Banyak sekali nilai penting yang harus diajarkan orangtua pada anak. Mumpung dia masih kecil. Kalau kamu menunggu anak besar, malah bakal terlambat. Perilaku yang berlainan dengan nilai-nilai tersebut mungkin telah terbentuk.
6 Tanda Orangtua Belum Mengajarkan Kedisiplinan pada Anak

- Keterlambatan ke sekolah meski jaraknya dekat serta tidak adanya jadwal belajar rutin menunjukkan anak belum dibiasakan menghargai waktu.
- Pola mandi, makan, tidur yang tidak teratur dan kebiasaan tidak menata barang pribadi mencerminkan kurangnya aturan serta teladan disiplin di rumah.
- Anak sulit mematuhi aturan, sering meninggalkan atau kehilangan barang, sementara orangtua menyalahkan peraturan; orangtua perlu lebih dulu mempraktikkan disiplin.
Dirimu serta pasanganmu menjadi sulit mengubahnya. Salah satu nilai yang wajib diajarkan orangtua pada anak sejak dini ialah tentang kedisiplinan. Jangan biarkan anak menjadi pribadi yang sembrono atau semaunya sendiri.
Hindari pula perasaan gak tega yang tidak tepat. Kamu dan pasangan sedang mendidik anak supaya terbiasa disiplin. Bukan dirimu yang bersikap kasar dengan niat menganiayanya. Lampu kuning kalau ada enam tanda berikut di rumah. Enam hal berikut ini menjadi pertanda bahwa orangtua belum mengajarkan kedisiplinan pada anak dan wajib segera memperbaiki cara mendidik buah hati di rumah.
1. Sekolahnya dekat, tapi telat

ilustrasi anak-anak (pexels.com/Deden Hendrawan) Bila sekolah anak jauh, masih bisa dimaklumi ketika sesekali ia datang terlambat. Mungkin jalanan lebih padat dari biasanya, ada pengalihan lalu lintas, kendaraan mogok padahal perjalanan masih jauh, dan sebagainya. Itu pun gak boleh sering-sering sebab sebenarnya masih dapat diantisipasi dengan berangkat lebih awal.
Akan tetapi, parah kalau jarak sekolah anak termasuk dekat dan dia tetap tak bisa datang tepat waktu. Pasti bukan cuma anak yang tidak disiplin. Orangtua juga gak biasa dengan kedisiplinan.
Jarak tempuh sekolah sebenarnya cuma 10 menit berjalan kaki. Namun, anak bahkan baru berangkat jauh setelah bel masuk. Orangtua yang mengantarkannya pun bersikap kelewat santai.
2. Tidak punya jam belajar yang jelas di rumah

ilustrasi tidak fokus belajar (pexels.com/Anastasia Shuraeva) Anak harus punya jam belajar rutin di rumah. Bahkan saat ada hari libur lebih dari sehari dalam sepekan, anak mesti tetap belajar. Jangan kendur soal waktu belajar karena akan sangat memengaruhi prestasi akademik maupun nonakademik sampai jauh ke masa depan.
Akan tetapi, anak yang tidak terbiasa dengan nilai-nilai kedisiplinan pasti jarang belajar. Bukan karena ia sudah sangat pintar sehingga sekali diajari oleh guru di sekolah langsung paham. Namun, semata-mata lantaran tidak ada pembiasaan dari orangtua.
Anak cuma terpaksa belajar ketika besok ada PR atau mau ulangan. Sudah jelas dia menjadi lambat dalam belajar. Orangtua gak mewajibkan anak buat rajin belajar.
3. Mandi, makan, dan tidur berantakan

ilustrasi tidur di lantai (pexels.com/https://kaboompics.com/) Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Seharusnya kebersihan diri, pola makan, serta pola istirahatnya dijaga betul. Kalau orangtua sembarangan terkait tiga hal di atas, tentu anak menjadi mudah sakit.
Contoh, anak menolak mandi pagi di hari libur pun orangtua gak memaksa. Akhirnya anak cuma mandi sekali sehari, yaitu di sore hari. Baju gak ganti, bau, bahkan mungkin semalam ia sempat mengompol.
Soal makan apalagi. Begitu anak berkata tak mau makan atau cuma makan sedikit sekali, orangtua tidak berusaha lebih keras untuk membuatnya mau makan. Anak sering makan nasi cuma sekali sehari.
Tentang tidur, ada dua kemungkinan. Anak kecil-kecil sudah suka begadang atau malah tidur di jam-jam yang seharusnya ia beraktivitas. Tidak ada usaha orangtua untuk membuat waktu tidurnya lebih teratur.
4. Gak terbiasa menata barang-barangnya sendiri

