Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pentingnya Stimulasi Vestibular bagi Anak, Melatih Keseimbangan
ilustrasi stimulasi anak dengan bantuan anggota keluarga (pexels.com/Keira Burton)

Lengan kecil itu tengah sibuk bermain dengan berbagai mainan, mulai dari dinosaurus hingga robot yang berserakan di sekitarnya. Namun, ketika kaki kecilnya mencoba melangkah untuk mengambil mainan yang berada sedikit jauh dari jangkauan, tubuhnya tampak limbung dan belum mampu menjaga keseimbangan hingga akhirnya terjatuh ke lantai. Wajahnya mulai sendu, lalu air mata bening keluar dari pelupuk mata. Si kecil menangis karena rasa sakit akibat terjatuh yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Tak lama kemudian, sepasang tangan besar meraih tubuh kecil itu untuk direngkuh dan digendong ke dalam dekapan. Usapan lembut sang ibu ternyata belum cukup membuat tangisnya mereda. Ibu kemudian kembali menaruh anak di atas lantai dan mengajaknya bergerak. Untuk mengalihkan perhatiannya, ibu mencoba bergerak berputar hingga akhirnya gerakan tersebut diikuti oleh anak. Ibu juga mengajak anak melompat dan bergoyang sebagai bagian dari stimulasi gerak yang memberikan input vestibular, sehingga anak tidak hanya kembali tenang, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenali gerakan tubuhnya.

1. Sistem sensorik yang membantu tubuh memahami gerakan

Ilustrasi melatih motorik anak (pexels.com/Alex Green)

Lengan dan kakinya kembali bergerak, mencoba mengeksplorasi berbagai benda yang ada di sekitarnya. Namun, ada satu hal yang masih terlihat terbatas, yaitu kemampuan menjaga keseimbangan ketika tubuhnya bergerak untuk mendapatkan benda yang diinginkan. Dalam kondisi tersebut, sistem vestibular menjadi salah satu bagian penting yang membantu tubuh memahami gerakan, posisi kepala, keseimbangan, orientasi ruang, dan gravitasi.

“Sistem vestibular adalah salah satu sistem sensorik yang paling kuat—dan paling sering diabaikan. Terletak di telinga bagian dalam, sistem ini merupakan cara bawaan tubuh untuk memahami gerakan, keseimbangan, orientasi spasial, dan gravitasi,” ungkap Rachel Cohen, psikolog klinis, dikutip dari Ability Innovations.

Saat ibu mengajak anak bergerak, tubuh anak menerima input vestibular yang kemudian diproses oleh otak. Pemrosesan input vestibular yang akurat dapat membantu seseorang merasa lebih membumi, terorganisir, aman, dan mampu mengatur respons tubuh terhadap lingkungan. Sistem ini juga berperan dalam perkembangan motorik, sosial, emosional, kognitif, dan sensorik anak.

2. Stimulasi vestibular memengaruhi perkembangan anak

ilustrasi perkembangan anak (Pexels.com/Alexander Dummer)

Gerakan yang diberikan kepada anak bukan hanya sekadar membuat tubuhnya aktif. Ibu mencoba mengajak anak bergerak maju dan mundur, dari sisi ke sisi, serta ke atas dan ke bawah. Setelah itu, ada pula gerakan yang melibatkan perubahan posisi kepala, seperti memiringkan kepala, melakukan transisi, hingga berada dalam posisi terbalik. Beberapa gerakan juga dapat dilakukan dengan mempercepat, memperlambat, atau menghentikan gerakan secara tiba-tiba.

“Penting untuk dicatat bahwa ada berbagai jenis input vestibular, karena tidak semua gerakan itu sama. Masing-masing memiliki implikasi uniknya sendiri, dan seorang anak mungkin terlalu responsif atau kurang responsif terhadap satu jenis dan/atau mengalami kesulitan membedakan jenis lainnya,” tambah Rachel.

Setiap anak dapat memberikan respons yang berbeda terhadap input vestibular. Ada anak yang kurang responsif sehingga membutuhkan lebih banyak gerakan untuk mendapatkan input yang sesuai, sementara anak lain justru dapat lebih sensitif terhadap gerakan tertentu. Karena itu, stimulasi vestibular perlu disesuaikan dengan respons dan kebutuhan masing-masing anak, bukan diberikan dengan cara yang sama kepada semua anak.

3. Membantu mengatur emosi

Anak tenang (Pixabay/StockSnap)

Ibu masih mengingat bagaimana sang anak menangis setelah terjatuh saat bermain. Ketika ibu kemudian mencontohkan beberapa gerakan dan mengajak anak bergerak, ia bukan hanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi keseimbangan dan kemampuan motoriknya, tetapi juga memberikan input vestibular yang dapat berhubungan dengan pengaturan emosi.

“Bagi beberapa anak, input vestibular dapat membantu menenangkan keadaan cemas atau terlalu bersemangat. Misalnya, gerakan lambat dan berirama seperti mengayun atau bergoyang dapat menenangkan,” kata Shelby Godwin, asisten terapis okupasi, dilansir Carolina Therapy Connection.

Ibu pun tidak memberikan gerakan secara berlebihan dan hanya mencontohkan gerakan yang dibutuhkan anak. Sebab, respons terhadap input vestibular setiap anak berbeda. Gerakan yang lebih intens atau tidak terduga dapat membuat sebagian anak mengalami kelebihan rangsangan sensorik hingga merasa cemas atau tidak nyaman.

4. Melatih perhatian dan fokus

Ilustrasi melatih fokus anak (pixabay.com/StockSnap)

Setelah tangisnya mulai mereda, ibu kembali mengajak anak bergerak dengan perlahan. Setiap gerakan dilakukan tanpa terburu-buru agar anak memiliki kesempatan untuk memperhatikan dan memahami apa yang sedang dilakukan. Dengan begitu, input vestibular yang diberikan dapat disesuaikan agar mendukung kemampuan anak untuk tetap terlibat dalam aktivitas.

"Anak-anak yang kurang responsif terhadap input vestibular mungkin kesulitan untuk tetap duduk atau memperhatikan dalam waktu lama,” jelas Shelby.

Namun, ibu tetap memberikan gerakan secukupnya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan anak. Input vestibular yang terlalu banyak atau tidak sesuai justru dapat membuat anak teralihkan maupun kewalahan oleh gerakan di sekitarnya. Menemukan tingkat stimulasi yang tepat dapat membantu mendukung perhatian dan fungsi kognitif anak.

Melihat anak yang sempat kesulitan menjaga keseimbangan, ibu pun mencoba mencari tahu cara yang dapat membantu perkembangannya. Ia menemukan bahwa input vestibular merupakan salah satu bagian dari pengalaman sensorik yang dapat mendukung kemampuan anak dalam memahami gerakan, menjaga keseimbangan, mengatur emosi, serta mempertahankan perhatian dan fokus. Namun, setiap gerakan tetap perlu disesuaikan dengan respons dan kebutuhan anak agar stimulasi yang diberikan terasa tepat dan tidak berlebihan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article