Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
#MahakaryaAyahIbu: Kursi yang Sama Tujuan Akhir Ayah dan Ibu

Pixabay
Semakin lama sebuah hubungan, perasaan cinta akan semakin pudar. Begitu kata mereka.
Sejak dulu, aku tidak percaya dengan pendapat itu. Seperti yang digambarkan di film-film, bagiku cinta adalah perasaan yang paling kuat di dunia. Cinta sejati akan bertahan, bahkan sampai akhir hayat. Terlebih melihat Ayah dan Ibu, yang selalu bergandengan tangan... Yang selalu dengan tulus bekerja keras demi membangun sebuah rumah yang nyaman bagiku.
Teringat ketika ku masih kecil, Ayah dan Ibu selalu mengajakku pergi berlibur. Kondisi keuangan yang kurang baik tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak bersama-sama mengusahakannya. Kuintip ketika mereka sedang berdiskusi di kursi ruang keluarga kami. Memutar otak. Lalu, aku akan melompat ke kursi dan mereka mulai menceritakan tentang destinasi kami selanjutnya. Membangun rasa gembira yang menggebu-nggebu dalam diriku. Di sana, di kursi itu, aku tahu, keringat yang diteteskan tidak ada bandingannya dengan keinginan mereka untuk aku keluar, melihat dunia ini dengan lebih luas.
Ayah dan Ibu bukanlah orang yang berpendidikan tinggi. Namun mereka ingin anaknya untuk mengejar pendidikan, jauh di atas mereka. Mereka ingin anaknya mendapatkan taraf hidup yang lebih baik sejak kecil, yang mungkin tidak sempat mereka rasakan. Ayah dan Ibu selalu menjadi rasa aman ketika aku tidak nyaman. Rasa tenang ketika keadaan mulai tegang. Rasa cinta ketika mereka saling bercerita. Aku bertanya pada diriku. Apa yang bisa menaklukkan rasa cinta Ayah dan Ibu? Tidak mungkin rasanya ada kekuatan sebesar itu.
Namun ternyata, seiring bertambahnya usiaku banyak hal yang berubah. Memang taraf hidup keluarga kami semakin meningkat. Namun, Ayah dan Ibu mulai sering bertengkar. Terkadang karena perbedaan pendapat, atau karena membahas aku yang telah bisa mengambil keputusan sendiri. Beberapa saat mereka saling mendiamkan. Beberapa saat lainnya aku mendengar perdebatan dari luar kamarku. Aku pun terkadang harus berada di tengah pertengkaran tersebut. Beberapa kali ketika pertengkaran itu begitu hebat, aku merasa lebih baik menjauh saja. Karena aku pun harus mulai fokus membangun hidupku sendiri. Bahkan, di beberapa titik aku sempat menyerah tentang mereka.
Aku kecewa dengan mereka. Mereka yang dulunya berusaha membuatku nyaman dengan istilah keluarga.
Kembali aku bertanya pada diriku. Di manakah Ayah dan Ibuku yang dulu? Apakah benar cinta Ayah dan Ibu telah pudar dimakan usia? Apakah realita keluarga memang tidak seindah gambaran ideal yang biasa ditampilkan?
Namun kini, aku telah menemukan jawabannya.
Mungkin semua tidak lagi tampak seindah dulu. Tapi mengejutkannya, mereka tetap bertahan. Utuh, sebagai satu keluarga. Seberapa pun Ayah dan Ibu menyangkalinya, terlihat sebuah kasih sayang yang tidak mereka sadari.
Di balik pertengkaran-pertengkaran kecil yang dilakukan....
Di balik rasa kesal yang menghampiri ketika berbeda pendapat....
Setiap matahari terbenam, sunggingan senyum hangat itu tak pernah terlambat untuk kembali menyapa. Sebuah senyuman yang bermakna maaf, dan membawa harapan untuk bersama-sama menjadi lebih baik. Senyuman yang meruntuhkan segala pertahanan kami. Senyuman yang mengembalikan kami di kursi yang sama, di mana kami mentertawakan apa yang kami kesalkan dan kembali berbagi kehangatan.