ilustrasi seorang anak (pexels.com/Pragyan Bezbaruah) Rumah seperti kapal pecah menjadi keluhan banyak orangtua. Namun, seiring pertambahan umur, anak seharusnya dapat lebih rapi. Kecuali, orangtua memang tidak mengajarkan kedisiplinan padanya.
Boleh jadi barang-barang orangtua sendiri ditaruh di sembarang tempat. Anak meniru kebiasaan tersebut dengan sembarangan menaruh mainan serta peralatan sekolah. Kondisi di rumah makin tidak keruan.
Ada dua hal sekaligus yang harus diajarkan pada anak dan dicontohkan oleh orangtua. Yaitu, kedisiplinan serta kerapian. Tanpa kedisiplinan, mustahil anak bisa hidup dengan rapi dalam hal apa pun. Tanggung jawab anak atas barang-barang pribadinya juga mesti ditempa.
5. Anak melakukan pelanggaran, aturan yang disalahkan

ilustrasi anak-anak (pexels.com/Pavel Danilyuk) Ini terjadi karena di rumah pun tak ada aturan yang wajib dipatuhi anak. Orangtua menjadi merasa gak terima kalau anak coba didisiplinkan oleh pihak lain dengan penerapan sejumlah aturan. Sekalipun peraturan tersebut dirancang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi seperti guru.
Tujuan dari pemberlakuan sejumlah peraturan itu juga semata-mata demi kebaikan anak. Lagi pula, anak-anak yang lain bisa mematuhinya karena orangtua mereka kooperatif. Cuma anakmu yang gak bisa beradaptasi.
Sementara dirimu dan pasangan berusaha memproteksi anak dengan cara yang salah. Bukannya kalian membimbing anak agar tertib pada aturan, justru mencela peraturan tersebut. Pokoknya kalau bisa semua hal di dunia ini mengikuti kenyamanan anakmu saja.
6. Barang-barangnya sering ketinggalan atau hilang di sekolah

ilustrasi kaget (pexels.com/Kampus Production) Pada minggu ini saja, sudah berapa kali ada kejadian tumbler anak tertinggal di laci meja? Atau, alat tulisnya hilang entah ke mana. Ini bukan hanya soal harga tiap benda tersebut serta keharusan untukmu kembali membelikannya.
Akan tetapi, akar masalahnya lebih dari sekadar anak yang lupa. Di balik kecerobohannya, sesungguhnya ada sikap tidak disiplin yang mulai tumbuh subur. Ia tidak mau repot sedikit untuk segera mengamankan barang-barangnya setelah digunakan.
Anak juga tak memeriksa kembali isi tasnya sebelum pulang. Buku atau alat tulis anak memang tidak pernah ketinggalan di rumah karena ada orangtua yang membantu menatanya. Sifat tidak disiplin tampak lebih jelas saat anak sendirian.
Jika orangtua belum mengajarkan kedisiplinan pada anak, akan banyak hal yang terjadi. Nah, agar orangtua mampu mendisiplinkan anak, PR pertama justru pada kamu dan pasangan. Kalian mesti terlebih dahulu membiasakan diri supaya disiplin. Sebab latihan kedisiplinan bukan hanya teori atau motivasi, melainkan praktik.





![[QUIZ] Apakah Kamu Orang yang Fake di Media Sosial?](https://image.idntimes.com/post/20250329/contoh-pembunuhan-karkater-dalam-kehidupan-sehari-hari-apa-saja-contoh-pembunuhan-karakter-menyebarkan-menyebabkan-gosip-sosial-media-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-cc91d89ec37879367ef67fc5fdb6ec91.jpg)



![[QUIZ] Kamu Lebih Sulit Memaafkan atau Melupakan?](https://image.idntimes.com/post/20260607/12520_c3b30fff-3492-4deb-a125-a89f322fd484.jpg)









