5 Tips Melalui Momen Lebaran untuk Anak Broken Home, Mudik Gak?

- Artikel ini membahas keresahan anak broken home saat Lebaran, terutama soal mudik dan kebingungan menentukan tempat pulang di tengah kondisi keluarga yang tidak harmonis.
- Diberikan lima pilihan sikap, mulai dari tetap mudik sebentar, mengunjungi saudara atau sahabat, hingga menikmati waktu sendiri di perantauan tanpa rasa bersalah.
- Pesan utamanya: kemenangan Idulfitri bukan ditentukan oleh tradisi mudik, melainkan keberhasilan beribadah dan berdamai dengan kenyataan keluarga yang berbeda.
Dunia ini selalu punya banyak sisi. Bahkan saat hampir semua orang berbahagia pasti ada orang lain yang justru bersedih. Termasuk di momen hari kemenangan bagi umat Islam yaitu Idulfitri. Ada beberapa orang yang malah bersedih dan cemas setiap Lebaran tiba.
Ini sama sekali bukan karena mereka tidak bersyukur sudah berhasil berpuasa Ramadan. Namun, ada hal-hal lain yang menggelisahkan. Misalnya, ketika orang-orang mudik. Pasti ada anak broken home yang menjadi bingung hendak pulang ke mana?
Ada orangtua. Akan tetapi, hubungan antara suami, istri, dan anak-anak sangat buruk. Tidak seperti keluarga lain yang kehangatan di rumah bertambah menjelang serta ketika Lebaran. Apakah kamu termasuk anak broken home yang cemas setiap menjelang Lebaran? Kami beri lima pilihan untukmu dapat melalui momen ini sebaik mungkin.
1. Tetap mudik ke rumah orangtua meski sebentar atau bergantian

Jika orangtua masih ada, tak ada salahnya untukmu pulang ke rumah. Walaupun hubungan keluarga biasanya kacau balau, suasana Lebaran mungkin mendorong semua orang untuk lebih menahan diri. Gak selama orang-orang mudik juga tak apa-apa.
Misalnya, kamu cuma 1 atau 2 hari di rumah kemudian kembali ke rantau. Begitu pula apabila orangtua sudah bercerai. Selama dirimu tahu tempat tinggal masing-masing dan mereka masih menganggapmu anak, datangi saja bergantian.
Seperti satu hari kamu di rumah ibu, kemudian satu hari lagi di rumah ayah. Dapat pula dirimu lebih lama di rumah orangtua yang paling membuatmu nyaman. Contoh, dua hari di rumah ibu yang meski agak sinis belum menikah lagi. Satu hari di rumah ayah yang telah menikah kembali dan kamu khawatir bikin keluarga barunya tidak nyaman.
2. Pulang ke rumah saudara yang kondusif dan menyayangimu

Situasi keluargamu bisa sangat buruk. Ayah dan ibu entah di mana selepas berpisah. Kamu ditinggalkan begitu saja. Gak ada kabar sama sekali. Jika pun pernah terjalin komunikasi justru sangat melukai.
Contoh, kamu diminta mengurus hidupmu sendiri dan tak usah mencari mereka. Pastinya ini cerita hidup yang menyakitkan sekali. Akan tetapi, jangan lantas kamu menutup mata pada saudara-saudara yang menyayangimu dan berusaha kasih yang terbaik buatmu.
Seperti kakek dan nenek yang akhirnya mengasuhmu selama kamu belum cukup umur. Ada pula saudara-saudara orangtuamu yang juga mengecam sikap mereka. Pintu rumah keluarga besar ini senantiasa terbuka untukmu. Kamu bisa mudik ke salah satunya daripada nelangsa di rantau sendirian.
3. Bila sahabat mengajakmu menginap di rumahnya juga bisa diterima

Situasi poin 1 dan 2 sudah buruk. Akan tetapi, masih ada keadaan keluarga yang lebih parah. Yaitu, tak seorang pun dalam keluarga inti maupun keluarga besarmu memperhatikanmu. Kamu mau pulang atau tidak terserah.
Selama ini mereka bahkan gak memedulikan kabarmu. Kamu seperti sendirian berjuang di tengah kerasnya hidup. Meski begitu, dirimu masih punya sahabat. Dia sangat tahu kondisi keluargamu.
Ia mengajakmu ikut mudik bersamanya. Bila dia gak merantau, kamu diajaknya menginap di rumah orangtuanya. Tentu ada perasaan gak enak kalau-kalau keberadaanmu mengganggu acara keluarganya.
Namun, ajakan lebih dari sekali dan terasa membujuk ialah tanda keseriusannya. Terlebih jika orangtuanya sampai menelepon buat meyakinkanmu bahwa kehadiranmu sama dinantikannya dengan kedatangan anak mereka. Mereka berusaha merengkuhmu dengan kasih sayang khas keluarga. Tugasmu hanya menyambutnya.
4. Menikmati waktu di kos-kosan dengan berbagai aktivitas

Jika pun poin 1 sampai 3 tidak bisa diterapkan dalam hidupmu, masih ada cara keempat. Kamu tak harus mudik ke mana pun. Berdiam diri di rantau dan sendirian di kos-kosan atau rumahmu juga tak apa-apa.
Pulang kampung jelang Idulfitri hanyalah tradisi. Bukan sesuatu yang wajib dilakukan dari segi agama. Kamu juga tak perlu bingung mau ngapain. Anggap saja hari Lebaran tidak terlalu berbeda dengan hari-hari lainnya.
Sebelum berangkat salat Id, kamu bisa sarapan dulu dengan menu apa pun yang mudah bagimu. Sepulang salat Id, dirimu dapat beres-beres kamar kos, bikin kopi, melakukan pekerjaan freelance-mu, atau menikmati hiburan. Agak siang, kamu sudah bisa main ke berbagai pusat perbelanjaan dan tempat wisata.
5. Bangun mindset kamu tetap meraih kemenangan walau gak kumpul keluarga

Tradisi yang sangat kuat memang terkadang menimbulkan beban mental yang besar jika kamu tidak ikut melakukannya. Termasuk mudik yang dilakukan oleh hampir semua perantau muslim di Indonesia. Jangankan perjalanan beberapa jam.
Total waktu tempuh sekian hari pun tak menyurutkan semangat mereka buat pulang ke kampung halaman. Bahkan ada pemudik yang naik angkot, becak, sepeda, dan sebagainya. Semua cara dilakukan demi mereka bisa berkumpul dengan keluarga.
Namun, lantaran kondisi keluargamu berbeda, milikilah cara berpikir yang meringankan beban psikismu. Yaitu, pada prinsipnya kemenanganmu di hari raya tidak ditentukan oleh kamu mudik atau gak, melainkan ibadah puasamu. Keadaan keluarga yang sangat tidak ideal juga bukan cita-citamu.
Dirimu bahkan korban dari rumah tangga yang tidak bahagia. Kemenanganmu dalam hidup bukan hanya karena kamu sudah berusaha beribadah sebaik mungkin selama Ramadan. Akan tetapi, juga kemenangan berdamai dengan kenyataan kondisi keluargamu lain dari keluarga pada umumnya.
Hidup tanpa hubungan keluarga yang harmonis adalah beban yang panjang. Bertahun-tahun dirimu merasakan ketidaknymanan setiap kali momen mudik. Ada rasa bingung, gelisah, dan takut. Mulai tahun ini jalani dengan lebih santai baik kamu mau mudik sebentar atau tidak ada tempat untuk pulang selain rumahmu sendiri.