“Mahasiswa yang menempati 12,5 persen dari seluruh penghuni Cove memiliki kebutuhan yang sangat spesifik. Mereka menuntut keseimbangan dalam ruang tinggal selayaknya segmen penghuni yang lain: kebutuhan akan kemudahan, ketenangan pribadi, produktivitas, dan interaksi sosial. Tapi di saat yang sama, mereka beroperasi dengan alokasi anggaran yang jauh lebih ketat dibandingkan demografi lain, umumnya pada kisaran bujet Rp2 juta per bulannya," ungkap Dian Paskalis, Country Director of Growth & VP of Online Marketing, Cove.
"Dengan kebutuhan tersebut, co-living bisa menjadi solusi yang paling efisien, menggabungkan hunian mereka dan segala kebutuhan akademik maupun sosial mereka, dalam pilihan harga sewa yang lebih beragam,” imbuhnya.
3 Standar Mahasiswa Saat Pilih Kos, Suka yang Privasi!

- Riset Cove menunjukkan mahasiswa kini lebih cepat menemukan kos, mayoritas lewat media sosial seperti TikTok dan Google Maps karena percaya pada konten visual serta ulasan organik.
- Sebagian besar mahasiswa memilih tinggal sendiri demi privasi dan kenyamanan, dengan alasan utama fasilitas lengkap, jarak dekat ke kampus, serta layanan tambahan seperti wifi dan laundry.
- Lokasi strategis dan harga terjangkau jadi prioritas utama, namun banyak mahasiswa masih kesulitan menemukan kos aman dan nyaman sesuai bujet Rp2–5 juta per bulan.
Pergi merantau jauh dari rumah dan tinggal di sebuah kamar kos jadi pilihan banyak mahasiswa yang melanjutkan pendidikan tinggi. Agar pengalaman tinggal jauh dari orangtua terasa lebih nyaman dan menyenangkan, mahasiswa punya standar tertentu dalam memilih huniannya.
Cove, penyedia hunian co-living modern, melakukan riset terhadap 166 responden penghuni Cove di kawasan Jabodetabek tentang standar mahasiswa dalam menyewa properti untuk mendukung kebutuhan pendidikannya. Berdasarkan hasil riset tersebut, diketahui bahwa mahasiswa hanya membutuhkan waktu singkat dalam mencari kos.
1. Visualisasi digital buat mahasiswa lebih sat-set pilih kos
Riset menunjukkan, bahwa 63 persen mahasiswa menyatakan bahwa mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari satu bulan untuk menemukan kos yang sesuai dengan harapannya. Ini dikarenakan para mahasiwa cenderung mencari informasi seputar kos melalui media sosial, bukan secara konvensional dengan berkeliling langsung.
Platform seperti TikTok jadi media yang paling banyak dipilih (22 persen), pencarian Google Maps (18 persen), dan informasi dari keluarga atau teman (17 persen). Dua dari tiga metode itu adalah platform yang mengakomodir konten visual terkait kamar serta ulasan organik dari orang-orang yang sebelumnya pernah menetap di sana. Hal ini menunjukkan, bahwa sebagai generasi yang digital-first, mahasiswa kini memiliki tingkat kepercayaan yang jauh lebih tinggi kepada konten di internet dalam mengambil keputusan terkait hunian.
2. Gaya hidup penuh privasi dan bebas repot jadi yang paling digemari

Selanjutnya, berdasarkan riset, kelompok usia mahasiswa 18-24 tahun cenderung memilih gaya hidup yang penuh privasi. Meskipun ini pengalaman pertama merantau dan tinggal jauh bagi banyak mahasiswa, tetapi kebanyakan dari mereka memilih untuk tinggal di kos sendiri dibandingkan mencari teman satu kamar.
9 dari 10 mahasiswa penghuni Cove menyatakan bahwa mereka memilih untuk tinggal di kamar sendirian. Selain privasi, mahasiswa juga menginginkan pengalaman tinggal yang bebas repot, baik untuk hidup mereka di dalam maupun di luar kamar. Responden menyatakan, bila tiga alasan utama mereka memilih Cove adalah fasilitas kamar yang lengkap (14 persen), jarak ke kampus (12 persen), dan pelayanan yang mereka dapatkan dengan harga sewa seperti wifi, pembersihan ruangan, atau laundry (11 persen).
3. Hunian strategis dengan harga terjangkau jadi prioritas

Meskipun sekilas mencari kos di zaman yang serba digital seperti saat ini terasa lebih mudah, tetapi bukan berarti mahasiswa gak menemukan kendala saat proses pencarian huniannya. Setidaknya ada dua tantangan terbesar yang dihadapi, yaitu sulitnya menemukan kos di lingkungan yang terjamin keamanan dan kenyamanannya, serta lokasi kos yang kurang strategis.
Menyusul faktor lokasi, tantangan terbesar kedua yang ditemui mahasiswa adalah menemui kos yang disukai, namun harga sewanya gak sesuai dengan bujet mereka. Sebanyak 40 persen mahasiswa di Cove menyatakan, bahwa mereka memiliki alokasi dana bulanan sebesar Rp2-5 juta yang harus mereka bagi antara kebutuhan kos, pengeluaran sehari-hari, dan gaya hidup.
Di zaman yang seba digital seperti saat ini, internet menjadi hal yang bisa membantu banyak orang dalam berbagai hal, termasuk bagi mahasiswa yang mencari kos. Selain itu, internet juga membantu mereka untuk menemukan hunian yang sesuai dengan standarnya.






















