Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Hal yang Harus Diwaspadai Orangtua untuk Hindari Penculikan Bayi
ilustrasi bayi baru lahir (unsplash.com/Christian Bowen)

Momen setelah melahirkan menjadi waktu yang penuh haru dan kebahagiaan. Akan tetapi, rasa senang tersebut, sejumlah orangtua melaporkan kasus penculikan bayi yang terjadi di rumah sakit.

Keamanan bayi setelah melahirkan di Rumah Sakit atau fasilitas medis lainnya memang perlu diperhatikan tindakan yang tidak diinginkan dapat dihindari. Kasus penculikan yang kian marak, harus menjadi pengingat untuk orangtua atau pengasuh agar lebih waspada.

Menghindari kasus yang tidak menyenangkan, penting bagi orangta untuk memahami langkah-langkah pencegahan. Kenali prosedut keamanan dan sejumlah tips di bawah ini untuk meminimalkan risiko penculikan terhadap buah hati.

1. Minta rawat gabung untuk pengawasan yang lebih ketat

potret bayi baru lahir (pexels.com/Vidal Balielo Jr.)

Keselamatan dan kesehatan bayi menjadi prioritas untuk orangtua, sehingga minta tenaga medis untuk Rawat Gabung. Dalam laman resmi IDAI (IKatan Dokter Anak Indonesia) Rawat Gabung membiarkan ibu dan bayi untuk selalu bersama. Pada tindakan Rawat Gabung atau Rooming-in, bayi diletakkan di box bayi dekat dengan ranjang ibu sehingga mudah dijangkau atau bisa juga berada di ranjang yang sama (bedding-in)

Rawat Gabung tak hanya memberi manfaat keamanan, namun secara kesehatan juga terbukti memiliki efek positif. Melakukan Rawat Gabung dapat mempercepat terlaksanannya proses menyusui, ibu dapat memberi ASI segini mungkin dengan cara kontak terus menerus. Ini juga meningkatkan proses bonding atau ikatan ibu dan anak. Selain itu, dengan memilih Rawat Gabung, dapat menurunkan biaya, meminimalkan peralatan, menurunkan infeksi dan lain-lain.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa proses ini juga tak sepenuhnya dilakukan. Umumnya alasan yang dipertimbangkan yakni tenaga medis sulit memantau kondisi bayi, waktu istirahat ibu semakin menurun, tingkat terjadinya infeksi lebih tinggi karena bayi tidak berada di ruang khusus terlebih jika pengunjung boleh masuk. Selain itu Rawat Gabung dilakukan dengan prosedur yang ketat, sehingga harus dipatuhi oleh ibu maupun pendamping lainnya.

2. Perhatikan nama tenaga medis dan prosedur rumah sakit

Ilustrasi tangisan pertama bayi baru lahir yang sehat. (unsplash.com/Eduardo Barrios)

⁠Jika memang bayi harus diperiksa dan dijauhkan dari orangtua, catat nama tenaga medis yang terakhir kali membawa bayi. Pastikan staff rumah sakit yang membawa bayi memiliki lencana ID, lengkap dengan foto dan nama terang.

Lencana tenaga kesehatan, misalnya perawat biasanya terdiri dari nama, jabatan, dan departemen anggota staf. Jika tidak memiliki lencana atau identitas, minta perawat untuk memverifikasi identitas orang tersebut. Jangan serahkan bayi pada orang yang tidak memiliki identitas atau menyalahi prosedur rumah sakit.

Dilansir dari Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing, yang disusun oleh Patricia Beachy RN, MS, seorang pendidik perawat perinatal di Rumah Sakit Universitas pada Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Colorado di Denver dan Jane Deacon RNC, MS, NNP, seorang praktisi perawat neonatal di Rumah Sakit Anak di Denver, Colorado, menyebutkan,

"Seorang perempuan yang menculik bayi yang baru lahir cenderung menggunakan salah satu dari dua metode. Ia dapat menyamar sebagai perawat, masuk ke kamar ibu, dan memberikan alasan palsu untuk membawa bayi ke ruang perawatan (misalnya untuk suatu prosedur seperti menimbang bayi atau memberikan imunisasi yang diperlukan). Sejak tahun 1983, 57 persen dari seluruh kasus penculikan terjadi dengan cara ini. Metode lainnya adalah dengan mengambil bayi dari ruang perawatan bayi ketika staf tidak berada di area tersebut. Dalam setidaknya satu kasus, bayi yang baru lahir tersebut diambil."

Pastikan, setelah bayi lahir gelang yang disematkan di pergelangan tangan atau kaki tetap melekat. Pada umumnya tertulis jenis kelamin, tanggal dan waktu lahir, dan nama ibu.

Selain itu, orangtua harus memastikan prosedur rumah sakit yang berlaku. Sebab, disejumlah fasilitas kesehatan, terdapat larangan bahwa anggota staf tidak boleh membawa bayi dengan cara menggendongnya, melainkan diletakkan dalam box bayi atau sejenis. Pastikan, orang yang membawa bayi mematuhi aturan semacam ini.

3. Selalu dampingi bayi, minta bantuan perawat saat hendak ke kamar mandi

Ilustrasi bayi di rumah sakit (freepik.com/lifeforstock)

Orangtua hendaknya selalu mendampingi bayi. Berbagi tugas dan peran antara ayah, ibu, atau anggota keluarga lain dapat sangat membantu proses pasca melahirkan. Solusi yang bisa dilakukan adalah proses rawat gabung atau rooming in agar orangtua dapat terus memperhatikan anak selama berada di rumah sakit.

Selain keamanan, mengutip sumber IDAI, tindakan rawat gabung terbukti menunjukkan penurunan kasus kesehatan yang cukup berarti. Seperti menurunnya angka radang telinga, diare, sepsis, dan meningits. Melakukan tindakan rawat gabung juga lebih mother-friendly.

Jika tidak memungkinkan untuk lakukan proses rawat gabung, orangtua atau pendamping dapat mengecek anak secara berkala dan rutin ke ruang bayi. Harapannya dapat membantu memberi pengawasan dan memastikan kondisi bayi dalam keadaan yang baik.

Di luar upaya tersebut, pihak rumah sakit juga hendaknya memberikan edukasi bahwa orangtua tidak seharusnya meninggalkan bayi yang baru lahir tanpa pengawasan, bahkan ketika pergi ke kamar kecil. Ketika hendak meninggalkan ruangan, orangtua dapat meminta bantuan perawat. Instruksikan kepada orangtua, bagi orang yang hendak membawa bayi keluar kamar untuk menanyai identitas mereka. Sebaiknya, orangtua yang membawa buah hatinya ke kamar bayi daripada memberikan kepada orang lain, saran ini diterangkan dalam jurnal "Preventing Neonatal Kidnapping".

4. Batasi pengunjung dan kenali sistem keamanan rumah sakit

Ilustrasi bayi di rumah sakit (freepik.com/KamranAydinov)

Strategi lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus penculikan bayi adalah memahami sistem keamanan rumah sakit. Pastikan terdapat CCTV di berbagai area, misalnya pintu keluar, lorong, dan berbagai area lain. Jika terjadi kasus penculikan bayi, segera mengecek sistem keamanan rumah sakit sehingga dapat dilakukan penggeledahan baik di dalam fasilitas rumah sakit maupun halaman sekitar.

Apabila diperlukan, orangtua dapat berteriak ketika seseorang yang mencurigakan membawa bayi. Gestur tubuh yang tidak biasa dengan jalur pergerakan yang tidak umum, misalnya menjauhi ruang perawatan, dapat menjadi salah satu indikasi. Maka, orangtua yang melihat kejadian semacam ini dapat berteriak atau langsung meminta petugas keamanan untuk segera menghentikan dan memeriksa orang tersebut.

Mengutip jurnal Keperawatan Obstetri, Ginekologi dan Neontal, pencegahan penculikan dapat dilakukan dengan melakukan peningkatan keamanan. Pastikan, pemeriksaan pengunjung juga dilakukan secara ketat. Tidak mengizinkan orang asing tanpa identitas datang berkunjung. Pihak keluarga juga bisa membatasi jumlah kunjungan saudara atau teman yang datang ke rumah sakit agar keamanan lebih terjaga.

5. Foto bayi atau tanda lahir sebagai bukti

Ilustrasi bayi di rumah sakit (freepik.com/freepik)

Untuk meningkatkan keamanan, orangtua juga bisa foto wajah bayi begitu lahir serta mengamati tanda lahir yang tidak biasa. Hal ini bisa menjadi langkah pencegahan terhadap kasus penculikan bayi. Dengan melakukan perekaman terhadap tubuh fisik bayi, dapat membantu proses identifikasi jika terjadi tindakan yang tak diinginkan.

Orangtua juga hendaknya memastikan gelang identitas bayi selalu terpasang, tidak tertukar, dan sesuai dengan data ibu. Tidak disarankan untuk membagikan foto atau informasi detail bayi ke media sosial atau pihak yang tidak bertanggung jawab, demi menghindari penyalahgunaan informasi.

Demikian beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penculikan bayi. Tingkatkan keamanan dengan terus waspada!

Editorial Team