Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Berkompetisi Baik untuk Anak? Ini 5 Hal yang Perlu Dipahami Orangtua

Berkompetisi Baik untuk Anak? Ini 5 Hal yang Perlu Dipahami Orangtua
ilustrasi anak sedang belajar (pexels.com/thirdman)
Intinya Sih
  • Kompetisi yang sehat membantu anak mengembangkan ketekunan, rasa percaya diri, dan daya lenting dengan menekankan proses belajar daripada hasil instan.
  • Menerima kemenangan dan kekalahan secara seimbang penting agar anak tidak takut gagal serta mampu menghadapi kenyataan dengan lebih matang.
  • Peran orangtua krusial dalam menanamkan makna kompetisi sebagai ajang belajar dan kolaborasi, bukan sekadar mengejar kemenangan atau pengakuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kompetisi merupakan bagian dari kehidupan yang mulai dikenalkan kepada anak sejak dini. Lewat permainan, perlombaan di sekolah, atau kegiatan olahraga, mereka belajar tentang arti menang dan kalah. Pengalaman ini dapat membantu membentuk mental yang tangguh sekaligus melatih kemampuan menghadapi tantangan.

Namun, manfaat kompetisi bergantung pada cara anak menjalaninya. Kompetisi yang sehat dapat membantu mereka berkembang, sedangkan tekanan untuk selalu menang justru berisiko memicu stres dan mengganggu perkembangan emosional. Berikut beberapa hal yang perlu dipahami orangtua mengenai keikut-sertaan anak dalam sebuah kompetisi.

1. Kompetisi dapat membantu anak berkembang jika dilakukan secara sehat

ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama
ilustrasi ibu dan anak menghabiskan waktu bersama (pexels.com/nicolabarts)

Kompetisi yang sehat dapat membantu anak berkembang. Melaluinya, mereka belajar menetapkan tujuan, memberikan usaha terbaik, serta memahami bahwa keberhasilan tidak diraih secara instan, melainkan melalui latihan, ketekunan, dan kesabaran. Dengan begitu, anak terdorong untuk terus berkembang tanpa harus selalu membandingkan diri dengan orang lain.

Kompetisi yang sehat juga dapat meningkatkan rasa percaya diri saat anak berhasil melewati tantangan. Dari proses tersebut, mereka belajar bahwa kemampuan dibangun secara bertahap, bukan diperoleh secara instan. Pola pikir ini akan membantu anak lebih tangguh atau memiliki daya lenting (resilience) saat menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

"Kompetisi bisa menjadi dorongan yang sangat positif untuk memotivasi seseorang agar berkembang dan belajar meningkatkan performanya," ujar Dr. Christina Lee, psikiater di Kaiser Permanente, dikutip dari Parents.

2. Anak perlu belajar menghadapi kemenangan sekaligus kekalahan

ilustrasi orangtua menasihati anak
ilustrasi orangtua menasihati anak (pexels.com/augustderichelieu)

Banyak orangtua ingin melindungi anak dari rasa kecewa sehingga cenderung membiarkan mereka menang. Padahal, belajar menerima kekalahan merupakan bagian penting dari perkembangan emosional anak. Melalui pengalaman itu, mereka belajar bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai harapan dan setiap kegagalan selalu menyimpan pelajaran.

Sebaliknya, jika anak selalu menang atau dijauhkan dari kegagalan, mereka bisa kesulitan menghadapi kenyataan saat hasil tidak sesuai harapan. Kondisi ini dapat membuat anak mudah frustrasi, kehilangan kepercayaan diri, atau takut mencoba hal baru karena khawatir gagal. Karena itu, yang terpenting bukan menghindari kompetisi, melainkan mendampingi anak agar mampu menyikapi menang dan kalah dengan sehat.

"Salah satu kesalahan terbesar dalam psikologi adalah keinginan agar anak selalu merasa senang setiap saat. Berusaha menghindari kompetisi justru membuat kompetisi terasa lebih besar daripada yang sebenarnya," ujar Dr. John Tauer, profesor psikologi di University of St. Thomas, dikutip dari The New York Times.

3. Kompetisi menjadi masalah ketika anak hanya mengejar kemenangan

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/kindelmedia)

Kompetisi mulai kehilangan manfaatnya ketika kemenangan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Anak yang terlalu berorientasi pada hasil cenderung mengaitkan harga dirinya dengan nilai, piala, atau posisi juara. Akibatnya, mereka menjadi sangat takut gagal dan enggan mencoba hal-hal baru jika merasa peluang berhasilnya kecil.

Tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Mereka lebih rentan mengalami stres, kecemasan, perfeksionisme, hingga burnout. Dalam dunia olahraga, tekanan performa juga menjadi salah satu alasan banyak anak berhenti mengikuti olahraga terorganisasi di usia dini.

"Ketika harga diri seseorang mulai bergantung pada kemenangan, prestasi, atau keberhasilan mengungguli orang lain, saat itulah kita perlu memberikan perhatian lebih," ujar Dr. Christina Lee.

4. Kompetisi akan lebih sehat jika diimbangi dengan kerja sama

ilustrasi anak pramuka
ilustrasi anak pramuka (pexels.com/cottonbro)

Kompetisi tidak harus selalu dimaknai sebagai upaya mengalahkan orang lain. Penelitian Dr. John Tauer terhadap anak usia 9 hingga 14 tahun menunjukkan, bahwa anak justru lebih menikmati aktivitas ketika kompetisi dipadukan dengan kerja sama. Dengan cara ini, mereka tetap tertantang untuk memberikan yang terbaik sekaligus belajar saling mendukung.

Melalui pengalaman tersebut, anak belajar bahwa keberhasilan tidak selalu diraih sendirian. Mereka juga terbiasa bekerja sama, menghargai kontribusi orang lain, dan menyadari bahwa kolaborasi sering kali sama pentingnya dengan kemampuan individu. Bekal inilah yang akan bermanfaat bagi mereka, tidak hanya saat berkompetisi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

"Anak-anak lebih menyukai perpaduan antara kompetisi dan kerja sama. Tingkat kesenangannya meningkat secara signifikan," ujar Dr. John Tauer.

5. Orangtua berperan membentuk cara pandang anak terhadap kompetisi

Ilustrasi anak-anak tersenyum
Ilustrasi anak-anak tersenyum (pexels.com/xomidov)

Cara orangtua menyikapi kemenangan dan kekalahan akan membentuk cara pandang anak terhadap kompetisi. Jika anak hanya dipuji saat menang, mereka bisa menganggap prestasi sebagai tolok ukur nilai dirinya. Sebaliknya, menghargai usaha dan proses belajar akan membuat anak memahami bahwa kompetisi adalah kesempatan untuk berkembang.

Orangtua juga perlu mengajarkan bahwa sukses tidak selalu berarti menjadi juara. Berani mencoba, bangkit setelah gagal, dan menikmati proses merupakan keberhasilan yang sama berharganya. Dengan begitu, anak akan memiliki hubungan yang lebih sehat dengan kompetisi.

"Jika kamu mengajarkan bahwa sukses berarti menjadi pribadi yang baik, menjadi rekan satu tim yang suportif, berani mencoba hal baru, atau tetap berusaha meskipun tahu kemungkinan gagal sangat besar, maka kamu sebenarnya sedang mendefinisikan ulang makna sukses sekaligus kemenangan," ujar Dr. Christina Lee.

Pada akhirnya, kompetisi bukan sekadar tentang menang atau kalah, melainkan tentang proses belajar. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan menghargai orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More