Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Membaca Buku Sebelum Tidur Masih Efektif untuk Anak?

Apakah Membaca Buku Sebelum Tidur Masih Efektif untuk Anak?
ilustrasi buku dongeng anak (pexels.com/Lina Kivaka)
  • Membacakan buku sebelum tidur tetap mendukung perkembangan bahasa anak melalui paparan kosakata, dengan rutinitas harian dikaitkan pada tambahan setidaknya 290 ribu kata sebelum taman kanak-kanak.
  • Sesi membaca bersama membantu anak mengembangkan empati, memahami perspektif berbeda, dan mengenali emosi; kedekatan fisik dengan orangtua juga memberi stimulasi bahasa serta kognitif.
  • Orangtua perlu menyesuaikan buku dengan usia dan pengalaman anak agar memicu percakapan bermakna; kebiasaan membaca bersama tetap bermanfaat hingga anak bersekolah dasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ritual baca buku sebelum tidur udah lama jadi kebiasaan yang diwariskan turun-temurun di banyak keluarga. Dari generasi ke generasi, momen ini sering dianggap sebagai cara ampuh buat menenangkan anak sebelum tidur, sekaligus nambah kedekatan antara orangtua dan anak lewat cerita yang dibacakan.

Tapi di tengah gempuran gadget dan konten digital yang makin gampang diakses anak-anak zaman sekarang, masih relevan gak sih kebiasaan ini buat diterapkan? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Membacakan buku pada anak tetap berpengaruh ke perkembangan bahasanya

    ilustrasi anak baca buku
    ilustrasi anak baca buku (freepik.com/pvproductions)

    Sejak lahir, bayi sudah punya 'hardware' alami buat berkembangnya kemampuan bahasa. Paparan konsisten terhadap berbagai pola bahasa itulah yang bantu mereka mencapainya. Menurut Laura Phillips, PsyD, seorang neuropsikolog, dilansir Child Mind Institure, hanya dengan mengenalkan kata-kata saja sudah menjadi salah satu hal penting yang bisa orangtua lakukan untuk language development anak. Apalagi, jika membacakan buku dengan kosakata yang jarang anak dengar sehari-hari.

    Gak cuma soal kosakata, riset juga menunjukkan kalau anak yang rutin dibacain buku setiap hari akan terpapar setidaknya 290 ribu kata lebih banyak begitu masuk taman kanak-kanak. Selain bahasa, membaca buku juga bantu anak membangun basis pengetahuan umum yang luas lewat cerita dan obrolan bareng orangtua selama sesi membaca.

  2. 2. Menumbuhkan empati dan kesadaran emosional

    buku anak
    Ilustrasi buku anak (Unsplash.com/ Vitaly Gariev)

    Selain bahasa dan literasi, membaca juga jadi alat penting buat bantu anak mengembangkan empati. Saat anak membaca cerita tentang orang-orang yang hidupnya beda dari mereka, mereka jadi lebih bisa menghargai perasaan orang lain. Juga memahami budaya, gaya hidup, dan perspektif yang berbeda-beda.

    "Membacakan buku secara langsung pada anak bisa memberikan pengalaman holistik berbeda (dibandingkan audio book). Kontak fisik yang didapatkan anak saat dipangku atau dipeluk oleh orangtua ketika membaca sebenarnya membantu mengaktifkan neuron-neuron di otak, yang membuat anak-anak menjadi lebih responsif terhadap bahasa dan stimulasi kognitif yang mereka dapatkan dari pengalaman tersebut," kata Laura.

    Buku juga bisa bantu anak belajar cara mengelola perasaan mereka sendiri dengan cara yang sehat. Orangtua pun bisa memanfaatkan momen membaca ini untuk mengasah kesadaran emosional anak, misalnya lewat pertanyaan simpel seperti, 'Kamu pernah gak sih marah kayak anak perempuan di buku ini? Kalau iya, kamu bakal ngapain?'

  3. 3. Perhatikan juga jenis buku yang dibaca

    buku anak
    Ilustrasi buku anak (Unsplash.com/ Stephen Andrews)

    Dr. Laura Phillips menekankan, membacakan buku pada anak memang bermanfaat, namun manfaatnya berbeda-beda. Itu kenapa, penting menyesuaikan jenis buku yang dibacakan sesuai usia anak. Untuk bayi baru lahir, orangtua bisa membacakan apa saja yang mereka mau. Karena tujuannya untuk mengenalkan kosakata.

    Ketika anak semakin besar, konten bacaan juga semakin penting. Karena buku dengan tema yang relate dengan kehidupan anak bisa menjadi jembatan untuk memicu obrolan bermakna.

    "Membaca buku dengan tema yang relate bisa melahirkan percakapan yang bermakna. Buku bisa menjadi jembatan untuk orangtua menanyakan kehidupan atau pengalaman mereka tanpa harus bertanya to the point," tambah Laura.

    Laura menegaskan, gak ada alasan buat berhenti bacain buku pada anak begitu mereka udah bisa baca sendiri. Karena membaca bareng sampai jenjang sekolah dasar tetap bisa mendukung literasi mereka yang terus berkembang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More