"Yang pertama itu mungkin mengerti. Jadi memahami, mengerti, dan memahami. Dari pihak sekolah harus mengerti dan memahami bahwa neurodivergent itu ya memang otaknya work differently. Yang kedua adalah bagaimana cara meng-handle anak-anak neurodivergent. Ini tentu berbeda sama menangani anak-anak neurotypical. Dan training, jadi training guru-guru itu sangat penting sekali," ujar Chatrine dalam pemaparannya pada Senin (10/8/2026) pada acara Media Briefing “Suara Orang Tua: Realita Pengasuhan Anak Neurodivergent di Indonesia” di Atelier of Minds, Jakarta Selatan.
Pendidikan dan Pengasuhan yang Tepat untuk Anak dengan Neurodivergent

- Anak neurodivergent memiliki cara berpikir dan belajar berbeda, sehingga membutuhkan dukungan personal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat yang memahami kebutuhannya.
- Sekolah perlu menerapkan pendekatan inklusif, melatih guru menangani kebutuhan berbeda, serta membangun komunikasi dan kerja sama rutin dengan orangtua.
- Orangtua dianjurkan mencari komunitas pendamping, memahami kebutuhan anak, dan mengevaluasi diri untuk mengakses dukungan yang relevan bagi tumbuh kembang anak.
Neurodivergent merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang yang memiliki cara kerja otak, pemrosesan informasi, perilaku, dan cara belajar berbeda dari apa yang umumnya dianggap sebagai “normal” atau tipikal. Melansir Verywell Mind, Judy Singer, seorang sosiolog Australia, menggunakan istilah neurodiversity untuk menggambarkan individu yang didiagnosis dengan ketidakmampuan belajar, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dan autism spectrum disorder (ASD).
Mendukung tumbuh kembang anak neurodivergent tentu membutuhkan pemahaman, pendekatan pendidikan, serta upaya pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang yang spesifik. Lantas, dukungan seperti apa yang dapat diberikan kepada anak neurodivergent?
1. Dukungan yang diperlukan untuk orangtua dengan anak neurodivergent

Ilustrasi ADHD (Pexels.com/Luna Lovegood) Salah satu bentuk dukungan yang penting adalah memastikan lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memiliki pemahaman yang baik mengenai kondisi neurodivergent. Hal ini termasuk lingkungan sekolah, masyarakat, hingga keluarga, mengingat setiap individu memiliki peran untuk mendukung perkembangan anak.
Chatrine Siswoyo, selaku Founder Atelier of Minds, student care yang turut menangani anak neurodivergent, menyampaikan bahwa lingkungan sekolah juga menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung tumbuh kembang anak neurodivergent. Ia menuturkan dukungan apa saja yang perlu dikembangkan bagi orangtua dan anak.
Menurutnya, pelatihan bagi guru sangat penting karena guru akan menjadi pihak yang banyak berinteraksi dengan anak. Oleh karena itu, guru perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi anak dengan kondisi otak yang berbeda.
Pada dasarnya, anak neurodivergent bukan berarti tidak mampu, melainkan memiliki cara belajar dan berpikir yang berbeda. Karena itu, diperlukan pendekatan yang spesifik dan personal sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
2. Cara memilih sekolah untuk anak neurodivergent

ilustrasi ADHD (pexels.com/RDNE Stock project) Selain memberikan dukungan kepada anak, orangtua juga perlu selektif dalam memilih lingkungan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Sekolah formal perlu memiliki kesiapan untuk menerapkan sistem yang inklusif dan memahami kebutuhan setiap anak.
"Dalam memilih sekolah itu, kita perlu memperhatikan indikator-indikator dan kebutuhan anak seperti apa," ujar Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Lead Psychologist Atelier of Minds pada momen yang sama.
Salah satu aspek yang dapat diperhatikan adalah bagaimana pengalaman anak ketika berada di sekolah tersebut. Orangtua dapat melihat apakah lingkungan sekolah membuat anak merasa nyaman dan bahagia.
"Kita bisa melihat indikator-indikatornya dari perspektif anaknya dulu. Misalkan, ketika anak sekolah di sana, apakah ada perasaan happy atau gak," lanjut Erna.
Selain itu, penting untuk melihat apakah sekolah benar-benar menerapkan pendekatan inklusif. Salah satunya dengan memahami kebutuhan anak secara mendetail. Komunikasi antara sekolah dan orangtua juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
"Sebagai orangtua juga yang mendapatkan layanan dari sekolah, mungkin sekolahnya juga memberikan feedback kepada orangtua gitu. Jadi orangtua tahu, orangtua juga mungkin ada hal-hal yang bisa menjadi insight, diterapkan di rumah. Jadi, kayak memberikan sekolah kepada anak itu, saling kerjasama sih kalau menurut saya," sambung Erna lagi.
Dengan demikian, dukungan terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh satu pihak. Sekolah dan orangtua perlu saling berkomunikasi dan bekerja sama agar kebutuhan anak dapat dipahami dan didukung, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
3. Langkah orangtua untuk mendukung anak neurodivergent

ilustrasi ADHD (pexels.com/RDNE Stock project) Anak neurodivergent akan tumbuh menjadi orang dewasa neurodivergent. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menemukan komunitas yang dapat membersamai perjalanan anak dalam berbagai tahap kehidupannya. Berada di lingkungan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa, dapat membantu mereka berbagi pandangan, pengalaman, maupun berbagai hal lain yang berkaitan dengan kehidupan sebagai individu neurodivergent.
Psikolog Klinis Amy Marschall, PsyD, dalam Verywell Mind, menyarankan agar orangtua juga melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Pasalnya, gangguan perkembangan saraf, termasuk ADHD, autisme, dan ketidakmampuan belajar berkaitan dengan genetika. Dengan demikian, ketika seorang anak neurodivergent, ada kemungkinan orangtuanya juga mengalami kondisi yang sama. Dengan melakukan evaluasi dan mengidentifikasi kondisi diri, orangtua mungkin dapat lebih memahami pengalaman anak, sekaligus mengetahui sumber daya dan dukungan yang dapat diakses untuk membantu anak secara lebih maksimal.
Pada akhirnya, memahami cara kerja otak, gaya komunikasi, serta kebutuhan anak neurodivergent sangat penting untuk memastikan mereka dapat tumbuh dan memiliki kualitas hidup yang terbaik. Dukungan yang tepat bukan hanya tentang membantu anak beradaptasi dengan lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang mampu memahami dan mengakomodasi kebutuhan mereka.











![[QUIZ] Dari Caramu Marah, Ini Ketahanan Mentalmu yang Asli](https://image.idntimes.com/post/20260428/pexels-thirdman-8012043_02466f9a-4a32-4940-9dcb-e7930ed0c8d1.jpg)

![[QUIZ] Pilih Cuaca Favorit, Ini Relationship Goal Kamu yang Sebenarnya](https://image.idntimes.com/post/20260806/chuttersnap-tsgwbumanue-unsplash_7b36b1f1-aae6-45c7-b0ee-7aff03e34dd2.jpg)

![[QUIZ] Dari Momen Upin Ipin, Ini Stress Response Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260805/radqskrrj1km5pxnx88b7zx4h_3079d4e4-7bd6-4f83-91a4-1c5354f68dd2.jpg)






