Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Mengatasi Rasa Bersalah karena Gagal ASI Eksklusif

ilustrasi bayi sedang menangis
ilustrasi bayi sedang menangis (pexels.com/Sarah Chai)
Intinya sih...
  • Rasa bersalah itu normal, tapi jangan dibiarkan menggerogotiMerasa bersalah karena belum bisa memberikan ASI eksklusif itu wajar sekali. Perlu kamu tahu, kondisi tiap ibu itu berbeda-beda. Rasa bersalah muncul karena kamu peduli.
  • Ingat, bayi butuh ibu yang waras, bukan ibu yang tertekanASI memang luar biasa. Namun, ibu yang stres juga tidak sehat untuk bayi. Jika dengan memberi susu formula kamu jadi lebih tenang, itu bukanlah kekalahan. Itu bentuk adaptasi.
  • Lepaskan standar soal ibu sempurnaRasa bersalah datang karena kita terlalu mengejar label "ibu ideal". Di dunia nyata, ibu itu bisa capek
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semua ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk bayinya. Salah satu caranya adalah memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan penuh. Kamu sudah rajin baca artikel, ikut webinar laktasi, nonton video, bahkan datang langsung ke kursus laktasi, sampai beli pompa mahal. Namun, realitanya tidak selalu seindah rencana.

Ada yang ASI-nya seret, ada yang puting luka, ada yang bayinya bingung puting, dan ada juga yang harus kembali bekerja lebih cepat. Akhirnya, susu formula masuk sebagai “teman baru” di perjalanan menyusui. Di situlah rasa bersalah mulai datang pelan-pelan.

Jika saat ini kamu sedang berada di fase ini, tarik napas dulu. Kamu tidak sendirian. Untuk sedikit menghibur hatimu, kita bahas bagaimana mengatasi rasa bersalah karena gagal memberikan ASI eksklusif berikut ini, yuk. Kamu sudah berjuang sejauh ini dan itu sangat hebat, lho!

1. Rasa bersalah itu normal, tapi jangan dibiarkan menggerogoti

ilustrasi perempuan sedang sedih
ilustrasi perempuan sedang sedih (pexels.com/Alex Green)

Merasa bersalah karena belum bisa memberikan ASI eksklusif itu wajar sekali. Apalagi di era media sosial yang isinya cerita ibu-ibu yang “full ASI”, stok freezer penuh, bayi montok, dan terlihat bahagia. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri sendiri.

Perlu kamu tahu, kondisi tiap ibu itu berbeda-beda. Fisiknya berbeda, mental pun berbeda. Dukungan lingkungan juga berbeda. Rasa bersalah muncul karena kamu peduli. Itu justru tanda kalau kamu ibu yang sayang anak.

2. Ingat, bayi butuh ibu yang waras, bukan ibu yang tertekan

ilustrasi membawa bayi dengan gendongan
ilustrasi membawa bayi dengan gendongan (pexels.com/RDNE Stock project)

ASI memang luar biasa. Namun, ibu yang stres, menangis tiap malam, dan merasa gagal setiap hari juga tidak sehat untuk bayi. Ingat, bayi tidak hanya butuh nutrisi, tapi juga pelukan yang hangat, tatapan mata yang tenang, dan ibu yang hadir secara emosional.

Jika dengan memberi susu formula kamu jadi lebih tenang, lebih bahagia, dan lebih bisa menikmati momen bersama bayi, itu bukanlah kekalahan. Itu bentuk adaptasi.

3. Lepaskan standar soal ibu sempurna

ilustrasi mencium bayi
ilustrasi mencium bayi (pexels.com/Sarah Chai)

Terkadang, rasa bersalah datang karena kita terlalu mengejar label "ibu ideal". Padahal, tidak ada standar resmi tentang seperti apa ibu ideal itu.

Di dunia nyata, ibu itu bisa capek, kadang menangis, sering ragu pada diri sendiri, tapi tetap bangun tengah malam demi bayinya Ini semua sudah lebih dari cukup. Kamu bukan gagal. Kamu hanyalah manusia yang sedang belajar jadi ibu.

4. Fokus ke apa yang sudah kamu lakukan, bukan yang gagal

ilustrasi ibu tidur dengan bayi
ilustrasi ibu tidur dengan bayi (pexels.com/RODNAE Productions)

Jangan hanya karena belum bisa memberikan ASI eksklusif, kamu langsung mengabaikan semua yang sudah kamu lakukan. Ingat, sebelum memberikan ASI, kamu sudah berusaha menjaga kehamilan, melahirkan, berusaha memberikan ASI, dan berjuang sebisamu. Dan, itu semua bukan hal kecil. Jadi, jangan hanya lihat gagal ASI eksklusifnya, tapi lihat juga bahwa kamu sudah berjuang sejauh ini.

5. Jangan dengarkan suara yang menghakimi

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Yan Krukov)

Sayangnya, komentar orang kadang lebih kejam dari kenyataan. Kamu tidak perlu mendengar semuanya, karena yang tahu perjuanganmu hanya dirimu sendiri. Bila perlu, jaga jarak dari orang atau konten yang membuatmu makin merasa rendah. Kamu berhak melindungi kesehatan mentalmu sendiri.

ASI eksklusif bukan satu-satunya ukuran cinta. Bayi yang tumbuh sehat, merasa dicintai, dan punya ibu yang hadir, itu jauh lebih penting. Cintamu ke anak tidak diukur dari botol ASI atau sendok takar susu formula. Cinta itu kelihatan dari caramu menimang, menenangkan, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik di situasi apa pun. Ingat, di mata anakmu, kamu ibu yang hebat, kok!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Istiqamah Tadarus Al-Quran hingga Khatam di Akhir Bulan

15 Feb 2026, 13:58 WIBLife