"Para ibu seringkali mengalami kesulitan luar biasa dalam membayangkan konsep 'cukup baik', karena mereka sering mengejar citra kesempurnaan yang tidak mungkin tercapai dan terlalu sering merasa bahwa mereka tidak pernah cukup," jelas Malina Spirito, Psy.D., MEd psikolog berlisensi dikutip dari ChristianaCare.
Membuat Kesalahan saat Mengasuh Anak Itu Hal Wajar, Ini Penjelasan Psikolog

Banyak orangtua merasa harus selalu benar dan sempurna dalam mengasuh anak. Takut salah bicara, takut mengambil keputusan yang keliru, bahkan takut dianggap gagal. Akibatnya, pengasuhan jadi penuh tekanan-bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk diri sendiri. Padahal, kesalahan sebenarnya bisa dianggap sebagai bagian penting dari proses.
Anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna, tapi orangtua yang hadir, belajar, dan mau memperbaiki diri. Berikut pentingnya membuat kesalahan dalam mengasuh anak.
1. Konsep “good enough parent” dari psikologi

Dalam psikologi perkembangan, ada konsep terkenal yang disebut good enough parent. Artinya, orangtua tidak harus sempurna untuk bisa membesarkan anak dengan baik. Konsep ini menekankan bahwa justru melalui kesalahan kecil, anak belajar menghadapi dunia nyata.
Orangtua yang terlalu sempurna bisa membuat anak tidak siap menghadapi kekecewaan. Dengan menjadi 'cukup baik', orangtua memberi ruang bagi anak untuk belajar mandiri, memahami emosi, dan mengembangkan ketahanan mental.
2. Kesalahan mengajarkan anak tentang resiliensi

Saat orangtua membuat kesalahan lalu memperbaikinya, anak belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Ini adalah dasar dari resilience atau ketahanan mental. Menurut American Psychological Association, resilience melibatkan perilaku, pikiran, dan tindakan yang dapat dipelajari dan dikembangkan pada siapa pun.
Ketika anak melihat orangtuanya bangkit dari kesalahan, mereka belajar bahwa tidak apa-apa untuk gagal. Yang penting adalah bagaimana memperbaiki dan melanjutkan. Sebaliknya, jika orangtua selalu terlihat 'sempurna', anak bisa merasa tertekan untuk tidak pernah salah. Ini justru berisiko membuat mereka takut mencoba hal baru.
"Kesalahan bukanlah bukti bahwa kamu gagal-melainkan kesempatan untuk mengajarkan ketahanan, akuntabilitas, dan koneksi. Rangkul ketidaksempurnaan," tambah dokter spesialis anak Kristen Cook, MD, dikutip dari Psychology Today.
3. Mengakui kesalahan menguatkan hubungan emosional

Banyak orangtua merasa gengsi untuk meminta maaf kepada anak. Padahal, mengakui kesalahan justru bisa memperkuat hubungan. Saat orangtua berani berkata “maaf”, anak belajar tentang empati, tanggung jawab, dan kejujuran.
"Anak-anak belajar cara menangani kesalahan dengan mengamati bagaimana kita menangani kesalahan kita sendiri. Ya, ini berarti meminta maaf kepada anak ketika kamu melakukan kesalahan," jelas Kristen.
"Kesalahan tetaplah kesalahan, terlepas dari berapa usia orang. Banyak orangtua khawatir bahwa meminta maaf kepada anak akan melemahkan otoritas. Padahal, justru sebaliknya," lanjutnya.
Mereka juga merasa dihargai sebagai individu. Hubungan yang hangat bukan dibangun dari otoritas semata, tapi dari rasa saling menghormati-termasuk ketika orangtua melakukan kesalahan.
4. Ketidaksempurnaan membantu anak belajar emosi

Anak belajar tentang emosi bukan dari teori, tapi dari pengalaman sehari-hari bersama orangtuanya. Termasuk saat orangtua melakukan kesalahan. Ketika orangtua menunjukkan emosi, lalu memperbaikinya, anak belajar bahwa emosi itu normal dan bisa dikelola.
Mereka tidak tumbuh dengan ekspektasi bahwa semua harus sempurna. Ini penting untuk membentuk anak yang mampu memahami dan mengelola perasaannya sendiri di masa depan.
"Meskipun tindakan orang lain dapat memicu perasaan tertentu, perilaku kita sebagai respons terhadap perasaan tersebut selalu menjadi tanggung jawab kita," kata Kristen yang menjelaskan bahwa anak melihat bagaimana orangtua merespon emosi.
5. Orangtua yang terlalu perfeksionis justru berisiko

Perfeksionisme dalam pengasuhan sering terlihat baik di luar, tapi bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. Orangtua yang terlalu menuntut diri sendiri cenderung lebih mudah stres, cemas, dan lelah.
"Perfeksionisme dalam pengasuhan anak ada di mana-mana dan itu datang dengan 'harga yang mahal'. Pengejaran kesempurnaan yang tanpa henti ini menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan kritik pada diri sendiri yang terus-menerus," kata Kristen.
Ini bisa berdampak pada kualitas interaksi dengan anak. Anak pun bisa menangkap tekanan tersebut dan merasa harus memenuhi standar tinggi yang tidak realistis. Pada akhirnya, ini justru menghambat perkembangan mereka.
"Ketidaksempurnaan, jika ditangani dengan baik, menjadi kekuatan dalam pengasuhan. Pengasuhan anak tidak pernah dimaksudkan untuk dilakukan dengan sempurna. Pengasuhan anak dimaksudkan untuk dilakukan dengan jujur, penuh pertimbangan, dan dengan kerendahan hati," tambahnya.
Mengasuh anak bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus belajar. Kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses tumbuh-baik untuk anak maupun orangtua. Saat kamu mulai menerima ketidaksempurnaan, kamu memberi ruang bagi hubungan yang lebih hangat, jujur, dan manusiawi.
![[QUIZ] Dari Sifat Upin dan Ipin yang Mirip denganmu, Berapa Persen Tingkat Kedewasaanmu?](https://image.idntimes.com/post/20260324/upload_fe9033822b11b2a07810677eef3a0480_aa34abab-835e-472e-9d52-4e384bf80d54.png)
![[QUIZ] Jika Kamu Jadi Sahabat Upin dan Ipin, Seberapa Serunya Kamu sebagai Teman?](https://image.idntimes.com/post/20260219/upload_dda55f3afb4c689a82a3ce23e66a8e05_d55d8904-977f-468f-8e13-b9bed74694f6.jpg)






![[QUIZ] Pilih Lagu Upin & Ipin, Kamu Jago Matematika atau Bahasa?](https://image.idntimes.com/post/20251223/upload_f4f1df8e3817abc303ecdd901de1d6c9_94dacbd7-dba1-4234-89f1-4739513d52bd.png)








![[QUIZ] Kuis Ini Beritahu Ketulusanmu dalam Mencintai Mirip Zodiak Apa](https://image.idntimes.com/post/20250531/screenshot-2025-05-31-115855-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-fcbe628cd871ca8a2203a458193fc848.png)
