Pukul tujuh pagi, rumah sudah ramai oleh suara langkah kaki dan suara pintu yang dibuka-tutup. Ibu bersiap berangkat kerja, ayah memeriksa barang-barang yang harus dibawa, sementara kamu duduk di meja makan menghabiskan sarapan. Obrolan hanya sebatas mengingatkan jadwal sekolah, menanyakan barang yang tertinggal, atau memastikan semua orang tidak terlambat memulai hari.
Ketika sore tiba, rumah kembali terasa sepi karena masing-masing masih punya urusan yang harus diselesaikan. Di sela kesibukan yang terus berulang, ada hal-hal yang perlahan kamu pelajari tanpa pernah diajarkan secara langsung.
Kamu belajar memahami keadaan, mencari jalan keluar sendiri, dan tidak banyak menuntut waktu orang lain. Bertahun-tahun kemudian, ketika beranjak dewasa, kebiasaan itu masih mengikuti langkahmu. Bahkan, kamu bisa jadi tidak menyadari bahwa beberapa caramu memperlakukan diri sendiri dan orang lain berawal dari rumah tempatmu tumbuh.
