Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jangan Langsung Percaya Label Skincare Anak, Cek 5 Hal Ini

Jangan Langsung Percaya Label Skincare Anak, Cek 5 Hal Ini
Ilustrasi memilih skincare untuk anak. (dok. pribadi)
  • Kulit bayi dan anak lebih tipis serta sensitif, sehingga orangtua perlu menilai skincare dari kandungan dan bukti klaim, bukan sekadar label kemasan.
  • Logo cruelty-free dan klaim organik perlu diverifikasi melalui sertifikasi atau basis data resmi, karena tidak selalu mencerminkan seluruh rantai produksi maupun komposisi produk.
  • Klaim dermatologically tested, natural, clean, atau aman untuk bayi bukan jaminan bebas iritasi; periksa ingredients, pilih fragrance-free, dan lakukan patch test 24–48 jam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memilih skincare buat si kecil ternyata gak cukup cuma melihat tulisan “aman untuk bayi”. Klaim seperti “100 persen alami”, “organik”, atau “dermatologically tested” memang terdengar meyakinkan. Apalagi kalau kemasannya lucu dan punya logo yang terlihat terpercaya. Akan tetapi, tulisan di bagian depan kemasan belum tentu menceritakan seluruh fakta tentang produknya. Hal ini penting karena kulit bayi dan anak lebih tipis serta sensitif dibandingkan kulit orang dewasa. 

Bahkan, kulit mereka disebut 30 persen lebih tipis sehingga lebih mudah menyerap zat yang dioleskan ke permukaan kulit. Karena itu, orangtua perlu lebih teliti sebelum memilih produk untuk si kecil. Jangan sampai keputusan membeli hanya berdasarkan klaim yang terdengar aman. Lantas, apa saja yang perlu dicek dari skincare anak? Yuk, kenali lima hal berikut supaya gak gampang terkecoh!

  1. 1. Ada logo kelinci? Jangan langsung percaya!

    Ilustrasi logo kelinci yang identik sebagai simbol produk cruelty-free dan tidak diuji pada hewan secara etis.
    Logo kelinci yang identik dengan produk cruelty-free. (dok. pribadi)

    Logo kelinci biasanya identik dengan produk cruelty-free. Namun, keberadaannya belum otomatis membuktikan seluruh proses produksi bebas dari pengujian terhadap hewan. Ada produsen yang memakai klaim tersebut meski masih membeli bahan baku dari pemasok yang melakukan animal testing.

    Karena itu, logo saja gak cukup. Merek yang benar-benar menerapkan standar cruelty-free secara menyeluruh seharusnya tercatat dalam basis data resmi Leaping Bunny. Basis data ini dapat digunakan untuk mengecek apakah sebuah merek memenuhi standar bebas pengujian hewan dalam rantai pasoknya.

    Jadi sebelum percaya pada gambar kelinci di kemasan, cek dulu mereknya. Cara sederhana ini bisa membantu membedakan logo sertifikasi yang valid dari klaim yang sekadar dipakai untuk menarik perhatian.

  2. 2. Ada tulisan “organik”? Cek sertifikasinya!

    Sertifikasi Ecocert COSMOS Organic terkait standar penggunaan bahan organik yang sesuai ketentuan resmi.
    Sertifikasi Ecocert COSMOS Organic memiliki standar mengenai bahan organik. (dok. pribadi)

    Tulisan “organik” gak selalu berarti seluruh produk dibuat dari bahan organik. Produsen bisa saja menggunakan satu bahan organik, lalu mencantumkan klaim tersebut meski sebagian besar kandungannya bukan bahan organik.

    Salah satu sertifikasi yang bisa diperiksa adalah Ecocert COSMOS Organic. Sertifikasi ini memiliki standar mengenai bahan organik, proses produksi, kemasan, hingga pemeriksaan fasilitas produksi.

    Jadi jangan cuma melihat kata “organic” di bagian depan kemasan. Pastikan sertifikasinya bisa diverifikasi melalui sumber resmi agar klaim tersebut gak sekadar berdasarkan pengakuan produsen.

  3. 3. “Dermatologically Tested” belum tentu untuk anak

    Ilustrasi proses uji klinis pada anak yang dipantau secara langsung oleh dokter anak dalam suasana pemeriksaan medis.
    Ilustrasi uji klinis dengan pengawasan dokter anak. (dok. pribadi)

    Pernah melihat tulisan “dermatologically tested” lalu langsung menganggap produknya aman? Klaim tersebut tetap perlu diperiksa karena gak memiliki definisi hukum yang pasti. Pengujiannya juga belum tentu melibatkan bayi atau anak.

    Sebuah produk bisa saja diuji pada orang dewasa dalam jumlah terbatas dan waktu singkat. Karena itu, informasi mengenai metode, subjek, dan hasil pengujian penting diperhatikan, terutama jika produk memang ditujukan untuk kulit anak.

    Kalau tersedia, pilih produk yang transparan mengenai pengujiannya, misalnya melalui uji klinis dengan pengawasan dokter anak. Konsumen juga bisa menghubungi layanan pelanggan resmi untuk menanyakan bukti pengujian.

  4. 4. “Natural” dan “clean” bukan jaminan bebas iritasi

    Produk perawatan kulit bayi berlabel fragrance-free untuk membantu merawat kulit si kecil yang sensitif.
    Kulit si kecil yang sensitif gunakan produk dengan label fragrance-free. (dok. pribadi)

    Klaim “natural” dan “clean” memang menarik, tetapi bahan alami tetap bisa menimbulkan reaksi pada kulit sensitif. Essential oils dengan konsentrasi tinggi maupun fragrance berpotensi memicu alergi pada kulit bayi dan anak.

    Karena itu, jangan hanya melihat klaim di bagian depan kemasan. Periksa juga daftar ingredients dan perhatikan kandungan pewangi dalam produk.

    Untuk kulit si kecil yang sensitif, produk dengan label fragrance-free bisa lebih dipertimbangkan daripada hanya mengandalkan label unscented. Pasalnya, unscented gak selalu berarti produk benar-benar bebas dari bahan pewangi.

  5. 5. Klaim “aman untuk bayi” tetap perlu bukti

    Seseorang melakukan patch test pada area kecil kulit sesuai petunjuk sebelum memakai produk perawatan baru.
    Melakukan patch test pada area kulit yang kecil sesuai petunjuk sebelum menggunakan produk baru. (dok. pribadi)

    Tulisan “aman untuk bayi” memang terdengar meyakinkan, tetapi reaksi negatif dari skincare gak selalu muncul seketika. Penggunaan bahan iritan secara berulang berpotensi mengganggu perlindungan kulit dan memicu sensitivitas dalam jangka panjang.

    Karena itu, pertimbangkan produk yang sudah melalui clinically patch-tested untuk mengetahui kemungkinan munculnya reaksi iritasi. Pengujian tersebut bisa memberikan informasi tambahan dibandingkan sekadar klaim keamanan pada kemasan.

    Sebelum menggunakan produk baru secara menyeluruh, lakukan patch test pada area kulit yang kecil sesuai petunjuk penggunaan. Amati reaksinya selama 24-48 jam dan hentikan pemakaian jika muncul kemerahan, gatal, atau reaksi yang mengkhawatirkan.

    Memilih skincare anak memang gak bisa asal pilih dari rak. Jangan biarkan tulisan “natural”, “organic”, atau “aman untuk bayi” langsung membuat kamu ingin cepat-cepat checkout skincare tersebut. Luangkan sedikit waktu untuk membaca ingredients dan mengecek sertifikasinya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More