ilustrasi anak sendirian (pexels.com/Tanya Gorelova)
Anak yang mengalami trauma tidak selalu bisa mengungkapkan apa yang terjadi. Banyak dari mereka menunjukkan tanda melalui perilaku, seperti tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau takut berpisah dari orangtua.
"Beberapa gejala trauma pada anak-anak (dan orang dewasa) sangat mirip dengan depresi, termasuk terlalu banyak atau sedikit tidur, kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan, mudah tersinggung dan marah tanpa sebab, serta kesulitan berkonsentrasi pada proyek, pekerjaan sekolah, dan percakapan," jelas psikolog Jerry Bubrick, PhD dikutip dari Child Mind Institute.
"Terkadang gejalanya lebih mirip gangguan kecemasan-kekhawatiran obsesif atau terus-menerus, kesulitan berpisah dari orangtua," tambahnya.
Penelitian jangka panjang menemukan bahwa anak korban kekerasan daycare tetap menunjukkan dampak hingga bertahun-tahun kemudian. Dalam studi Children's adjustment 15 years after daycare abuse yang diterbitkan National Library of Medicine, disebutkan bahwa anak-anak mengkonfirmasi melalui perilakunya, bahwa sesuatu yang menyedihkan telah terjadi.
Karena itu, penting bagi orangtua untuk peka terhadap perubahan kecil. Misalnya, anak yang dulu ceria menjadi sering menangis tanpa sebab, atau menolak pergi ke tempat tertentu. Ini bisa jadi cara anak 'berbicara' tentang trauma yang belum bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata.