Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Gen Alpha Disebut "Honey Badger Generation"? Ini Alasannya!
ilustrasi ibu dan anak melipat pakaian (pexels.com/vlada-karpovich)

“Kenapa harus begitu? Memangnya gak boleh kalau caranya begini?”

Kalimat tersebut terlontar dari mulut seorang anak kepada orangtuanya. Mungkin terdengar sederhana, namun bagi sang ayah atau ibu, terkadang pertanyaan yang terus berlanjut dari anak bisa bikin kewalahan. Ketika merasa ada yang gak masuk akal, anak bisa bertanya, membantah, bahkan berusaha mencari cara sendiri untuk menyampaikan pendapatnya.

Perilaku seperti ini membuat Gen Alpha mendapat julukan unik di media sosial, yaitu honey badger generation. Istilah tersebut menggambarkan anak-anak yang dianggap berkemauan kuat, berani, percaya diri, dan gak gampang mundur menghadapi tantangan. Yuk, kenali lebih jauh alasan Gen Alpha disebut honey badger generation!

1. Dari mana istilah "honey badger" berasal?

ilustrasi anak bermain tablet di samping ayahnya (pexels.com/rdne)

Sebelum dikaitkan dengan Gen Alpha, honey badger sebenarnya merupakan nama hewan yang dikenal tangguh dan gak mudah gentar. Hewan yang juga disebut ratel ini masih termasuk keluarga musang dan terkenal karena berani menghadapi hewan lain yang ukurannya jauh lebih besar.

Karakter tersebut kemudian menjadi kiasan untuk menggambarkan seseorang yang berani dan ambisius. Istilah ini semakin populer setelah meme "Honey Badger Don't Care" viral di internet sekitar 2011. Dikutip dari Parents, Daniel Rinaldi, terapis yang menangani anak dan remaja sekaligus pendiri MNTL Town, mengatakan bahwa honey badger kemudian berkembang menjadi simbol keberanian dan ketangguhan.

"Metafora ini menangkap keberanian dan ketangguhan yang menjadi inti dari sosok tersebut, yaitu kualitas yang dihargai dalam masyarakat saat ini."

Menurut Rinaldi, gambaran honey badger juga telah menjadi simbol budaya tentang keberanian dan tekad. Karena itu, istilah tersebut dianggap cocok untuk menggambarkan orang yang berani menghadapi kehidupan tanpa mudah takut.

2. Lalu, kenapa dikaitkan dengan Gen Alpha?

ilustrasi anak perempuan dan laki-laki (unsplash.com/saeedkarimi)

Istilah honey badger generation mulai populer di TikTok setelah Laura Loray, LCSW, PMHNP-BC, praktisi keperawatan psikiatri dari New Jersey, menggunakannya untuk menggambarkan Gen Alpha. Menurut Loray, Gen Alpha merupakan generasi yang gak takut menantang status quo. Mereka juga dianggap punya keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap benar.

Loray mulai melihat pola tersebut saat pandemi COVID-19, ketika orangtua kerap menyebut anak yang lahir saat pandemi sebagai anak yang “liar” atau “memang terlahir berbeda”. Ia kemudian menemukan pola serupa pada anak-anak dan remaja yang ia tangani, termasuk putrinya dan teman-temannya. Setelah melihat video TikTok seorang anak Gen Alpha pada 2022, Loray merasa karakter mereka mirip honey badger yang dikenal gak gampang takut.

"Mereka gak takut, gigih, selalu mengejar apa yang mereka inginkan tanpa berpikir panjang, dan gak pernah mundur dari sebuah tantangan," tambah Loray.

Meski begitu, julukan ini bukan berarti semua anak Gen Alpha memiliki karakter yang sama. Para ahli juga menekankan bahwa setiap anak tetap memiliki kepribadian dan pengalaman yang berbeda.

3. Ada beberapa hal yang mungkin membentuk karakter Gen Alpha

ilustrasi ibu duduk bersama dua anak (pexels.com/ellyfairytale)

Karakter Gen Alpha yang berani dan kritis gak muncul begitu saja. Ada beberapa kondisi yang dianggap ikut memengaruhi cara mereka tumbuh dan melihat dunia.

1. Pola asuh orangtua

Sebagian besar Gen Alpha dibesarkan oleh orangtua milenial yang cenderung melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dan menjelaskan alasan di balik aturan. Mengutip Parents, Ryan Fedoroff, MEd, Wakil Presiden bidang Pembelajaran dan Pengembangan Newport Healthcare, mengatakan pola ini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir mandiri dan memecahkan masalah sehingga mereka merasa lebih berdaya dan percaya diri.

