Ilustrasi ayah dan anak (freepik.com/freepik)
Mengucapkan maaf juga bukan berarti percakapan harus langsung selesai. Bisa saja anak masih merasa sedih, kecewa, marah, atau belum siap menerima permintaan maaf tersebut. Dalam kondisi seperti ini, orangtua gak perlu memaksa anak untuk langsung kembali ceria atau mengatakan bahwa mereka sudah memaafkan.
Menurut Harvard Health, memperbaiki keretakan dalam hubungan orangtua dan anak mencakup mendengarkan perasaan anak, mengakui rasa sakit yang muncul, dan meminta maaf ketika diperlukan. Proses tersebut disebut sebagai bagian dari repair, yaitu upaya memperbaiki kembali hubungan setelah terjadi konflik atau luka emosional.
Hal serupa juga dijelaskan oleh Dr. Becky Kennedy, Clinical Psychologist dan Founder & CEO Good Inside, yang mengatakan, “Get good at repair,” atau “Belajarlah untuk melakukan perbaikan,” dikutip dari TED: How to build better relationships between kids, parents, and ourselves.
Menurut Kennedy, repair berarti kembali pada momen ketika hubungan mengalami keretakan, mengambil tanggung jawab atas perilaku sendiri, dan mengakui dampaknya kepada orang lain. Artinya, setelah berkata maaf, orangtua bisa memberi kesempatan kepada anak untuk bercerita. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu masih sedih karena tadi Ibu bentak?” atau “Kalau kamu masih marah, gak apa apa. Ibu mau dengar.” Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perasaan anak gak harus langsung hilang hanya karena orangtua sudah meminta maaf.