Punya anak lebih dari satu pastinya menambah kerepotan orangtua di samping kebahagiaan. Di satu sisi, orangtua harus lebih rajin bekerja untuk memperoleh nafkah yang cukup buat keluarga. Pekerjaan rumah tangga juga bertambah seiring lahirnya anak kedua, ketiga, dan seterusnya. Di lain pihak, si kecil butuh perhatian yang sangat besar dalam segala aktivitasnya. Jelas tidak aman untuk meninggalkannya sendirian meski sebentar saja. Apalagi ketika anak asyik bermain.
Apakah Tepat Menyuruh Kakak Menjaga Adik saat Bermain?

- Menugaskan kakak menjaga adik saat bermain tidak tepat jika keduanya masih kecil, karena kemampuan berpikir dan tanggung jawab kakak belum cukup matang.
- Anak-anak yang bermain di luar rumah wajib tetap diawasi orang dewasa, sebab risiko bahaya dan kejahatan bisa mengancam meski lokasi dekat rumah.
- Orangtua boleh melibatkan kakak untuk melatih tanggung jawab, tapi hanya sebatas situasi tertentu agar peran pengawasan utama tetap menjadi tanggung jawab orangtua.
Permainan yang sebetulnya aman pun bisa mendadak menjadi sumber bahaya kalau dipegang anak tanpa pengawasan. Misalnya, mainan tertelan atau masuk ke lubang hidung dan telinga. Itu sebabnya banyak orangtua menugaskan anak yang lebih besar untuk menjaga adiknya selama bermain. Walau terdengar wajar, apakah menyuruh kakak menjaga adik saat bermain adalah hal yang benar atau keliru?
1. Tidak tepat kalau mereka sama-sama masih terlalu kecil

Usia kakak harus menjadi perhatian. Walaupun adik lebih muda darinya, kalau keduanya sama-sama masih kecil, tidak tepat untukmu membebani kakak dengan tugas menjaganya. Misalnya, adik berusia 2 tahun dan kakak 4 tahun.
Keduanya sama-sama masih balita. Kakak bersekolah saja belum. Jika pun kakak bersekolah baru PAUD. Nalarnya belum berjalan. Akan berbahaya sekali apabila tugas menjaga si bungsu diserahkan padanya.
Lain halnya jika kakak sudah kelas IV SD, misalnya, sementara adik masih TK. Bertahun-tahun bersekolah sudah lumayan membantu kematangan emosi kakak. Pikirannya juga telah lebih berkembang. Dia tahu dasar-dasar baik atau buruk dan aman atau berbahaya.
2. Apalagi bermain di luar rumah, harus dalam pengawasan orang dewasa

Ada banyak sekali ancaman bahaya ketika anak bermain di luar rumah. Mulai dari kecelakaan yang melibatkan kendaraan, anak celaka sendiri seperti terjatuh ke selokan, sampai potensi menjadi target kejahatan. Sangat tidak tepat apabila adik diserahkan kepada kakak untuk bermain di luar.
Masih dengan contoh seperti dalam penjelasan poin pertama. Kakak sudah kelas IV SD dan adik baru TK pun menjadi kurang pas dibiarkan bermain di luar tanpa pengawasanmu. Bahkan kakak sendiri dapat menjadi sasaran orang jahat.
Sekalipun lokasi bermain masih berada di sekitar rumah, jangan lalai sebagai orangtua. Seharusnya kamu atau pasangan tetap mendampingi mereka. Bila kalian lagi repot, mau tak mau anak-anak wajib bermain di dalam rumah saja.
3. Kasihan kakak kalau sampai gak pernah leluasa bermain

Saat kakak dan adik sama-sama masih anak-anak, kebutuhan bermain mereka sebenarnya juga mirip. Orangtua tidak boleh terlalu membebani kakak untuk menjaga adiknya sampai ia sendiri gak leluasa bermain. Seakan-akan kakak harus selalu mengajak adik bermain.
Padahal, dia mungkin ingin bermain bersama teman sebaya. Permainan adik terasa terlalu kekanak-kanakan baginya. Apabila kakak selalu dipaksa untuk menjaga anak yang sedang bermain, lama-lama dia akan kesal.
Keberadaan adik hanya terasa merepotkannya. Kakak dapat mulai kurang sayang pada adik. Bahkan sampai mereka besar karena orangtua terbiasa menyerahkan adik dalam penjagaan kakaknya. Adik harus bermain dengan aman tanpa kakak perlu mengorbankan hak bermainnya sendiri.
4. Baik buat melatih rasa tanggung jawab, tapi tetap ada batasnya

Meminta bantuan kakak untuk menjaga adiknya ketika bermain boleh jadi bukan semata-mata karena kamu atau pasangan terlalu repot. Kalian barangkali punya maksud tertentu, seperti membentuk rasa tanggung jawab dalam diri kakak. Biar dia tidak bersikap sembarangan, melainkan awas serta menjaga.
Tujuanmu baik, tetapi jangan gegabah sampai lupa kalau anak belum dewasa. Bahkan ia juga belum memasuki usia remaja. Jangan sampai jika terjadi sesuatu yang buruk pada adik, kakak yang disalahkan.
Padahal, tanggung jawab menjaga anak seharusnya ada di pundak orangtua. Batasi penugasan kakak untuk menjaga adiknya. Seperti hanya ketika orangtua ke kamar mandi, memasak, dan sebagainya. Bukan lantas kakak seolah-olah kudu menjaga adik sepanjang hari.
5. Orangtua punya halangan apa?

Menjadi orangtua memang repot dan melelahkan. Apalagi dengan beberapa anak serta si bungsu yang sedang aktif-aktifnya. Rasanya kamu kewalahan bila harus mengawasi sambil terus mengikutinya ke sana ke mari.
Namun, begitulah tugas orangtua. Tidak ada hari libur. Bukan orangtua tak boleh meminta tolong pada kakak untuk mengawasi adiknya. Akan tetapi, itu jangan menjadi kebiasaan. Kamu dan pasangan tidak sedang terlalu repot pun, kakak tetap diminta menemani dan menjaga adiknya.
Lakukan hal tersebut hanya ketika orangtua benar-benar berhalangan atau ada hal lain yang kudu dilakukan. Bila suatu pekerjaan masih dapat disambi menjaga anak yang paling kecil, jangan main perintah pada kakaknya. Lagi pula, seringnya tugas menjaga si kecil diserahkan ke kakak malah bikin orangtua dan anak bungsu gak dekat.
Orangtua bukannya tidak boleh sesekali menyuruh kakak menjaga adik saat bermain. Akan tetapi, harus sebentar saja dan jangan sering-sering. Jangan pula mengaburkan perbedaan antara tugas orangtua dengan peran seorang kakak.


















