Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Hak Dasar Anak yang Wajib Diketahui Orangtua, Sering Diabaikan!

5 Hak Dasar Anak yang Wajib Diketahui Orangtua, Sering Diabaikan!
Ilustrasi pola asuh (pexels.com/Phil Nguyen)

Banyak orangtua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya-memberi makan, pendidikan, dan perlindungan. Tapi tanpa disadari, terkadang ada hak-hak anak lain yang terlewat atau bahkan dilanggar karena dianggap ‘hal biasa’. Padahal, anak bukan sekadar tanggung jawab, tetapi individu yang memiliki hak yang harus dihormati.

Hak anak adalah fondasi penting untuk tumbuh kembang yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial. Memahami hak-hak mendasar anak membantu orangtua tidak hanya menjadi pengasuh, tetapi juga pendukung utama bagi kehidupan anak yang lebih baik.

1. Hak untuk didengar dan dihargai pendapatnya

ilustrasi pola asuh pada anak perempuan (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi pola asuh pada anak perempuan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Banyak orangtua masih menganggap bahwa anak harus selalu mengikuti keputusan orang dewasa. Padahal, anak juga memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, terutama dalam hal yang menyangkut dirinya.

Dalam United Nations Children's Fund (UNICEF), disebutkan bahwa anak berhak menyuarakan pandangan mereka. Anak-anak berhak untuk menyampaikan pendapat mereka secara bebas tentang isu-isu yang memengaruhi mereka. Orang dewasa harus mendengarkan dan menanggapi anak-anak dengan serius.

“Anak-anak berhak untuk menyampaikan pandangan mereka secara bebas dalam semua hal yang memengaruhi mereka,” dikutip dari laman resmi UNICEF.

Artinya, mendengarkan anak bukan berarti menuruti semua keinginannya. Tetapi memberi ruang agar mereka merasa dihargai. Ini penting untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi mereka sejak dini.

2. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan

Ilustrasi pola asuh anak (unsplash.com/@bruno_nascimento)
Ilustrasi pola asuh anak (unsplash.com/@bruno_nascimento)

Kekerasan pada anak tidak selalu berbentuk fisik. Bahkan bentuk bentakan, hinaan, ancaman, hingga pengabaian emosional juga termasuk bentuk kekerasan yang berdampak serius. Menurut World Health Organization (WHO), penganiayaan anak mencakup semua bentuk perlakuan buruk fisik dan emosional.

"Stres berulang akibat pelecehan, penelantaran, dan orangtua yang berjuang dengan masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan zat, memiliki efek nyata dan konkret pada perkembangan otak anak," jelas Nadine Burke Harris, dokter anak dan ahli trauma dikutip dari Boulder Crest.

3. Hak untuk mendapatkan pendidikan dan berkembang

Ilustrasi pola asuh di era digital (pexels.com/Julia M Cameron)
Ilustrasi pola asuh di era digital (pexels.com/Julia M Cameron)

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, bukan hanya secara akademik, tetapi juga perkembangan keterampilan hidup. UNESCO disebutkan, pendidikan adalah hak asasi manusia mendasar dan penting untuk pelaksanaan semua hak asasi manusia lainnya.

Menurut Carol Dweck, profesor psikologi dari Stanford University, anak-anak yang didorong untuk menerima pembelajaran akan mengembangkan pola pikir mereka. Faktor sentral dalam ketahanan dan pembelajaran akademis adalah pola pikir mereka tentang kecerdasan.

"Kecerdasan sebagai kuantitas tetap yang mereka miliki atau tidak miliki (pola pikir tetap) atau sebagai kuantitas yang dapat dibentuk yang dapat ditingkatkan dengan usaha dan pembelajaran (pola pikir berkembang)," jelasnya.

 

4. Hak untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian

ilustrasi pola asuh yang baik (pexels.com/Elina Fairytale)
ilustrasi pola asuh yang baik (pexels.com/Elina Fairytale)

Kasih sayang bukan hanya sekadar pelengkap dalam pengasuhan, tetapi kebutuhan mendasar anak. Tanpa kelekatan emosional yang sehat kepada orangtua mereka, anak bisa mengalami kesulitan dalam hubungan sosial dan regulasi emosi.

"Ikatan emosional awal antara anak dan pengasuhnya sangat penting untuk kelangsungan hidup dan perkembangan emosional, berfungsi sebagai fondasi untuk hubungan di masa depan," jelas psikolog Saul McLeod, PhD dikutip dari Simply Psychology.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kelekatan yang aman membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan stabil secara emosional. Ini berarti perhatian kecil seperti pelukan, waktu bersama, dan komunikasi hangat punya dampak besar.

5. Hak untuk bermain dan memiliki waktu istirahat

ilustrasi pola asuh minimalist parenting (pexels.com/Leeloo The First)
ilustrasi pola asuh minimalist parenting (pexels.com/Leeloo The First)

Di tengah tuntutan akademik dan aktivitas tambahan lainnya, saat ini hak anak untuk bermain sering kali terabaikan. Tentu orangtua hanya ingin memberikan yang terbaik. Tapi mungkin mereka lupa bahwa bermain adalah bagian penting dari perkembangan mereka.

Jurnal berjudul The importance of play in promoting healthy child development and maintaining strong parent-child bonds dalam National Library of Medicine menekankan, bermain sangat penting untuk perkembangan anak. Pasalnya, bermain sangat berkontribusi pada kesejahteraan kognitif, fisik, sosial, dan emosional anak-anak dan remaja. Bermain juga menawarkan kesempatan ideal bagi orangtua untuk terlibat sepenuhnya dengan anak-anak mereka.

"Terlepas dari manfaat yang diperoleh dari bermain bagi anak-anak dan orangtua, waktu untuk bermain bebas telah berkurang secara signifikan bagi sebagian anak," tulis dalam laporan tersebut.

Memahami hak anak bukan berarti orangtua kehilangan otoritas, tetapi justru membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat dan seimbang. Anak yang tumbuh dengan hak-haknya dihormati akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

5 Bentuk Support buat Orang Terdekat yang Bercerai

29 Apr 2026, 19:28 WIBLife