Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Kita Tetap Kesepian di Tengah Ramainya Notifikasi?

4 min read
Mengapa Kita Tetap Kesepian di Tengah Ramainya Notifikasi?
ilustrasi seseorang merasa cemas saat memantau linimasa media sosial (pexels.com/Kaboompics)
  • Ramainya notifikasi dan koneksi digital belum tentu memenuhi kebutuhan manusia akan hubungan yang mendalam dan bermakna.

  • Media sosial dapat memicu perbandingan sosial, iri hati, rasa tertinggal, dan kesepian ketika digunakan secara berlebihan.

  • Media sosial bisa membantu melawan kesepian jika digunakan untuk memperkuat hubungan yang sudah ada atau membangun koneksi baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ponsel jadi bagian yang jarang lepas dari tanganmu, bukan? Selalu ada puluhan notifikasi masuk, entah itu dari grup percakapan kantor, keluarga, atau pertemananmu. Ketika mengunggah sesuatu ke media sosial, notifikasi likes atau komentar kerap jadi tolak ukur atau pencapaian seseorang. 

Ironinya, banyak orang merasa hampa dan kesepian. Internet dan ponsel memudahkan kita untuk terhubung dengan siapa pun. Sayangnya, kesepian masih jadi salah satu masalah yang kerap dialami generasi muda. World Health Organization (WHO) saja mencatat bahwa 1 dari 6 orang di dunia mengalami kesepian di kalangan generasi muda.

Lalu, mengapa hubungan yang tampak ramai di layar, belum tentu membuat kita merasa benar-benar dekat dengan orang lain? 

  1. 1. Interaksi digital gak bisa memenuhi kebutuhan manusia akan hubungan yang lebih bermakna

    ilustrasi menggulir media sosial
    ilustrasi menggulir media sosial (unsplash.com/Marco Palumbo)

    Sebanyak apa pun koneksi yang kamu punya, gak berarti apa-apa kalau gak ada interaksi yang mendalam. Artinya, kuantitas kontak memang gak bisa disamakan dengan kualitas koneksi atau interaksi. Sama halnya dengan orang yang selalu ada di dekat kita sehari-hari, belum tentu menjadi orang yang punya keterikatan emosional dengan kita.

    Evonne Teh, Psikolog Klinis dari National University Polyclinics (NUP) dalam laman National University Health System, mengatakan bahwa kondisi ini menjadi fenomena yang umum terjadi. Rasa kesepian menjadi paradoks di tengah interaksi digital.

    “Rentetan notifikasi, tanda jempol (likes) pada sebuah unggahan, atau banjir pesan dalam grup mungkin memberikan kesan adanya keterlibatan sosial, namun justru membuat seseorang merasa hampa secara emosional,” ungkapnya dalam laman tersebut.

    Ia menjelaskan bahwa ada studi tentang generasi muda yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari bermain media sosial, cenderung memiliki tingkat kesepian yang lebih tinggi. Tidak ada interaksi bermakna sekalipun fokusnya tertuju pada media sosial yang memungkinkanmu terhubung secara digital dengan banyak orang.

    "Pada dasarnya, interaksi digital yang dangkal justru dapat mempertegas apa yang hilang, yakni keintiman yang nyata. Orang yang merasa kesepian mungkin beralih ke media sosial sebagai mekanisme untuk mengatasi perasaan tersebut. Namun jika interaksi yang dilakukan hanya bersifat dangkal, akar permasalahan kesepian itu tetap tidak terselesaikan," katanya dalam laman yang sama

  2. 2. Konten yang ada di media sosial bisa memunculkan perbandingan sosial

    Ilustrasi curhat di media sosial (pexels.com/Ejov Igor)
    Ilustrasi curhat di media sosial (pexels.com/Ejov Igor)

    Dilansir Psychology Today, riset menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang digunakan untuk media sosial, semakin besar individu merasa kesepian. Gak hanya kesepian, media sosial bisa memunculkan perasaan lain yang disebabkan oleh iri hati. Nyatanya, interaksi visual gak bisa menggantikan percakapan tatap muka.

    “Jika kesepian diibaratkan sebagai rasa lapar, maka media sosial atau bahkan platform seperti Zoom, bisa disamakan seperti menyantap sebungkus biskuit. Media sosial juga sering kali memanipulasi persepsi kita terhadap orang lain,” kata Richard Deming, seorang kritikus serta direktur di Universitas Yale kepada Psychology Today.

    Media sosial memungkinkan kita untuk mengetahui kehidupan orang lain dan merasa iri akan hal itu. Tanpa sadar, melihatnya terus-menerus bisa memicu rasa tertinggal dan terisolasi. Richard Deming memandang kesepian sebagai suatu hal yang harus direspons secara bijaksana.

    “Rasa kesepian bisa saja menghampiri kita, namun kita tidak harus tak berdaya menghadapinya. Jika kesepian merupakan sebuah kisah yang kita ceritakan kepada diri sendiri, kita bisa secara aktif mengubah narasi tersebut,” tuturnya dalam laman tersebut.

  3. 3. Kesepian bisa muncul karena salah dalam menggunakan media sosial

    ilustrasi terbawa emosi ketika membaca berita di media sosial
    ilustrasi terbawa emosi ketika membaca berita di media sosial (pexels.com/Ivan S)

    Setiap hal di dunia ini bersifat dualitas. Begitu pun dengan media sosial, selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa apa yang kita lakukan di masa sekarang menentukan bagaimana diri kita di masa depan.

    Perasaan kesepian, meskipun notifikasi ramai, juga sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memperlakukan media sosial dan kemudahan-kemudahan digital lainnya. Roger Patulny, seorang sosiolog dari University of Wollongong kepada Psychology Today, menjelaskan bahwa media sosial itu efektif melawan kesepian jika digunakan untuk memperkuat hubungan yang sudah ada atau membangun koneksi baru. 

    Psikolog Evonne Teh juga menyarankan untuk lebih bijak dalam berselancar di dunia maya. Contohnya, memperbanyak interaksi langsung dengan sahabat atau teman kerja, mengurangi scrolling, atau menghubungi seseorang secara langsung.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More