Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tumbuh di Keluarga Sibuk, 5 Kebiasaan Ini Terbawa hingga Dewasa
Ilustrasi keluarga sibuk (pexels.com/Diva Plavalaguna)
  • Tumbuh dalam keluarga sibuk dapat membuat anak terbiasa mandiri, mencari solusi sendiri, dan enggan meminta bantuan karena merasa orang di sekitarnya sulit diandalkan.
  • Kebiasaan menyimpan emosi serta merasa tidak enak meminta perhatian bisa terbawa hingga dewasa, meski kebutuhan untuk didengar dan ditemani tetap ada.
  • Anak yang sering mengambil inisiatif dapat memikul tanggung jawab berlebihan dan merasa canggung menerima kepedulian, lalu belajar membedakan beban serta menerima dukungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pukul tujuh pagi, rumah sudah ramai oleh suara langkah kaki dan suara pintu yang dibuka-tutup. Ibu bersiap berangkat kerja, ayah memeriksa barang-barang yang harus dibawa, sementara kamu duduk di meja makan menghabiskan sarapan. Obrolan hanya sebatas mengingatkan jadwal sekolah, menanyakan barang yang tertinggal, atau memastikan semua orang tidak terlambat memulai hari.

Ketika sore tiba, rumah kembali terasa sepi karena masing-masing masih punya urusan yang harus diselesaikan. Di sela kesibukan yang terus berulang, ada hal-hal yang perlahan kamu pelajari tanpa pernah diajarkan secara langsung.

Kamu belajar memahami keadaan, mencari jalan keluar sendiri, dan tidak banyak menuntut waktu orang lain. Bertahun-tahun kemudian, ketika beranjak dewasa, kebiasaan itu masih mengikuti langkahmu. Bahkan, kamu bisa jadi tidak menyadari bahwa beberapa caramu memperlakukan diri sendiri dan orang lain berawal dari rumah tempatmu tumbuh.

1. Selalu mencari jalan keluar sendiri

Ilustrasi mencari jalan keluar sendiri (pexels.com/Yan Krukau)

Kamu masih ingat, bagaimana rasanya mengerjakan tugas sekolah sendirian ketika orangtua belum pulang? Ada soal yang tidak dipahami, ada bagian yang membuatmu ingin menyerah, tetapi akhirnya kamu coba lagi sampai menemukan jawabannya. Bukan karena tidak ingin bertanya, melainkan karena kamu tahu orang di rumah juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kebiasaan itu terbawa sampai kamu dewasa. Ketika pekerjaan menumpuk atau masalah datang bertubi-tubi, kamu memilih duduk lebih lama di depan laptop daripada menghubungi seseorang untuk meminta bantuan. Kalaupun ada yang menawarkan pertolongan, jawabanmu sering kali berujung dengan, “Gak apa-apa, aku bisa sendiri”.

Menurut psikolog, Faith Nyoike, “Anak mulai percaya bahwa mengandalkan diri sendiri lebih mudah karena orang dewasa di sekitarnya terlalu sibuk, tidak hadir, mengalami stres, atau tidak bisa diandalkan,” dikutip dari The Standard.

2. Menyimpan cerita karena tidak ingin merepotkan siapa-siapa

ilustrasi memendam cerita (pexels.com/Timur Weber)

Ada hari ketika kamu pulang dari sekolah dengan mata sembap. Kamu ingin bercerita tentang kejadian yang membuatmu merasa sendirian di sekolah tadi, namun begitu melihat orangtua sibuk membereskan pekerjaan, keinginan itu terpendam. Kamu masuk kamar, mengganti pakaian, lalu menyimpan cerita tersebut untuk dirimu sendiri.

Menurut psikolog klinis, Leon F. Seltzer, Ph.D., salah satu alasan utama seseorang menyembunyikan perasaannya adalah rasa takut. Ia menjelaskan, “Pada kenyataannya, alasan utama kita menyembunyikan emosi berakar pada rasa takut. Kita takut terlihat lemah atau menunjukkan kerentanan di hadapan orang lain,” dikutip dari Your Tango.

Bertahun-tahun kemudian, kebiasaan itu mungkin muncul ketika seseorang bertanya tentang harimu. Kamu menjawab baik-baik saja, bahkan ketika ada banyak hal yang sebenarnya ingin dikeluarkan dari kepala. Kamu sudah terbiasa merapikan perasaan sendirian sebelum orang lain sempat melihatnya berantakan.

