hal yang membawa kebermanfaatan.














![[QUIZ] Kami Tahu Kamu Sering Keterlaluan Bercanda atau Gak](https://image.idntimes.com/post/20250425/2148215655-06da9cb21925c208b6c5f4982411b31d-fa6443feaf355fd5b9c6ecdf0066f2f5.jpeg)



![[QUIZ] Kuis Ini Beritahu Buku yang Cocok untuk Bantu Obati Luka Batinmu](https://image.idntimes.com/post/20250104/img-20250105-wa0001-a10335d6beb0dbe1014be0dd2894d627-c410d84f23dd35b5f53778c14bc68527.jpg)