“Orangtua ini biasanya gak menerapkan hierarki dalam rumah tangga atau otoritas yang keras kepada anak. Sebaliknya, mereka membiarkan anak terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan berusaha lebih memahami mereka,” ujar Fedoroff.

2. Sejak kecil sudah terpapar teknologi

Gen Alpha tumbuh bersama internet dan media sosial sehingga bisa mengetahui berbagai kejadian di belahan dunia lain melalui layar. Menurut Fedoroff, kondisi ini membuat mereka lebih mudah melihat persoalan sosial, termasuk ketidakadilan dan beragam pendapat.

“Internet dan media sosial telah menciptakan generasi yang bisa melihat apa pun kapan saja, termasuk ketidakadilan sosial dan influencer yang menyampaikan pendapat mereka tentang segala hal.”

Paparan tersebut dapat membuat anak merasa punya suara dan kesempatan menyampaikan pendapat. Teknologi juga memungkinkan mereka terhubung dengan orang dari berbagai latar belakang, yang menurut Loray dapat membantu mengembangkan empati atau feral empathy, yakni empati yang seolah gak bisa dijinakkan, tetapi dalam sisi positif.

“Mereka membela satu sama lain, membela keluarga mereka, bahkan membela orang asing karena mereka merasa sangat terhubung dengan orang lain,” ujar Loray.

3. Tumbuh di tengah berbagai peristiwa besar

Gen Alpha tumbuh di tengah berbagai peristiwa besar, salah satunya pandemi COVID-19. Di era internet, mereka juga lebih mudah terpapar isu global sejak usia muda, termasuk persoalan keadilan, kesetaraan, dan keberagaman.

Menurut Rinaldi, paparan tersebut mungkin mempercepat kedewasaan dan pemahaman Gen Alpha. Ia menilai generasi ini kemungkinan akan ikut mendefinisikan kembali sejumlah konsep tradisional dan ekspektasi masyarakat.

“Paparan terhadap isu global sejak usia muda mungkin mempercepat kedewasaan dan pemahaman mereka,” kata Rinaldi.

4. Jadi, apakah karakter "honey badger" selalu buruk?

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/alex-green)

Di satu sisi, anak yang berani mempertanyakan aturan memang bisa membuat orangtua kewalahan. Apalagi jika mereka sulit menerima arahan atau terus mempertanyakan aturan yang dianggap gak masuk akal. Namun, keberanian tersebut juga bisa menjadi kekuatan jika diarahkan dengan tepat.

Courtney Morgan, LPCC, pendiri Counseling Unconditionally, dikutip dari Parents, mengatakan anak dengan karakter honey badger cenderung mampu memimpin teman dan lebih kecil kemungkinannya menjadi korban perundungan. Gen Alpha juga dinilai lebih terbuka menyampaikan perasaan, menetapkan batasan, dan mengungkapkan masalah emosional yang mereka alami.

"Anak-anak honey badger cenderung memimpin teman-temannya, berkembang ketika mendapatkan perhatian positif, dan lebih kecil kemungkinannya menjadi korban perundungan," ujar Courtney Morgan.

5. Gen Alpha tetap perlu diajarkan batasan

ilustrasi ibu memakaikan baju pada anak (pexels.com/august-de-richelieu)

Meski punya banyak sisi positif, karakter honey badger juga bisa membuat anak kesulitan mengikuti arahan atau mematuhi aturan. Jika gak diarahkan, hal tersebut bahkan dapat memengaruhi hubungan mereka dengan orang dewasa maupun teman sebaya.

Karena itu, orangtua gak perlu mematikan keberanian anak hanya agar mereka lebih mudah diatur. Yang lebih penting adalah mengajarkan kapan harus berani menyampaikan pendapat dan kapan perlu mendengarkan orang lain. Rinaldi menyarankan orangtua menetapkan batasan yang jelas, mengajarkan keselamatan dan kerja sama, serta mendorong empati.

"Penting bagi orangtua untuk menjadi contoh komunikasi yang sehat dan kemampuan menyelesaikan konflik, serta menunjukkan kepada anak bagaimana mereka dapat menyampaikan pendapat dengan tegas sambil tetap menghargai orang lain."

Ia juga menekankan pentingnya membantu anak memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Dengan begitu, keberanian yang mereka miliki bisa digunakan secara konstruktif dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, menjadi "honey badger" bukan berarti anak harus selalu melawan atau menolak aturan. Kalau keberanian, rasa ingin tahu, dan empatinya diarahkan dengan tepat, karakter tersebut justru bisa menjadi modal bagi Gen Alpha untuk tumbuh sebagai pribadi yang berani menyuarakan apa yang mereka yakini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article