3. Merasa tidak enak ketika menginginkan perhatian

ilustrasi memberikan perhatian (pexels.com/Ba Tik)

Ada saat ketika kamu ingin bercerita, ingin didengarkan, atau sekadar ingin ditemani. Lalu, pikiranmu lebih dulu dipenuhi berbagai pertimbangan, “Bagaimana kalau dia sedang sibuk?” Perasaan itu sering kamu rasakan sejak kecil karena kesibukan keluarga membuatmu terbiasa menyesuaikan diri. Kamu memahami bahwa orang lain punya tanggung jawab, sehingga tanpa sadar belajar menekan keinginanmu sendiri. 

Namun, pada akhirnya kamu memilih untuk mengatakan keinginanmu, entah melalui pesan sederhana, percakapan sebelum tidur, atau ajakan untuk menghabiskan waktu bersama. Kamu tidak lagi menunggu seseorang menyadari kesedihanmu hanya dari cara mengetik atau perubahan nada bicara. Kamu mulai belajar bahwa kebutuhan emosional juga layak untuk mendapat tempat.

4. Mengambil terlalu banyak tanggung jawab karena terbiasa diandalkan

ilustrasi mencuci pakaian (pexels.com/cottonbro studio)

Di rumah, kamu adalah menjadi anak yang tahu harus melakukan apa tanpa perlu diingatkan. Piring kotor segera kamu cuci, membantu adikmu mengerjakan pekerjaan rumah, atau terbiasa menyiapkan kebutuhan sekolah sendiri. Kamu berusaha agar ketika orangtua pulang bekerja, kamu tidak menambah pekerjaan mereka. Perlahan, kamu tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa membaca keadaan dan mengambil inisiatif.

Menurut seorang psikolog, Kate Eshleman, PsyD., “Sering kali, anak justru diharapkan untuk mengambil inisiatif dan memikul lebih banyak tanggung jawab. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, orangtua bisa merasa frustrasi atau bahkan memberikan hukuman. Hal ini kemudian memunculkan banyak emosi dalam diri anak,” dikutip dari Cleveland Clinic.

Selama ini, beberapa tanggung jawab yang terasa berat kamu pikul sendirian. Kamu memutuskan untuk perlu membedakan mana tanggung jawab yang memang menjadi bagianmu, dengan tanggung jawab yang kamu ambil hanya karena takut dianggap tidak berguna.

5. Merasa asing ketika ada orang yang ingin merawatmu

ilustrasi merawat orang sakit (pexels.com/Karolina Grabowska)

Suatu hari, kamu sedang sakit dan pasanganmu menawarkan untuk membawakan makanan. Alih-alih merasa lega, kamu justru buru-buru mengatakan,”Gak perlu repot-repot, aku bisa kok beli sendiri”. Menerima perhatian darinya seakan sangat sulit daripada kamu yang memberikan perhatian itu.

Dalam laman Psychology Today, Psikolog klinis Lisa Firestone, Ph.D., menjelaskan jika kita tidak terbiasa menerima perhatian dan kepedulian yang konsisten dari orangtua atau figur lekat sejak kecil, menerima hal tersebut dari orang lain sepanjang hidup bisa terasa menyakitkan atau membingungkan. Selama bertahun-tahun, kamu sudah akrab dengan peran sebagai orang yang mengerti keadaan. Ketika pasanganmu menawarkan ruang untuk bersandar, kamu menjadi bingung harus memberikan respons seperti apa.

Kamu masih menjadi orang yang sering berkata, “Gak apa-apa, aku bisa sendiri”, meski sebenarnya sedang kewalahan. Kamu terbiasa menyimpan cerita, mengalah pada kesibukan orang lain, dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi, kali ini kamu bukan lagi anak kecil yang harus menunggu orang lain menyediakan waktu untukmu.

Kini, kamu memilih untuk meminta bantuan, bercerita tanpa takut merepotkan, dan pelan-pelan belajar menerima perhatian tanpa merasa bersalah. Walaupun tumbuh dengan kesendirian, kamu belajar bahwa dirimu juga layak untuk dipahami.

Curated For You

Editorial Team

Related Article