Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kewalahan Jadi Orangtua? Konsep Second Best Parenting Jadi Solusinya
ilustrasi menonton film bersama keluarga (pexels.com/august-de-richelieu)
  • Konsep second best parenting menekankan fleksibilitas dan keseimbangan, mengajak orangtua berhenti mengejar kesempurnaan serta fokus pada keamanan dan kebutuhan emosional anak.
  • Pola asuh ini membantu mengurangi tekanan mental, membuat suasana rumah lebih santai, dan memberi ruang bagi orangtua untuk merawat diri agar lebih hadir bagi anak.
  • Dalam praktiknya, second best parenting tampak lewat kompromi realistis seperti memesan makanan siap saji atau memberi waktu screen time terbatas tanpa mengabaikan tanggung jawab utama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi orangtua sering kali terasa melelahkan, apalagi di era media sosial seperti sekarang. Sedikit-sedikit muncul standar parenting baru yang membuat banyak ayah dan ibu merasa harus selalu sempurna dalam mengurus anak. Mulai dari makanan sehat, rumah yang selalu rapi, sampai jadwal anak yang super teratur, semuanya terasa seperti kewajiban yang gak boleh gagal.

Padahal, terus mengejar kesempurnaan justru bisa bikin orangtua stres dan kehilangan energi. Banyak orangtua akhirnya merasa burnout karena terlalu keras pada diri sendiri demi menjadi sosok ayah atau ibu ideal. Nah, di tengah tekanan itu, konsep second best parenting hadir sebagai pengingat bahwa pola asuh yang cukup baik kadang justru lebih sehat untuk seluruh anggota keluarga.

1. Apa itu second best parenting?

ilustrasi keluarga membuat sarapan (pexels.com/augustderichelieu)

Second best parenting adalah pola pengasuhan yang menekankan fleksibilitas dan keseimbangan dalam kehidupan keluarga. Konsep ini dipopulerkan oleh ekonom sekaligus penulis parenting, Emily Oster, yang menilai bahwa tidak selalu ada satu pilihan paling benar dalam mengasuh anak. Dalam beberapa situasi, pilihan “terbaik kedua” justru bisa menjadi solusi paling realistis dan aman.

Konsep ini juga mengajak orangtua untuk berhenti melihat parenting secara hitam-putih. Orangtua gak harus selalu mengikuti standar ideal yang sering muncul di internet atau media sosial. Selama anak tetap aman, dicintai, dan kebutuhan emosionalnya terpenuhi, keputusan yang lebih fleksibel tetap bisa menjadi bentuk pengasuhan yang baik.

“Konsep ‘second best’ adalah menyadari bahwa di antara berbagai pilihan lain, ada yang lebih baik dibanding yang lain. Pilihan terbaik kedua adalah pilihan terbaik yang masih bisa kita capai,” ujar Emily Oster, ekonom dan penulis parenting, dikutip dari HuffPost.

2. Second best parenting bisa membantu orangtua lebih tenang

ilustrasi keluarga kecil (pexels.com/ellyfairytale)

Salah satu manfaat terbesar dari second best parenting adalah membantu mengurangi tekanan mental pada orangtua. Ketika gak lagi memaksakan semuanya harus sempurna, orangtua bisa lebih menikmati proses membesarkan anak tanpa terus dihantui rasa bersalah. Suasana rumah pun biasanya jadi terasa lebih santai dan nyaman.

Selain itu, konsep ini juga membantu orangtua punya waktu untuk merawat diri sendiri. Orangtua yang kebutuhan fisik dan emosionalnya terpenuhi cenderung lebih sabar dan lebih hadir untuk anak-anak mereka. Pada akhirnya, anak juga tumbuh dalam lingkungan yang lebih hangat dan suportif.

“Ada lebih sedikit fokus untuk melakukan semuanya dengan sempurna dan lebih banyak fokus untuk belajar bersama anak,” ujar Dr. Chanelle Batiste, psikolog klinis dan konsultan kesehatan mental, dikutip dari Parents.

3. Contoh second best parenting dalam kehidupan sehari-hari

ilustrasi menonton film bersama keluarga (pexels.com/august-de-richelieu)

Second best parenting sebenarnya bisa diterapkan lewat hal-hal kecil yang sering dilakukan sehari-hari. Misalnya, orangtua memesan makanan siap saji satu atau dua kali seminggu karena terlalu lelah memasak setelah bekerja seharian. Keputusan seperti ini bukan berarti malas, melainkan bentuk kompromi agar energi orangtua tetap terjaga.

Contoh lainnya adalah membiarkan anak menonton film atau bermain gadget sebentar ketika orangtua ingin mandi, membereskan rumah, atau sekadar beristirahat. Dalam kondisi tertentu, screen time bukan selalu hal buruk jika tetap diberikan dengan batasan yang sehat. Pola pikir seperti ini membantu orangtua memahami bahwa gak semua hal harus berjalan sempurna setiap waktu.

“Tidak ada satu cara yang benar untuk menjadi orangtua atau pengasuh. Praktik parenting yang baik bisa hadir dalam banyak bentuk,” ujar Dr. Chanelle Batiste.

4. Orangtua modern memang rentan merasa kewalahan

ilustrasi keluarga (pexels.com/Anastasiya Gepp)

Tekanan menjadi orangtua sekarang memang terasa jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Selain tuntutan pekerjaan dan kebutuhan ekonomi, media sosial juga membuat banyak orangtua terus membandingkan dirinya dengan keluarga lain. Akibatnya, banyak ayah dan ibu merasa gagal hanya karena hidup mereka gak seideal konten parenting di internet.

Kalau terus dibiarkan, tekanan ini bisa memicu parental burnout hingga gangguan kesehatan mental. Orangtua jadi lebih mudah marah, emosional, dan kehilangan energi untuk menikmati waktu bersama anak. Karena itu, pendekatan yang lebih realistis seperti second best parenting mulai dianggap relevan untuk membantu keluarga bertahan di tengah tekanan sehari-hari.

5. Second best parenting bukan berarti asal mengasuh anak

ilustrasi keluarga (pexels.com/emmabauso)

Meski terdengar santai, second best parenting bukan berarti orangtua bebas mengabaikan kebutuhan anak. Konsep ini tetap mengutamakan keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan emosional anak sebagai prioritas utama. Bedanya, orangtua diberi ruang untuk menyesuaikan aturan dan rutinitas sesuai kondisi nyata yang mereka hadapi.

Second best parenting juga bukan pola asuh “semua atau tidak sama sekali”. Orangtua tetap bisa menerapkan disiplin dan kebiasaan sehat sambil tetap memberi toleransi ketika situasi gak berjalan sesuai rencana. Dengan begitu, keluarga bisa tumbuh dalam suasana yang lebih realistis, suportif, dan penuh rasa welas asih.

Pada akhirnya, menjadi orangtua bukan tentang siapa yang paling sempurna. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orangtua terus belajar, bertumbuh, dan berusaha hadir untuk anak-anak mereka setiap hari. Jadi, gak ada salahnya sesekali berhenti mengejar standar sempurna dan mulai memberi ruang bernapas untuk diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article