Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenali Split-Shift Parenting, Bagi Tugas Rumah Tangga Secara Adil

Kenali Split-Shift Parenting, Bagi Tugas Rumah Tangga Secara Adil
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ксения)
Share Article

Menjalani peran sebagai orangtua sambil bekerja sering kali membuat pasangan kewalahan. Di tengah kesibukan mengurus anak, pekerjaan kantor, hingga berbagai urusan rumah tangga, tidak jarang salah satu pihak merasa menanggung beban lebih besar. Kondisi ini dapat memicu stres, kelelahan, hingga konflik yang sebenarnya bisa dicegah melalui pembagian tugas yang lebih adil.

Salah satu konsep yang semakin banyak diterapkan adalah split-shift parenting. Metode ini membagi tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak berdasarkan waktu, kemampuan, serta kesepakatan bersama.

1. Apa itu split-shift parenting dan mengapa semakin populer?

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Steven Van Loy)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Steven Van Loy)

Split-shift parenting adalah pola pengasuhan di mana pasangan membagi waktu dan tanggung jawab secara bergantian. Misalnya, salah satu orangtua bertugas mengurus anak pada pagi hari, sementara pasangan mengambil alih pada sore atau malam hari. Konsep yang sama juga dapat diterapkan pada pekerjaan rumah tangga.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam European Sociological Review berjudul "Couples’ Division of Employment and Household Chores and Relationship Satisfaction: A Test of the Specialization and Equity Hypotheses", menyebutkan bahwa kesetaraan 'jam kerja' dalam pembagian pekerjaan rumah tangga secara positif memengaruhi kepuasan hubungan. Ketika kedua pihak merasa kontribusinya dihargai dan pembagian tugas dianggap adil, kualitas hubungan cenderung lebih baik.

"Jumlah tugas yang dibagi secara merata sangat penting bagi kualitas hubungan pria dan perempuan. Salah satu prediktor terbesar kepuasan adalah perasaan keadilan dalam hubungan,” kata Daniel Carlson, profesor madya di Universitas Utah menambahkan dikutip dari Time.

“Ternyata, semakin banyak tugas yang dikerjakan pasangan bersama-sama, semakin besar perasaan keadilan mereka, dan semakin puas mereka dengan pengaturan pekerjaan rumah tangga mereka," lanjutnya.

2. Kenali dan bagi beban mental, bukan hanya pekerjaan fisik

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by charlesdeluvio)

Banyak pasangan fokus membagi pekerjaan fisik seperti mencuci piring atau menyapu lantai. Padahal, ada beban tak terlihat yang dikenal sebagai mental load, yaitu tugas merencanakan, mengingat, mengatur jadwal, hingga mengantisipasi kebutuhan keluarga.

Menurut artikel Parents yang telah ditinjau oleh sosial klinis keluarga Michelle Felder, LCSW, MA, mental load adalah istilah untuk pekerjaan yang seringkali tidak disadari yang dilakukan orangtua ketika mereka mengambil sebagian besar pekerjaan rumah tangga. Hal ini dapat menyebabkan banyak rasa tidak senang dan distribusi pekerjaan rumah tangga yang tidak merata.

Jadi, bicarakan tentang beban mental dan emosional yang kamu tanggung, jujurlah tentang perasaanmu dan apa yang mengganggu. Alih-alih membuat daftar dan meminta pasangan memilih tugas-tugas tersebut, lebih baik tulis daftar tersebut bersama-sama dan diskusikan kekuatan dan kemampuan masing-masing.

3. Buat jadwal shift yang fleksibel sesuai kondisi keluarga

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Helena Lopes)

Tidak semua keluarga memiliki jadwal kerja yang sama. Karena itu, pembagian tugas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan. Ada yang membagi berdasarkan jam kerja, ada pula yang membagi berdasarkan hari tertentu.

Pasangan bisa secara aktif mendiskusikan pembagian pekerjaan rumah tangga untuk menemukan sistem yang sesuai dengan kebutuhan keluarga mereka. Proses negosiasi dan komunikasi menjadi faktor penting dalam menciptakan rasa adil.

"Hubungan berkualitas tinggi yang baik dibangun di atas komunikasi yang baik antara pasangan, rasa kebersamaan, dan pengambilan keputusan bersama,” kata Daniel Carlson.

Paling penting adalah kedua pihak merasa pembagian tugas tersebut masuk akal dan disepakati bersama. Fleksibilitas memungkinkan pasangan saling menggantikan ketika salah satu sedang menghadapi beban kerja atau kondisi tertentu.

 

4. Tentukan standar rumah tangga bersama

Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)
Ilustrasi orangtua dan anak (unsplash.com/Photo by Tamara Govedarovic)

Salah satu penyebab konflik yang sering muncul adalah perbedaan 'standar' atau ekspektasi mengenai pekerjaan rumah tangga. Misalnya apa yang dianggap 'cukup bersih' oleh satu orang belum tentu dianggap sama oleh pasangannya.

Persepsi ketidakadilan sering muncul bukan karena jumlah tugas yang berbeda. Tetapi karena perbedaan definisi mengenai kapan sebuah tugas harus dilakukan dan seberapa sering tugas tersebut perlu dikerjakan. Jadi, kesepakatan bersama mengenai standar pekerjaan dapat mengurangi konflik dan meningkatkan rasa keadilan dalam hubungan.

5. Evaluasi secara berkala dan berani mengubah sistem

Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ксения)
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Ксения)

Pembagian tugas yang berhasil tahun lalu belum tentu masih efektif hari ini. Anak bertambah besar, jadwal kerja berubah, dan kebutuhan keluarga terus berkembang. Karena itu, sistem split-shift parenting perlu dievaluasi secara berkala.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, persepsi keadilan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hubungan. Ketika salah satu pasangan merasa pembagian tugas tidak lagi adil, tentu ketidakpuasan dapat meningkat dan memengaruhi hubungan secara keseluruhan.

Daniel Carlson juga menemukan bahwa pasangan yang berbagi lebih banyak tugas bersama cenderung melaporkan hubungan yang lebih adil dan memuaskan. Artinya, evaluasi rutin bukan bertujuan mencari kesalahan pasangan, melainkan memastikan sistem yang diterapkan masih bekerja dengan baik bagi seluruh anggota keluarga.

Split-shift parenting bukan tentang menghitung siapa yang bekerja lebih banyak atau lebih sedikit. Tujuan utamanya adalah menciptakan kerja sama yang sehat sehingga tidak ada satu pihak yang terus-menerus merasa kelelahan atau terbebani.

 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

5 Tips Menata Ruang Terbatas untuk Menjamu Tamu, Perhatikan!

10 Jun 2026, 10:00 WIBLife