Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Wajar Terjadi saat Toilet Training, Bukan Gagal

4 min read
5 Hal yang Wajar Terjadi saat Toilet Training, Bukan Gagal
Ilustrasi anak membawa tisu toilet (pexels.com/Elina Fairytale)
Share Article

Melatih anak untuk bisa buang air besar dan kecil di kamar mandi, adalah bagian dari pelajaran kedisiplinan. Anak biasanya mulai lepas popok pada usia 2-3 tahun. Di usia tersebut, anak sudah bisa berkomunikasi dan menerima arahan sederhana.

Hanya saja, yang namanya toilet training, gak bisa berhasil dalam sekejap. Pasti ada beberapa hal yang terjadi di luar kendali orangtua, misalnya saja anak masih kecolongan pipis di celana. Berikut, adalah lima hal yang wajar terjadi saat toilet training. Tenang, itu bukan berarti sebuah kegagalan, kok.

  1. 1. Anak menolak untuk buang air kecil di kamar mandi

    Ilustrasi toilet training
    Ilustrasi toilet training (pexels.com/Sasha Kim)

    Apabila anakmu menolak untuk buang air kecil di kamar mandi, mungkin ini adalah tanda bahwa belum waktunya ia melakukannya. Bisa juga ini sinyal kalau si kecil belum siap memulai latihan buang air.

    "Jika anakmu tidak memiliki keinginan untuk menggunakan toilet, kemungkinan besar mereka belum siap," kata Ari Brown, MD, salah satu penulis Toddler 411: Clear Answer & Smart Advice for Your Toddler, dikutip dari Parents.

    Tanda-tanda umum anak mulai siap menjalani pelatihan toilet meliputi :

    • Menunjukkan ketertarikan pada toilet
    • Menunjukkan kesadaran kapan mereka akan buang air, seperti bersembunyi saat buang air besar
    • Memberitahumu mengenai popok yang kotor
    • Berusaha tetap kering setidaknya selama dua jam di siang hari

  2. 2. Anak sering mengalami 'kecelakaan'

    Ilustrasi toilet training
    Ilustrasi toilet training (pexels.com/Jep Gambardella)

    Kecelakaan yang dimaksud adalah anak tidak sengaja buang air di celana, baru memberitahu orangtua bahwa mereka ingin buang air. Hal semacam ini wajar terjadi, dan diharapkan orangtua tetap tenang dan tidak marah. Teguran keras dan hukuman hanya akan menekan anak, dan membuat progresnya kian mundur.

    Jika dalam beberapa minggu ke depan kecelakaan ini masih terlalu sering terjadi, itu artinya anakmu memang belum siap dilatih. Sebaliknya, bila intensitas kecelakaan sangat kecil, itu berarti si kecil sudah mulai mendekati kelulusan dari pelatihan toilet tersebut.

  3. 3. Anakmu tak selalu menyadari kebutuhannya untuk buang air ke toilet

    Ilustrasi mengurus anak
    Ilustrasi mengurus anak (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Meskipun sudah diberi tahu dan dicontohkan berulang kali, tapi wajar saja jika anak masih sering tak menyadari kebutuhannya untuk buang air ke toilet. Hal ini mungkin bikin orangtua frustasi, tapi sangat wajar terjadi, terutama di minggu-minggu awal pelatihan.

    Karin A. Bilich, seorang Komunikator Teknologi Kesehatan dalam tulisannya di Parents mengatakan, mengalami kebocoran urine adalah hal yang normal dialami anak yang sedang menjalani toilet training. Beberapa anak tidak sepenuhnya mengendalikan kandung kemih mereka selama beberapa bulan setelah mereka belajar mengatur buang air besar.

    "Jika anakmu hanya sedikit mengompol, tapi sebagian besar masuk ke toilet, kamu bisa melanjutkan pelatihan toilet ini," terang Bilich.

  4. 4. Anak merasa kesal ketika melihat tinjanya dibuang ke toilet

    Ilustrasi anak membawa tisu toilet
    Ilustrasi anak membawa tisu toilet (pexels.com/Elina Fairytale)

    Beberapa anak percaya bahwa kotoran (tinja) adalah bagian dari tubuh mereka, sehingga tindakan membuangnya akan tampak menakutkan dan sulit dipahami. Cobalah untuk memberitahu mereka tujuan kotoran tubuh dan kebutuhan tubuh untuk membuangnya.

    "Akui rasa takut itu, meskipun sangat aneh bagi orangtua," saran Allison Chase, Ph.D., seorang psikolog anak dan keluarga, seperti dikutip dari Parents.

    Setelah orangtua memberi penjelasan dan anak bisa menerimanya, orangtua bisa mencari jalan untuk membantu mereka melewati rasa tidak nyaman tersebut. Kamu bisa meminta anakmu untuk menyiram kotoran mereka sendiri, bahkan mengucapkan selamat tinggal layaknya sebuah perpisahan yang penuh haru.

  5. 5. Anak enggan buang air besar di toilet

    Ilustrasi anak di kamar mandi
    Ilustrasi anak di kamar mandi (pexels.com/cottonbro studio)

    Beberapa anak mungkin bisa lulus buang air kecil di toilet dalam waktu singkat, tapi tak sedikit di antara mereka yang enggan buang air besar pada tempatnya. Belajar buang air besar ke toilet terkadang lebih menantang.

    Bersembunyi saat hendak buang air besar, atau menangis saat didudukkan di pispot, adalah tanda anakmu memiliki kontrol kesadaran dan kontrol tubuh untuk dilatih buang air di toilet, tapi belum siap secara emosional. Alih-alih menganggap ini sebuah kegagalan, lebih baik berikan mereka pujian karena mengenali tanda-tanda mereka hendak buang air besar.

    Menuntun anak untuk bisa sepenuhnya buang air besar dan kecil ke toilet memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Orangtua tidak bisa memaksa anak untuk lulus dengan cepat. Beberapa hal di atas adalah contoh perilaku anak yang wajar ditunjukkan selama toilet training. Itu sama sekali bukan kegagalan, justru pertanda bahwa anakmu mulai beradaptasi dengan disiplin yang baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More