Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Screen Time Anak Terlalu Banyak? Ini yang Harus Orangtua Lakukan

Screen Time Anak Terlalu Banyak? Ini yang Harus Orangtua Lakukan
ilustrasi anak sedang screen time (unsplash.com/Budi Gustaman)
Intinya Sih
  • Psikolog Ghianina Armand menyarankan screen time anak maksimal satu jam tanpa jeda; usia 2–3 tahun cukup 20–30 menit karena penggunaan berlebih dapat mengganggu regulasi emosi.
  • Orangtua perlu memprioritaskan aktivitas tanpa layar yang memberi pengalaman langsung, seperti membaca dan mendongeng bersama, untuk membangun kreativitas, literasi, percakapan, serta bonding.
  • Pembatasan perlu dikomunikasikan dan dijadikan rutinitas konsisten; orangtua juga harus memilih konten sesuai usia, bernilai selaras di rumah, berbahasa sederhana, dan tidak terlalu cepat atau kompleks.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hidup di era serba canggih membuat orangtua dihadapkan oleh beberapa tantangan baru, seperti mengontrol pemberian screen time pada anak. Screen time bukan soal bermain handphone saja, tetapi juga bermain game, menonton tv, atau bahkan belajar secara daring. Menurut psikolog klinis Ghianina Armand, screen time bisa menjadi stimulasi untuk anak tetapi gak baik juga apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Nah tapi, bagaimana dengan orangtua yang terlanjur memberi akses bebas sehingga anak mengonsumsi screen time berlebihan? Ini dia langkah-langkah yang disarankan psikolog Ghianina Armand.

1. Orangtua perlu membatasi screen time maksimal satu jam

ilustrasi screen time anak
ilustrasi screen time anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Ketika screen time sudah dirasa berlebihan, orangtua perlu kembali ke aturan dasar. Dalam talkshow di acara Pesta Anak Bahagia 2026 by Popmama.com pada Sabtu (25/7/2026), psikolog Ghianina Armand mengatakan bahwa durasi screen time yang baik untuk anak maksimal satu jam tanpa ada jeda.

"Apalagi kalau anak-anak usia 2-3 tahun itu maksimal 20 atau 30 menit udah cukup," jelasnya.

Menurut Ghianina, orangtua harus bisa tegas dalam mengatur hal ini. Ketika anak terlalu banyak mendapatkan screen time, hal itu bisa berdampak ke kondisi emosionalnya sehingga anak tidak bisa meregulasi emosi dengan baik.

Selain itu, orangtua juga perlu memastikan bahwa screen time itu tidak menggantikan rutinitas anak-anak. Screen time hanya kegiatan tambahan untuk stimulasi.

"Prioritaskan kegiatan lain yang tidak membutuhkan layar, yang bisa secara langsung dilakukan, untuk first hand experience itu lebih diutamakan untuk anak-anak," tambahnya.

2. Ajak anak menciptakan rutinitas baru, seperti membaca buku

ilustrasi membaca buku bersama anak
ilustrasi membaca buku bersama anak (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ghianina menyarankan agar orangtua menyiapkan banyak kegiatan tanpa layar untuk anak. Ini juga cara agar orangtua bisa memberikan kegiatan yang kreatif serta bisa membangun bonding dengan anak.

Misalnya, orangtua bisa mengajak anak untuk membaca buku. Dengan membaca buku, bukan hanya anak yang belajar tetapi orangtua juga.

"Baca buku itu menjadi salah satu cara, bukan hanya literasi, tapi bonding-nya bisa berkembang. Membaca buku bersama, mendongeng, banyak percakapan yang bisa dikembangkan dari itu. Bahas ceritanya, karakter, emosi yang dialami karakter juga bisa menjadi pembelajaran," kata Ghianina.

3. Pastikan anak mengonsumsi konten yang sesuai dengan usia anak

Ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Harrison Haines)
Ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Harrison Haines)

Yang harus orangtua perhatikan dan lakukan juga adalah mengurasi konten-konten untuk anak. Pastikan konten-konten yang dilihat atau didengarkan oleh anak harus sesuai dengan usia mereka.

"Apakah konten itu secara visual, audio, pesannya, sesuai dengan kemampuan dia untuk menerima? Kedua, kualitasnya, pesannya apa sih, sesuai gak dengan nilai-nilai yang mau disampaikan ke anak? Sesuai gak dengan nilai-nilai yang selama ini disampaikan di rumah oleh orangtua? Itu juga harus konsisten," ujar Ghianina.

Selain itu, Ghianina menyarankan agar orangtua memberikan konten yang memperhatikan bentuk, warna, kecepatannya. Konten yang terlalu kompleks gak bisa diterima oleh anak-anak kecil yang masih mengembangkan kemampuan bahasa mereka. Jadi, pastikan bahwa bahasa yang digunakan di materi itu yang mudah untuk dicerna.

Ia juga mengatakan, "Make sure jangan yang terlalu cepat pace-nya. Again, mereka pun harus memprosesnya. Warnanya jangan yang terlalu neon, jangan yang terlalu banyak variasinya. Kadang bagi mata kita pun, jadi too much. Misalnya pergantian dari satu shoot ke shoot lain itu juga kalau bisa jangan terlalu cepat. Hal-hal itu yang kesannya sederhana, tapi matters. Bahasa yang digunakan kalau bisa kata-katanya yang simpel aja."

4. Komunikasikan pada anak bahwa terjadi perubahan durasi screen time

Ilustrasi anak bermain gadget dengan pengawasan orang tua. (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi anak bermain gadget dengan pengawasan orang tua. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ketika anak terlalu banyak memberikan screen time, orangtua harus bisa menarik anak untuk kembali ke jalur yang benar. Orangtua harus bisa mengomunikasikan dengan baik berapa banyak durasi screen time yang mereka berikan.

"Harus dikomunikasikan dulu dengan anak. Dijelaskan, misalnya sehari bisa tiga jam non stop atau sambil makan. Nah, dikomunikasikan bahwa mulai hari ini atau besok, screen time akan dibatasi. Misalnya, hanya boleh maksimum satu jam dan di jam-jam yang tidak bersamaan dengan jam makan. Hanya di waktu kosong dia," kata Ghianina.

Sekali pun anak masih kecil, Ghianina mengatakan bahwa anak bisa memulai memahami hal itu. Menurut Ghianina, lebih baik dijelaskan dengan jelasan apa alasan aslinya. Setelah dijelaskan, jadikan hal tersebut sebagai rutinitas.

"Misalnya nonton hanya di jam 4-5 sore. Harus dikonsistenkan rutinitas itu, jadi anak pun mulai membangun habit bahwa aku kalau screen time cuma bisa pulang sekolah di jam 4-5. Sisanya aku harus cari kegiatan lain," jelasnya.

Itulah beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua kalau anak mereka sudah terlanjur mengonsumsi screen time lebih dari batas waktunya. Yuk, batasi screen time anak demi perkembangan yang lebih baik!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More