Kehangatan keluarga yang indah.
Ibu, Ayah. Dari kalian aku belajar.
Cinta bukan tentang perasaan semata.
Tapi juga soal komitmen untuk keluarga yang kokoh, kemauan untuk tetap bertahan, saling mendukung, dan saling percaya meski dilanda hujan dan badai. Dan meski kobaran cinta terlihat pudar dimakan usia, semua elemen itu membawa cinta menjadi bentuk mahakarya yang jauh lebih besar lagi. Sebuah cinta yang mengatasi segala gonjang-ganjing dan realita kehidupan. Sebuah cinta yang kokoh tak tertandingi.
Terima kasih, Ayah dan Ibu.
Terima kasih untuk selalu kembali ke kursi yang sama, seberapa jauh pun badai membawa kalian.
Curated For You
- [INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial 09 Sep 2026, 13:52 WIB
- Penegakan Hukum Keracunan MBG Dipertanyakan, 11 Tokoh Bersuara21 Sep 2026, 07:00 WIB
Editorial Team
EditorReinhard Gouw
Related Article
9 Outfit Holiday Couple ala Gita Savitri dan Paul, Comfy Banget!26 Sep 2026, 19:30 WIB
Inspirasi Gaya Lamaran Anak Melly Goeslaw dengan Anak Bambang Soesatyo26 Sep 2026, 18:35 WIB
Glow Up Tanpa Boncos, 5 Tips Lazymaxxing buat Cewek yang Mageran26 Sep 2026, 18:30 WIB
5 Bahasa Gaul ala Gen Z, 'When Yah' hingga 'Sepakat'26 Sep 2026, 18:28 WIB
5 Karakter yang Membantumu Beradaptasi di Lingkungan Baru26 Sep 2026, 18:25 WIB
Kenapa Sol Sepatu Lari Cepat Aus? Ini Penyebabnya!26 Sep 2026, 18:20 WIB
5 Ciri Seseorang Punya High Value Personality, Bikin Orang Nyaman26 Sep 2026, 18:17 WIB
Arti Nama Anak Pertama Adhisty Zara dan Tsaqib, Ada Sentuhan Jepang26 Sep 2026, 18:15 WIB
Inspirasi Ultah Ayu Dewi ke-42, Gaya Kasual dan Dekorasi Serba Pastel!26 Sep 2026, 18:10 WIB
Gaya Artis di Pestapora 2026 Day 1, Sheila Dara hingga Danilla 26 Sep 2026, 17:40 WIB
Kenapa saat Sudah Mau Posting, tapi Mendadak Bisa Dihapus Lagi?26 Sep 2026, 17:03 WIB
5 Cara Grounding Sederhana untuk Melepas Stres setelah Beraktivitas26 Sep 2026, 16:07 WIB
Punya Tempat Nongkrong Langganan, Ini Alasan Kita Balik Lagi 26 Sep 2026, 16:03 WIB
Kenapa Sulit Bersikap Optimis Saat Usaha Berkali-kali Gagal?26 Sep 2026, 15:25 WIB
Kenapa Kita Lebih Nyaman Jalan-jalan dengan Orang Tertentu?26 Sep 2026, 15:03 WIB
Lihat Video Couple, Kok Kita Sering Ikut Komen When Yh?26 Sep 2026, 14:03 WIB
Cara Bangun Magnetic Personality, Selalu Curi Perhatian!26 Sep 2026, 13:03 WIB
Mengapa Orang Bersikap Sok Tahu? Ini Kata Psikolog!26 Sep 2026, 12:03 WIB
Cara Melatih Kreativitas ala Karakter Masha and the Bear26 Sep 2026, 11:03 WIB
26 September Hari Statistik Nasional, Ini Sejarah Lengkapnya26 Sep 2026, 10:45 WIB