Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Mending Sibuk Kerja daripada Merawat Keluarga Toksik?
ilustrasi bekerja (pexels.com/https://kaboompics.com/)
  • Menyibukkan diri dengan pekerjaan dapat memberi jarak aman dari konflik keluarga toksik serta membuka interaksi yang lebih sehat dan suportif dengan rekan kerja.

  • Dunia kerja menghadirkan peluang penghasilan, rasa aman, dan ruang untuk mengalihkan fokus dari tekanan rumah yang berpotensi mengganggu kesehatan mental.

  • Pekerjaan membantu membangun masa depan dan kesuksesan, yang digambarkan sebagai benteng untuk mengurangi dampak perkataan serta pengaruh negatif keluarga toksik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keluargamu setoksik apa? Mungkin gak banyak orang yang bisa memahami situasi di rumahmu dan hubunganmu dengan orangtua serta saudara. Memang relasi kalian berbeda dari kebanyakan keluarga.

Tidak ada gunanya kamu terlalu menjelaskannya kepada orang lain. Paling penting adalah memastikan hidupmu terus berjalan. Bahkan pribadi dan kehidupanmu dapat makin berkembang sekalipun suasana di rumah kurang kondusif.

Salah satu cara supaya dirimu tetap waras adalah dengan menjaga jarak aman dari keluarga sendiri yang kelewat toksik. Daripada kamu setiap saat seperti berada di tengah masalah keluarga yang tak berkesudahan, mending menyibukkan diri dengan pekerjaanmu. Jangan terlalu takut dicap egois karena keputusan sibuk kerja daripada merawat keluarga toksik punya alasan yang sangat kuat.

1. Di tempat kerja, kamu bertemu teman-teman yang asyik

ilustrasi bahagia di kantor (pexels.com/Gustavo Fring)

Kamu tahu betul betapa tersiksanya berada di tengah keluarga yang toksik. Dirimu bareng mereka satu jam saja rasanya sudah seperti sehari dan sehari seakan-akan setahun. Interaksi dalam keluarga yang toksik tidak dapat membuatmu tenang.

Jika ketenangan jauh dari hidupmu, bagaimana kamu bisa bahagia? Semua orang berhak hidup dalam kebahagiaan. Ini tak harus sempurna karena hidup pasti ada suka dan duka. Namun, minimal dirimu lebih sering happy daripada penuh tekanan.

Tempat kerja memberimu kesempatan untuk merasakan kebahagiaan bersama teman-teman. Karakter mereka berlainan. Kadang ada juga teman yang kesal, tapi secara umum hubungan kalian baik. Bahkan interaksi yang terbangun jauh lebih sehat serta suportif dibandingkan dengan keluarga.

2. Juga klien atau konsumen yang pastinya mendatangkan uang

ilustrasi bekerja (pexels.com/Alena Darmel)

Saat keluarga dan rumah tak memberimu kebahagiaan seperti yang seharusnya, dunia kerja lebih menarik. Teman-teman yang seru bukan satu-satunya alasan. Dirimu juga berjumpa dengan banyak klien atau konsumen.

Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan dengan potensi uang untuk kantormu dan akhirnya juga untukmu sebagai karyawan. Kamu gak lantas mata duitan hanya karena lebih suka berinteraksi dengan mereka ketimbang keluarga sendiri yang toksik. Namun, dirimu punya cukup uang di tengah keluarga yang kurang peduli padamu, tentu terasa jauh lebih menenteramkan.

Bohong kalau uang disebut tak dapat membeli kebahagiaan. Memang tidak semua hal di dunia ini dapat ditebus dengan duit. Akan tetapi, uang membuatmu merasa aman ketika keluarga tidak dapat memberikannya dan malah terasa sebagai teror tak berkesudahan.

3. Terbelenggu keluarga toksik merusak mentalmu

ilustrasi bekerja (pexels.com/Ron Lach)

Sejak kapan kamu menyadari betapa toksiknya keluargamu? Kapan pun kesadaran itu muncul, pasti mentalmu telah terpengaruh. Dirimu mudah merasa tidak aman, tak memiliki kepercayaan diri yang sehat, bahkan bisa menyimpan kebencian terhadap semua orang.

Bagus kamu menyadarinya lebih cepat. Harapannya, mentalmu masih dapat terselamatkan. Ini tidak bisa tercapai kalau gak ada dunia lain yang lebih kondusif untuk pemulihan mentalmu.

Dunia kecil itu bisa berupa lingkungan kerja. Dengan kamu sibuk bekerja, pikiran teralihkan dari segala hal yang terjadi di rumah. Dirimu didorong agar fokus pada tugas-tugas. Orang-orang berinteraksi secara positif karena kedamaian membantu kalian semua untuk berkonsentrasi. Damai, kata yang hilang di rumahmu.

4. Masa depan ikut berantakan

ilustrasi teman-teman kerja (pexels.com/Kampus Production)

Keluarga yang toksik tidak peduli padamu, apalagi masa depanmu. Malah tak jarang mereka lebih suka melihatmu gagal dan gak punya masa depan yang bagus. Kamu harus berusaha lebih keras untuk menata masa depanmu sendiri.

Tentu, ini sangat berat dilakukan di tengah minimnya contoh dan dukungan. Alangkah beruntungnya bila kamu bekerja. Lingkungan kerja selalu berorientasi jauh ke depan. Ini akan sangat membantumu menatap lebih jauh dari sekadar drama di keluargamu.

Jangan sampai kamu kendur dalam mengupayakan masa depan yang baik. Dirimu juga dapat secara terang-terangan meminta dukungan dari teman dan atasan. Dunia kerja amat dinamis. Beda dengan pola toksik dalam keluargamu yang dari masa ke masa tetap saja rumit seperti itu.

5. Kesuksesan menjadi benteng dari orang-orang toksik

ilustrasi mendapatkan ucapan selamat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tentu situasi beracun dalam keluarga melemahkan langkahmu dalam membangun kesuksesan. Justru keluarga seperti menggembosi semangatmu untuk mengejar berbagai impian. Dirimu terus dijejali sugesti bahwa kamu tak pantas dan tidak akan mampu mencapai keberhasilan apa pun.

Beragam sebutan yang merendahkan telah sering didengar olehmu. Dengan segala kesulitannya, kamu perlu terus membakar semangat guna meraih kesuksesan. Pasalnya, kesuksesan tak ubahnya benteng kokoh yang dapat menahan pengaruh negatif orang-orang toksik.

Mereka tentu gak lantas berhenti dan berubah menjadi baik padamu. Orang toksik bisa makin toksik saat kepanasan melihatmu berhasil. Namun, apa pun yang dilakukan atau dikatakan mereka seperti peluru tumpul yang tidak lagi bisa terlalu melukaimu. Posisimu sudah jauh lebih tinggi. Bahkan jika mereka melontarkan kalimat terburuk, kamu cuma mendengarnya sayup-sayup.

Tidak mudah besar di keluarga toksik, apalagi kalian masih setiap hari bertemu di rumah. Jadikan pekerjaan sebagai salah satu pelarian sehatmu. Pilihan untuk sibuk kerja daripada merawat keluarga toksik lebih baik daripada kamu asal mencari hiburan yang negatif serta memperburuk kehidupanmu di masa kini maupun di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article