Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Cara Membedakan Marketing Kreatif dan Iklan Bohong
ilustrasi iklan (unsplash.com/Joshua Earle)
  • Marketing kreatif dapat memakai hiperbola sebagai kiasan, tetapi manipulasi data klinis, statistik, atau ulasan palsu termasuk kebohongan yang menyesatkan konsumen.
  • Visual iklan boleh dipoles agar menarik selama bahan dasar dan porsi sesuai produk yang dijual; perbedaan ukuran atau isi yang drastis merupakan penipuan.
  • Janji emosional seperti rasa percaya diri masih wajar, sedangkan klaim fungsi medis atau teknis tanpa bukti dan izin edar adalah pembodohan konsumen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tergiur iklan yang menjanjikan wajah glowing dalam semalam mungkin pernah kamu alami. Sayangnya, iklan-iklan yang memberikan janji palsu ini semakin marak di era digital sekarang. Alhasil, kamu jadi bingung tentang batas tipis antara creative marketing dan lying to the public, kan?  

Kalau kamu terus-terusan kemakan trik iklan yang manipulatif, dompet makin menipis dan kamu makin skeptis pada semua brand yang ada. Nah, biar kamu gak gampang dikibulin dan bisa jadi konsumen cerdas, bedah bareng apa saja perbedaan cara marketing yang kreatif dan yang bohong di artikel ini!


1. Cek klaim hiperbola vs manipulasi data

ilustrasi minum kopi (pexels.com/Tan Danh)

Strategi pemasaran emang sering pakai majas hiperbola biar pesannya lebih menancap di kepala audiens. Misalnya, iklan kopi hitam yang membuat orang melek seminggu, itu jelas cuma bahasa kiasan untuk menggambarkan efek kafein yang kuat. Audiens yang cerdas pasti tahu kalau itu cuma trik kreatif tanpa niatan menipu soal komposisi asli produknya. 

Namun, ceritanya bakal beda jauh kalau sebuah brand sengaja mengubah persentase data statistik demi meyakinkan pembeli, lho. Memanipulasi data klinis atau membuat review palsu itu murni kebohongan, bukan lagi sekadar trik marketing yang wajar. Bayangkan saja, kamu beli suplemen otot yang katanya "terbukti 99 persen menaikkan massa otot dalam seminggu", padahal riset aslinya cuma diuji ke tiga ekor tikus lab. Bukannya jadi kekar berotot, yang ada ginjal kamu malah teriak minta ampun, deh.


2. Perhatikan visual produk vs realita

ilustrasi mengambil foto makanan untuk bahan iklan (pexels.com/Alexy Almond)

Visual produk yang menggugah selera atau terlihat estetik memang jadi daya tarik utama dalam dunia periklanan modern. Wajar kalau fotografer makanan pakai pencahayaan khusus atau trik styling biar burger kelihatan lebih tebal dan menggoda selera. Proses mempercantik tampilan ini masih masuk akal selama bahan dasar dan porsi yang difoto sesuai dengan apa yang nantinya dijual ke konsumen. 

Eits, semua itu langsung berubah status menjadi penipuan publik saat ukuran aslinya dipangkas hingga setengah dari yang diiklankan. Di layar HP, potongan daging sapi panggangnya kelihatan tebal tumpah-tumpah, tapi pas datang malah mirip irisan tipis bawang merah. Kalau kamu menemukan kasus begini, mending kasih rating jujur saja agar bisa menyelamatkan calon pelanggan lainnya, ya.


3. Pahami janji emosional vs janji fungsional

ilustrasi iklam parfum (pexels.com/Laura Chouette)

Brand yang keren biasanya menjual feeling atau gaya hidup, bukan cuma sekadar jualan fitur barang mentahan. Contohnya, iklan parfum yang menjanjikan kamu bakal tampil lebih percaya diri saat kencan pertama. Klaim emosional seperti ini sangat sah karena kepercayaan diri memang bisa tumbuh ketika tubuh kamu wangi dan terawat. Akan tetapi, kalau parfum itu mengklaim bisa menyembuhkan penyakit kulit tertentu tanpa izin edar medis, itu jelas pelanggaran serius.

Janji fungsional yang gak terbukti secara medis atau teknis adalah bentuk pembodohan konsumen yang gak bisa ditoleransi. Jangan sampai kamu mengoleskan minyak wangi ke luka bakar cuma karena terhasut iklan dari influencer, ya.

Menjadi konsumen yang kritis itu wajib dilakukan untuk menghadapi batas tipis antara creative marketing dan lying to the public di era modern ini. Jangan mudah lapar mata, tetaplah jadi orang yang cerdas dalam memilih produk yang benar-benar berintegritas. Yuk, mulai sekarang lebih teliti dan smart lagi sebelum check-out keranjang belanjaanmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article